TARAKAN, Fokusborneo.com – Pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 13,26 persen per September 2026 menunjukkan tren positif yang menggembirakan bagi perekonomian Indonesia, melampaui pertumbuhan tahun sebelumnya yang berada di angka 7,7 persen.
Namun di balik optimisme tersebut, perbankan nasional perlu mewaspadai potensi risiko kredit, khususnya pada sektor industri yang berisiko menekan stabilitas nilai tukar rupiah.
Hal tersebut diungkapkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Borneo Tarakan (UBT) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua ISEI Kaltara, Dr. Margiyono.
Ia menyoroti dominasi kredit korporasi dan komersial yang menjadi motor penggerak utama, namun di sisi lain sektor industri memerlukan mitigasi risiko yang ketat.
“Kredit industri memiliki potensi risiko tersendiri. Jika kredit ini masuk ke sektor industri, harus dipastikan bahwa industri tersebut menggunakan bahan baku yang berorientasi lokal atau non-impor,” ujar Dr. Margiyono, Sabtu (31/10/26).
Menurutnya, apabila industri yang menyerap kredit besar masih bergantung pada bahan baku impor untuk menambah kapasitas produksi, hal ini justru berpotensi melemahkan rupiah.
Peningkatan kapasitas produksi yang berbasis impor akan menaikkan volume pembelian dolar, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga dolar dan menekan nilai tukar rupiah akibat tekanan capital outflow.
Oleh karena itu, Bank Indonesia dan perbankan nasional didorong untuk lebih berhati-hati serta selektif dalam mengendalikan penyaluran kredit pada sektor-sektor yang berpotensi mendorong kenaikan impor.
Selain memperketat mitigasi risiko pada kredit industri berorientasi impor, Dr. Margiyono juga menyoroti pentingnya mendorong pertumbuhan kredit di sektor pertanian.
Berdasarkan data Departemen Makroprudensial Bank Indonesia, pertumbuhan kredit pertanian per September 2026 tercatat tumbuh sekitar 7,8 persen.
Meskipun angka ini lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang sebesar 3,96 persen, porsinya masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan kredit nasional. Padahal, penguatan kredit pertanian memiliki multiplier effect yang sangat strategis bagi ketahanan pangan nasional.
”Jika kredit pertanian meningkat, maka produktivitas pangan akan naik, sehingga terjadi surplus pangan. Hal ini akan memperkuat ketersediaan, ketahanan, dan stabilitas harga pangan, yang pada akhirnya menjaga stabilitas inflasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, peningkatan kredit di sektor pertanian dinilai sangat pro-terhadap stabilitas rupiah. Berbeda dengan industri yang kerap mendongkrak impor bahan baku, pertumbuhan sektor pertanian justru akan menekan impor bahan baku industri dan memperkuat fundamental nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Margiyono berharap perbankan nasional dapat menyeimbangkan strategi penyaluran pembiayaannya tidak hanya menggenjot sektor korporasi dan industri secara agresif, tetapi juga memberikan porsi lebih besar dan terarah bagi sektor produktif seperti pertanian guna memperkuat kemandirian ekonomi nasional.(*/mt)















Discussion about this post