TARAKAN – Dengan berbagai tantangan geografis Kalimantan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS) Ketenagakerjaan terus genjot kepesertaan pada tahun 2026 melalui berbagai upaya.
Ken Maharani, Wakil Kepala Digitalisasi Human Capital dan Asset BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan menjelaskan, data tahun 2025 total coverage baru mencapai 41,30 persen atau total.oeserta 3.302.762 dari total Penduduk Bekerja 7.996.826 (tidak menghitung ASN, Polri, TNI), sehingga total Belum Peserta (Gap) mencapai 4.694.064.
Sementara khusus di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) total kepesertaan aktif tahun 2025 mencapai 156.153 atau 46,78 persen. Sementara potensi Sarkernas di Kaltara sebanyak 33.795 sehingga ada Gap (belum peserta) mencapai 177.642.
Ken Maharani, Wakil Kepala Digitalisasi Human Capital dan Asset BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan menjelaskan, berdasarkan data tersebut masih terdapat kesenjangan antara target kepesertaan dengan realisasi di lapangan.
Menurutnya, masyarakat terkadang menganggap BPJS Ketenagakerjaan sama dengan BPJS Kesehatan, dan sebagian perusahaan belum mendaftarkan karyawannya.
“Ada gap yang cukup besar, banyak faktornya. Selain kondisi geografis yang luas, ada juga faktor edukasi masyarakat yang belum merata, dan beberapa perusahaan belum mendaftarkan pekerjanya,” kata Ken dalam kegiatan Media Gathering BPJS Ketenagakerjaan, Memperkuat Literasi Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Wilayah Kalimantan Utara di Tarakan, Selasa (3/3/2026).
Untuk menutup kesenjangan ini, Kantor Wilayah melakukan sosialisasi intensif yang mereka sebut sebagai “perang udara”. Strategi ini memanfaatkan berbagai platform digital, mulai dari Instagram, Facebook, hingga TikTok, dengan konten video yang dibuat khusus dan diseragamkan untuk seluruh kantor cabang.
Setiap bulan, kampanye diberi tema spesifik, misalnya bulan Februari fokus pada Jaminan Kematian (JKM), dan bulan Maret diarahkan pada kewajiban perusahaan membayar tunjangan hari raya atau iuran BPJS Ketenagakerjaan.
“Kampanye digital ini dilakukan terus-menerus, tanpa mengenal waktu. Tujuannya agar pesan tersampaikan merata, masyarakat paham, dan perusahaan termotivasi untuk patuh,” tambahnya.
Selain kampanye digital, Ken menyebut strategi lainnya adalah kegiatan informal dan kerja sama dengan media massa. Kegiatan ini membantu menyebarkan informasi, sekaligus memberikan edukasi praktis kepada masyarakat dan perusahaan tentang manfaat BPJS Ketenagakerjaan.
“Kami juga melakukan kegiatan informal, sebagai cara menutup gap antara target dengan realisasi,” kata Ken.
Ia menekankan, strategi yang terintegrasi ini penting untuk menjembatani perbedaan pemahaman dan meningkatkan kepesertaan secara merata.
“Kami juga mengedukasi perusahaan agar mendaftarkan seluruh pekerjanya. Misalnya, sebelum bulan Ramadan, kami mengingatkan kewajiban membayar tunjangan dan iuran BPJS ketenagakerjaan, agar karyawan menerima haknya tepat waktu,” ujar Ken.
Selain itu, Ken menambahkan kampanye dan edukasi yang dilakukan Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyesuaikan kondisi lokal.
Dengan mempertimbangkan tantangan geografis, jarak antar daerah, dan ketersediaan teknologi, pihaknya berupaya membuat konten yang mudah diakses dan dipahami masyarakat di seluruh Kalimantan.
“Melalui pendekatan ini, kami berharap masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari program BPJS Ketenagakerjaan, sementara perusahaan termotivasi untuk patuh mendaftarkan pekerjanya. Target kami adalah kesadaran meningkat, kepesertaan naik, dan program berjalan optimal,” tutup Ken. (**)












Discussion about this post