TANA TIDUNG – Pemerintah dan masyarakat Kecamatan Tana Lia menyambut baik pelaksanaan program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di wilayah mereka. Program ini dinilai tidak hanya berfokus pada rehabilitasi dan pelestarian ekosistem mangrove, tetapi juga mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Hal tersebut diungkapkan oleh Camat Tana Lia, Arbain Padilah, dalam acara Media Gathering M4CR Kalimantan Utara yang diselenggarakan di Kecamatan Tana Lia, Selasa (3/11/2026). Arbain menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat datang kepada seluruh tim M4CR serta jajaran tamu undangan yang hadir dari luar daerah.
“Kami menyambut baik program InfoCekar ini, yang tidak hanya berfokus pada rehabilitasi dan pelestarian mangrove, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya di Kecamatan Tana Lia,” ujar Arbain Padilah.
Sebagai wilayah terjauh di Kabupaten Tana Tidung yang terpisah pulau dari pusat pemerintahan kabupaten, Kecamatan Tana Lia memiliki sejarah panjang kemaritiman dengan mayoritas penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Oleh karena itu, kehadiran program M4CR sangat didukung karena berkaitan langsung dengan upaya menjaga habitat ikan, udang, kepiting, dan biota lainnya.
“Kegiatan ini sangat didukung dan support dari masyarakat, mengingat ini salah satu upaya dalam menjaga habitat ikan, udang, kepiting dan lain sebagainya yang menjadi objek mata pencaharian sebagian masyarakat nelayan di Kecamatan Tana Lia,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, program penanaman M4CR di Kecamatan Tana Lia telah mencakup 7 kelompok dengan luas sekitar 1.047 hektare pada tahun 2024, serta dilanjutkan pada 9 kelompok seluas 563 hektare pada tahun 2026. Sejumlah kelompok penanaman tahun 2024 juga melanjutkan pemeliharaan tahap satu, termasuk program matching grant batch 1 tahun 2026 untuk budidaya udang windu dan bandeng. Selain itu, dilakukan penyerahan simbolis kepada UMKM pengolahan kerang (stick to day) dan kelompok peternak budidaya ayam telur.
Dukungan serupa juga disampaikan oleh Pemangku Adat Kecamatan Tana Lia, Ujang Syahrin (Tengku Haji Syahri). Dalam kesempatan yang sama, Ujang Syahrin memaparkan sejarah singkat wilayahnya yang dahulu dikenal dengan nama Pulau Mandul yang memiliki arti pulau subur serta pentingnya menjaga kelestarian alam demi kelangsungan hidup masyarakat adat dan lokal di Tana Lia.
“Di Tana Lia ini sejarahnya adalah nama pulaunya Pulau Mandul… Pada zaman dahulu kala, pulau ini adalah nama Pulau Mandul, dinamakan Pulau Mandul ada artinya Pulau Subur,” ungkap Ujang Syahrin.
Ujang Syahrin juga menjelaskan bahwa wilayah Kecamatan Tana Lia saat ini terbagi menjadi lima desa, yakni Desa Tanah Merah (yang dipecah menjadi Tanah Merah Barat), Desa Sambungan, Desa Tana Selatan, dan Desa Tana Kradij. Dengan jumlah penduduk di kisaran 6.000 hingga 8.000 jiwa yang mayoritas beragama Islam serta bermata pencaharian sebagai nelayan, peran lembaga adat dan masyarakat sangat kuat dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan.
Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga adat, kelompok masyarakat, dan program M4CR, diharapkan upaya pemulihan ekosistem mangrove di Kalimantan Utara dapat berjalan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. (**)














Discussion about this post