TARAKAN, Fokusborneo.com – Kualitas bibit menjadi faktor penentu utama dalam keberhasilan budidaya kelapa sawit.
Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kalimantan Utara (Kaltara), Muhammad Khoiruddin, menegaskan petani tidak boleh sembarang dalam memilih bibit jika ingin mendapatkan hasil produksi yang maksimal.
Khoiruddin menyoroti fenomena replanting (peremajaan) yang kini mulai marak di Kabupaten Nunukan. Menurutnya, banyak kebun yang harus diremajakan lebih awal karena kesalahan di masa lalu, yakni penggunaan bibit yang tidak jelas asal-usulnya.
”Faktanya, bibit sulit didapat di Kaltara. Di Nunukan, banyak petani melakukan replanting karena dulu menggunakan bibit ‘asal comot’ atau mengambil bibit di bawah pohon induk. Padahal, bibit unggul harus memiliki sertifikat label biru dan setiap bijinya dilengkapi dengan barcode,” jelas Khoiruddin, Minggu (11/1/26).
Salah satu alasan minimnya penggunaan bibit unggul di Kaltara adalah sulitnya akses pengadaan. Saat ini, penyedia bibit bersertifikat di Indonesia hanya berjumlah sekitar 13 perusahaan yang mayoritas berlokasi di Sumatra.
Sistem pembeliannya pun bersifat made by order dengan prosedur yang ketat dimana bibit diproduksi sesuai nama pemesan dan lokasi lahan yang spesifik.
Selain itu, pemesan wajib menyertakan sertifikat tanah dan surat pendukung lainnya. Belum adanya penangkar resmi di Kaltara, juga membuat proses pengiriman dari luar pulau menjadi satu-satunya jalan.
Ketiadaan penangkaran lokal juga menghambat program bantuan bibit dari pemerintah daerah. Syarat pengadaan pemerintah mewajibkan bibit berlabel biru dan sudah berusia minimal 8 bulan (siap tanam).
”Inilah mengapa pengadaan bibit oleh pemerintah di Kaltara sering menemui jalan buntu. Tanpa adanya penangkar lokal yang mengantongi izin dari Balai di Samarinda, akses terhadap bibit bersertifikat sangat terbatas,” tambahnya.
Khoiruddin mengingatkan kelapa sawit adalah komoditas jangka panjang dengan masa produktif lebih dari 25 tahun. Kesalahan memilih bibit di awal akan berdampak fatal pada ekonomi petani di masa depan.
“Salah satunya harus menunggu 3 tahun masa tanam hingga panen hanya untuk mendapati buah tidak produktif. Selain itu, pupuk dan perawatan terbuang sia-sia pada tanaman berkualitas rendah,” ujarnya.
Persolan lainnya, potensi lahan terbuang karena pohon tidak menghasilkan buah secara optimal.
Ke depannya, industri sawit akan semakin modern. Setiap titik tanam akan terpantau secara digital untuk memastikan kemitraan antara perusahaan dan petani berjalan transparan.(*/mt)















Discussion about this post