TARAKAN — Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan terus memacu langkah untuk memperkuat ekosistem inovasi di daerah. Meski saat ini telah berhasil menyabet predikat sebagai daerah “Inovatif”, Pemkot Tarakan tidak berpuas diri. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang), Pemkot Tarakan membidik target lebih tinggi yakni meraih predikat “Sangat Inovatif”.
Tidak hanya itu, tahun kedua ini inovasi yang dihasilkan fiharapkan dapat menembus panggung nasional dalam ajang Innovative Government Award (IGA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Dalam Negeri.
Kepala Bappeda Litbang Kota Tarakan, Dr. Catur Hendratmo, menjelaskan bahwa tingkat kematangan inovasi menjadi kunci utama untuk melangkah ke level yang lebih tinggi.
Menurutnya, status daerah inovatif yang sudah diraih saat ini perlu ditopang dengan kuantitas dan kualitas inovasi yang bergerak secara masif di seluruh lini Pemkot maupun masyarakat.
”Untuk kategori daerah inovatif, kita secara kriteria sudah masuk. Namun, untuk menjadi daerah yang sangat inovatif, jumlah dan kematangan inovasi-inovasi yang lahir di daerah harus jauh lebih banyak dan berdampak nyata. Karena itu, kematangan inovasi ini yang terus kita dorong agar nantinya siap kita ikutsertakan dalam ajang IGA,” ujar Dr. Catur Hendratmo.
Sebagai langkah konkret meningkatkan kematangan dan kualitas karya inovasi, Bappeda Litbang Kota Tarakan kembali menggelar Lomba Inovasi Daerah yang memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Agenda ini dijadwalkan mulai bergulir pada bulan Agustus (Triwulan III) hingga Triwulan IV.
Tak main-main dalam menjaga bobot dan kredibilitas penilaian, Pemkot Tarakan kembali menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai tim juri independen. Pelibatan lembaga riset negara ini terbukti memberikan dampak signifikan pada kualitas pembinaan inovasi daerah.
”Alhamdulillah, kita didampingi langsung oleh BRIN sebagai dewan juri. Kehadiran BRIN memberikan banyak pengkayaan dan masukan substansial bagi para peserta. Hal ini sangat membantu kami dalam memperbaiki proses-proses perencanaan dan pelaksanaan inovasi sejak tahap awal, sehingga inovasi yang lahir semakin berkualitas,” tambah Dr. Catur. (**)















Discussion about this post