TARAKAN, Fokusborneo.com – Perekonomian Kota Tarakan pada Triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,77 persen (year-on-year / y-on-y) dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, 7 Septembe 2026, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) Kota Tarakan tercatat mencapai Rp16,20 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 berada di angka Rp7,38 triliun.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter / q-to-q), ekonomi Tarakan tumbuh 2,04 persen jika dibandingkan dengan Triwulan I-2026.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menjelaskan jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year), pertumbuhan ekonomi Tarakan tetap terjaga positif.
“Kalau bicara pertumbuhan ekonomi di Kota Tarakan triwulan dua, tercatat untuk year-on-year nya itu di posisi 4,77 persen. Jadi kalau dibandingkan dengan posisi triwulan kedua tahun 2025 seperti itu gambarannya,” ujar Umar Riyadi, Senin (14/9/26).
Dilihat dari sisi lapangan usaha secara year-on-year, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor Jasa Perusahaan sebesar 11,56 persen, disusul Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 11,14 persen. Namun, terdapat beberapa sektor yang mengalami kontraksi.
“Faktornya di antaranya ada beberapa komponen yang menunjukkan kontraksi, di antaranya sektor Pertambangan dan Penggalian yang mengalami kontraksi paling tinggi di 2,96 persen, kemudian diikuti oleh Konstruksi di 2,07 persen,” jelas Umar.
Sementara itu, sektor utama yang memegang porsi terbesar dalam PDRB Kota Tarakan adalah sektor Perdagangan Besar dan Eceran dengan kontribusi sebesar 27,63 persen dan tumbuh 8,82 persen (y-on-y).
Sektor lain yang turut menopang perekonomian Tarakan meliputi Transportasi dan Pergudangan (14,74 persen), Konstruksi (13,79 persen), Industri Pengolahan (10,67 persen), serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (10,38 persen).
Terkait angka pertumbuhan Triwulan I-2026 yang sempat berada di angka 5,26 persen (y-on-y), Umar mengingatkan agar masyarakat atau pengambil kebijakan tidak langsung menyimpulkan terjadi penurunan kinerja tanpa melihat karakteristik antar-periode secara utuh.
“Ketika bicara data ini, tidak bisa langsung ‘oh ini turun’, tidak. Jadi kalau mau lihatnya itu sama-sama dibandingkan dengan triwulan kedua juga,” tegasnya.
Ia menambahkan tingginya pertumbuhan pada Triwulan I dipicu oleh momen musiman seperti Hari Raya Keagamaan dan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).
“Triwulan satu kok tinggi di 5,26 persen, itu salah satunya memang adanya insentif berupa THR karena ada momentum Lebaran. Sehingga terjadi proses transfer dari pemerintah maupun perusahaan ke karyawan yang men-trigger daya beli dari sisi konsumsi,” papar Umar.
Menyoroti potensi lokal, sektor perikanan yang masuk dalam kelompok Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang sebesar 10,38 persen terhadap perekonomian Tarakan dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.
Umar menyarankan agar pemerintah daerah dan pelaku usaha tidak lagi mengandalkan penjualan komoditas hasil laut secara mentah, melainkan mendorong hilirisasi di sektor industri pengolahan.
“Bagaimana kemudian perikanan ini tidak semata-mata dijual dalam bentuk hasil mentah, tapi ditingkatkan nilai tambahnya ke sektor industri pengolahan. Apalagi komoditas seperti rumput laut harganya sedang baik, ini bisa jadi trigger pendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Umar.
Ia juga menilai masuknya investasi pabrik pengolahan di Tarakan akan memberikan dampak berantai (multiplier effect) bagi perekonomian lokal.
“Adanya investasi seperti pabrik pengolahan kayu atau smelter yang ada di Kota Tarakan mesti akan memberikan nilai tambah baru. Ditambah dengan rekrutmen karyawan yang akan men-trigger pasar baru dan berdampak pada peningkatan konsumsi di Kota Tarakan,” lanjutnya.
Secara regional, Kota Tarakan masih menjadi penyumbang terbesar bagi perekonomian Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
Pada Triwulan II-2026, Tarakan berkontribusi sebesar 39,99 persen terhadap total PDRB Kaltara, diikuti Kabupaten Nunukan (28,63 persen) dan Kabupaten Bulungan (19,03 persen).
Secara keseluruhan, ekonomi Provinsi Kaltara pada triwulan ini tumbuh sebesar 4,96 persen.(*/mt)














Discussion about this post