TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Para lansia di Kabupaten Bulungan membuktikan usia bukan batas untuk tetap aktif. Hal itu terlihat dalam peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Pura Agung Jagat Benuanta, Tanjung Selor, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang digagas Sekolah Lansia Berlian tersebut diisi dengan lomba busana kebaya nasional dan fashion show yang khusus diikuti peserta berusia di atas 60 tahun. Mengusung tema “Lansia Sehat, Mandiri untuk Indonesia Berdaya”, acara berlangsung meriah dengan dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI), Yayasan Sekolah Lansia Berlian, serta Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kalimantan Utara.
Peringatan HLUN sendiri diperingati setiap 29 Mei. Namun di Bulungan, kegiatan baru dapat dilaksanakan pada Juni karena bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.
Bupati Bulungan, Syarwani, yang turut hadir, menyampaikan apresiasi atas semangat para lansia yang tetap aktif di tengah keterbatasan usia. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berkontribusi.
“Ini menjadi pesan bagi generasi muda bahwa usia lanjut tidak menghalangi seseorang untuk tetap berkreativitas dan produktif,” ujar Syarwani.
Ia menambahkan, berbagai aktivitas lansia yang selama ini berjalan, seperti kegiatan Posyandu Lansia Berlian hingga aktivitas rutin di Tepian Sungai Kayan, merupakan contoh nyata peran aktif lansia dalam kehidupan sosial.
“Semangat para orang tua kita di PWRI, Posyandu Lansia, dan organisasi lainnya bisa menjadi teladan bagi generasi muda di Bulungan,” katanya.
Syarwani juga mengajak masyarakat untuk terus menghormati dan menghargai para lansia, khususnya mereka yang telah berkontribusi dalam pembangunan daerah.
“Mereka adalah bagian penting dari perjalanan pembangunan Bulungan. Sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan atas pengabdian mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Yayasan Sekolah Lansia Berlian, drg. I.B. Komang Sidharahardja, MPH, menjelaskan bahwa Sekolah Lansia Berlian merupakan program nonformal yang baru dibentuk pada Mei 2026.
Program ini dirancang untuk memberikan pembelajaran berbasis tujuh dimensi kehidupan lansia, mencakup aspek kesehatan, pendidikan, sosial, spiritual, hingga pengembangan keterampilan.
“Kami ingin menghadirkan ruang belajar bagi lansia agar tetap sehat, aktif, dan mandiri,” ujar Komang.
Saat ini, Sekolah Lansia Berlian menampung 30 peserta untuk angkatan pertama. Peserta merupakan lansia berusia di atas 60 tahun dengan kondisi kesehatan yang memungkinkan mengikuti kegiatan.

“Minat masyarakat cukup tinggi, namun karena keterbatasan kapasitas, sementara kami batasi 30 peserta. Ke depan, peluang untuk membuka angkatan baru sangat terbuka,” jelasnya.
Program pembelajaran berlangsung selama satu semester dan akan ditutup dengan prosesi wisuda. Meski disebut sekolah, konsep yang diterapkan berbeda dari pendidikan formal.
“Tidak ada ujian seperti di sekolah formal. Saat ini peserta masih di tahap awal atau Standar 1. Nantinya akan berlanjut ke Standar 2 dan 3 yang lebih menekankan pada kemandirian dan keterampilan,” terangnya.
Melalui kegiatan ini, para lansia tidak hanya mendapatkan ruang untuk bersosialisasi dan menjaga kesehatan, tetapi juga menunjukkan bahwa usia bukan batas untuk tetap berkarya dan memberi inspirasi bagi generasi berikutnya.(**)














Discussion about this post