MENGAMBIL keputusan sebagai kepala daerah mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian Ibrahim Ali. Namun, ada satu keputusan yang menghadirkan perasaan berbeda.
Heri Aidil Ismail – Fokusborneo.com
Hari itu, Bupati Tana Tidung dua periode tersebut mengantar putri sulungnya, Fatimah Azhara, memasuki Pondok Pesantren Thursina Islamic International Boarding School (IIBS), Malang.
Di hadapan gerbang pesantren, jabatan yang selama ini melekat seolah ditanggalkan. Ia datang bukan sebagai kepala daerah, melainkan sebagai seorang ayah yang mengantarkan buah hatinya memulai perjalanan menuntut ilmu.
Didampingi sang istri, Vamelia Ibrahim Ali, anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara dengan perolehan suara terbanyak di daerah pemilihan Bulungan–Tana Tidung, Ibrahim membaur bersama ribuan orang tua yang mengantar anak-anak mereka menjadi santri baru.
Tak ada perlakuan khusus. Mereka berjalan di tengah keramaian, mengantre bersama para wali santri lain, sambil membawa harapan yang sama agar anak-anak mereka memperoleh pendidikan terbaik.
Bagi keluarga Ibrahim Ali, keputusan menyekolahkan Fatimah Azhara di pesantren merupakan ikhtiar untuk membekali sang putri dengan ilmu agama, akhlak, dan kemandirian. Bekal itu diyakini akan menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, di samping pendidikan formal yang ditempuh di lingkungan pesantren.
Pilihan itu jatuh kepada Pondok Pesantren Thursina Islamic International Boarding School (IIBS) yang berlokasi di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Pesantren modern berbasis boarding school tersebut mengintegrasikan pendidikan agama Islam, kurikulum akademik, pembinaan karakter, serta kemandirian melalui kehidupan berasrama.
Lingkungan belajar yang kondusif dan pembinaan karakter menjadi salah satu daya tarik bagi para orang tua yang ingin memberikan bekal pendidikan sekaligus nilai-nilai keislaman kepada anak-anak mereka.
Momen perpisahan pun menjadi bagian yang paling mengharukan. Fatimah Azhara bergantian memeluk sang ibu dan ayahnya. Tangisnya pecah ketika menyadari ia akan memulai kehidupan baru, jauh dari rumah dan keluarga.
Ibrahim Ali berusaha tetap tegar. Sambil memeluk putrinya, ia menyampaikan pesan yang telah lama ia siapkan sebagai bekal perjalanan sang anak.
“Ayah mengirimmu ke pesantren bukan karena Ayah tidak sayang, atau karena ingin membuangmu. Justru karena Ayah sangat menyayangimu. Ayah ingin membekalimu dengan sesuatu yang tidak akan pernah bisa disita oleh siapa pun atau habis dimakan waktu, yaitu ilmu agama dan akhlak yang mulia,” ucapnya.
Pesan itu menjadi penegas bagi seorang ayah, pendidikan bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadian.
Sebelum melepas putrinya melangkah menuju asrama, Ibrahim kembali mengecup kening Fatimah Azhara. Dengan suara lirih, ia menitipkan harapan agar sang putri memanfaatkan kesempatan belajar sebaik mungkin.
“Belajar yang rajin ya, Nak. Jaga salatmu, hormati gurumu. Kelak jadilah menara suar yang menerangi masyarakat dengan ilmumu,” pesannya.
Perlahan, Fatimah Azhara berjalan menuju lingkungan pesantren bersama santri baru lainnya. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat kedua orang tuanya yang masih berdiri di tempat semula.
Bagi Ibrahim Ali dan Vamelia, melepas putri sulung untuk tinggal di pesantren bukan perkara mudah. Namun, keduanya percaya setiap proses pendidikan membutuhkan pengorbanan, termasuk belajar merelakan anak menjalani kehidupan yang lebih mandiri.
Pesantren menjadi tempat baru bagi Fatimah Azhara untuk belajar tidak hanya tentang ilmu agama, tetapi juga kedisiplinan, tanggung jawab, dan kehidupan bersama dalam lingkungan yang membentuk karakter.
Di balik kesibukan memimpin daerah dan menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Ibrahim Ali dan Vamelia menunjukkan mereka juga menjalani peran yang sama seperti orang tua lainnya: mengantar anak menuju masa depan dengan doa, harapan, dan keikhlasan.
Bagi keduanya, jabatan adalah amanah yang memiliki batas waktu. Sementara ilmu, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada anak diyakini akan menjadi bekal yang terus menyertai sepanjang hayat.
“Tidak ada orang tua yang tidak merasa berat melepas anaknya. Tapi kami percaya, setiap proses yang dijalani di pesantren akan membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, karena doa kami akan selalu menyertaimu,” katanya.
Perjalanan Fatimah Azhara sebagai santriwati pun kini dimulai. Dari balik gerbang pesantren, langkah kecil itu membawa harapan besar, bukan hanya bagi kedua orang tuanya, tetapi juga bagi masa depan yang sedang ia persiapkan melalui ilmu, akhlak, dan ketekunan dalam belajar.













Discussion about this post