BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Level Waduk Manggar mulai turun setelah Balikpapan tidak diguyur hujan selama sekitar dua pekan. Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mencatat ketinggian muka air waduk kini berada di angka 9,5 meter, dari kondisi yang biasanya mencapai sekitar 12 meter.
Direktur Utama PTMB Dr. Yudhi Saharuddin, S.E., M.M. mengatakan, penurunan tersebut belum mengganggu pengambilan air baku. Hingga Agustus, debit air yang masih dapat diambil PTMB berada di kisaran 1.000 liter per detik.
“Sekarang memang sudah turun, 9,5 meter. Tapi masih aman untuk pengambilan. Kita masih bisa mengambil sekitar 1.000 liter per detik,” kata Yudhi.
Menurut dia, PTMB telah menggunakan pola pengambilan air yang disusun Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai acuan menghadapi kondisi waduk yang terus menyusut.
Skema tersebut memperhitungkan kemampuan waduk apabila hujan belum kembali turun dalam beberapa bulan ke depan.
Yudhi menyebut pengambilan air masih diproyeksikan dapat berjalan hingga Desember. Namun, debit pengambilan tidak bisa dipertahankan pada tingkat normal apabila kondisi tanpa hujan terus berlangsung.
“Kalau tidak ada hujan, nanti pengambilannya kita sesuaikan. Dari biasanya sekitar 1.150 liter per detik, bisa turun sampai 75 persen dari pengambilan normal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi waduk belum mendekati batas terendah yang membuat pengambilan air harus dihentikan. Setelah pengerukan waduk, kapasitas tampungan juga dinilai lebih baik dibanding sebelumnya.
Batas dead storage Waduk Manggar sebelumnya berada di kisaran 5 sampai 6 meter. Dengan posisi muka air saat ini yang masih 9,5 meter, ruang tampungan untuk menghadapi penurunan lebih lanjut masih tersedia.
“Kalau sampai dead storage masih lumayan. Dulu sekitar 5 sampai 6 meter itu sudah masuk dead storage. Sekarang kan sudah dikeruk juga, jadi kondisinya lebih baik,” jelasnya.
PTMB tetap memantau perubahan muka air secara berkala karena pola cuaca menjadi faktor penting dalam menentukan besaran pengambilan. Pengalaman menghadapi kondisi kekeringan pada 2024 juga menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur pola operasi tahun ini.
Yudhi berharap kondisi 2026 tidak berkembang seperti kekeringan sebelumnya. Selama muka air masih berada pada batas operasi yang aman dan pengambilan disesuaikan dengan kondisi waduk, pasokan air baku masih dapat dipertahankan.
“Mudah-mudahan 2026 ini bisa kita lewati dengan aman. Kita belajar dari pengalaman 2024, jadi pola pengambilannya juga harus kita jaga,” pungkasnya. (oc)















Discussion about this post