BALIKPAPAN, – Kelurahan Gunung Sari Ulu (GSU) bekerja sama dengan Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Indonesia menyelenggarakan pelatihan pembuatan konten di media sosial bagi Kelompok Disabilitas Kelurahan (KDK).
Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan GSU, Dwi Puspa Ningrum, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan yang memang khusus penyandang disabilitas ini. Menurutnya, di era digital saat ini sudah menjadi hal nyata bahwa media sosial menjadi alat yang sangat efektif untuk menyampaikan pesan dan membangun mengembangkan usaha.
Hanya saja, akses dan keterampilan dalam mengelola konten digital masih menjadi tantangan bagi banyak penyandang disabilitas.
“Dengan adanya kegiatan kegiatan KDK melalui SIGAB Indonesia ini, bisa menciptakan kelurahan yang inklusi. Kita memang membutuhkan wadah dan sarana pemberdayaan warga difabel seperti melalui kegiatan ini,†ungkapnya.
Dwi berharap, melalui kolaborasi yang dilakukan bisa menjadi salah satu upaya peningkatan kesejahteraan, kapasitas, dan daya saing penyandang disabilitas. Khususnya yang berada di Kelurahan Gunung Sari Ulu bisa terus terasah dan berjalan dengan baik.
“Pelatihan ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga membuka peluang bagi peserta untuk berkolaborasi, berjejaring, dan bahkan mengembangkan usaha mandiri melalui media sosial,†ungkapnya.
Sementara itu, Lily Handayani, Project Officer Program SOLIDER SIGAB PPDI Provinsi Kalimantan Timur menambahkan, pelatihan yang dilakukan merupakan salah satu upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing penyandang disabilitas. Selain itu juga bertujuan untuk memberdayakan penyandang disabilitas memanfaatkan platform digital.
“Sehingga para penyandang disabilitas ini bisa mengekspresikan kreativitas, menyuarakan hak-hak disabilitas, dan membangun jejaring sosial yang inklusif,†tuturnya.
Ia menambahkan, KDK ini dibentuk atas inisiatif dari program SOLIDER SIGAB Indonesia yang merupakan sebuah program kemitraan Inklusi kemitraan Indonesia dan Australia, hingga Desember 2025.
KDK juga rutin menggelar rapat untuk membahas tentang pelatihan atau kegiatan apa saja yang diinginkan para anggota, permasalahan yang dihadapi, hingga perkembangan dunia disabilitas di tingkat kota.
“Tidak hanya pelatihan pembuatan konten di media sosial, kami juga melakukan kegiatan lainnya yang dibutuhkan menyasar pada peningkatan kapasitas anggota. Misalnya public speaking, konten kreator, sampai pada pelatihan kewirausahaan kepada penyandang disabilitas ini,†ungkapnya.
Ia mengungkapkan, ada sekitar 15 sampai 30 orang yang merupakan anggota dalam KDK Gunung Sari Ulu. Seluruhnya juga menginginkan menjadi organisasi kemasyarakatan yang legal di tingkat kelurahan seperti halnya Karang Taruna, PKK yang dapat anggaran dari pemerintah.
Terlebih lagi, banyak kegiatian yang sudah dilaksanakan KDK Gunung Sari Ulu yang tujuannya untuk melatih dan meningkatkan kepercayaan diri.
“Kalau tahun lalu public speaking untuk belajar bicara didepan umum, kali ini mereka belajar membuat video konten sendiri yang bisa dilakukan mandiri,†pungkasnya. (*)














Discussion about this post