TARAKAN – Safari Ramadan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara digelar bersama keluarga besar jamaah Masjid Darul Hikmah dan Yayasan Insan Mandiri di Masjid Darul Hikmah, Juata Permai, Tarakan Utara, Minggu (1/3/2026).
Kegiatan dirangkaikan dengan buka puasa bersama dan tausiyah Ramadan.
Agenda tersebut dihadiri Kakanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Utara Dr. (Cand). H. Muhammad Saleh, M.Pd.I., tokoh masyarakat, serta unsur pemerintahan. Tampak hadir anggota DPR Provinsi Kalimantan Utara H. Yancong, anggota DPRD Kota Tarakan Suryadi Sangkala dan Chudarsiah, Camat Tarakan Utara, serta Lurah Juata Permai.
Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Insan Mandiri Chandra Wijaya, S.T., M.Ag., Ketua Yayasan Insan Mandiri Widiyanti, S.Pd., Kepala TPQ Insan Mandiri Wiwin Dwi Puspitonsari, serta para Ketua RT 03, RT 04, RT 05, RT 06, RT 07, dan RT 16 sebagai bentuk dukungan masyarakat sekitar.
Dalam kesempatan itu, tokoh masyarakat Darmadi, ST menyampaikan perkembangan Kampung Santri yang telah diresmikan pada 2020 oleh Kementerian Agama Kota Tarakan. Menurutnya, program tersebut sempat dibawa ke kancah nasional oleh pimpinan Ponpes Insan Mandiri dan berhasil meraih peringkat enam tingkat nasional.
Ia menyebut capaian tersebut tidak lepas dari komitmen bersama masyarakat, para ketua RT, wali santri, dan pengelola pesantren dalam membina lingkungan religius sehingga melahirkan santri berkualitas. Bahkan, salah satu santri dari Tarakan disebut berhasil meraih penghargaan di tingkat nasional.
Darmadi juga berharap keberadaan pondok pesantren terus melahirkan santri yang mampu memperjuangkan syiar agama. Namun, ia menyampaikan satu aspirasi masyarakat terkait pimpinan Ponpes Insan Mandiri yang saat ini bertugas sebagai ASN di Tanjung Selor.
“Harapan kami kepada Bapak Kakanwil, kiranya pimpinan pondok pesantren bisa dimutasi lebih dekat, agar dapat lebih fokus membina santri. Ini bukan hajat satu orang, tapi hajat satu kampung,” ujarnya di hadapan jamaah.
Sementara itu, Camat Tarakan Utara dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan buka puasa bersama bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum mempererat ukhuwah Islamiyah dan sinergi antara ulama, umara, dan masyarakat.
Ia menilai semangat Ramadan sejalan dengan visi Tarakan Utara yang damai, sehat, dan sejahtera. Menurutnya, Ramadan mengajarkan pengendalian diri, menjaga lisan, memperkuat persaudaraan, serta mendorong kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah.
Camat juga mengapresiasi Yayasan Insan Mandiri dan Masjid Darul Hikmah yang dinilai berhasil membangun sinergi sosial dan pendidikan keagamaan di lingkungan Juata Permai. Ia menyoroti prestasi santri Insan Mandiri yang akan mengikuti agenda internasional ke Thailand, Malaysia, dan Singapura sebagai kebanggaan daerah.
“Ini kebanggaan kita bersama, bukan hanya Tarakan Utara, tetapi juga Kota Tarakan dan Provinsi Kalimantan Utara,” katanya.
Dalam momentum Ramadan, Camat mengajak masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, menghidupkan masjid dengan kegiatan positif, memperkuat solidaritas antar-RT, serta memastikan tidak ada warga yang merasa sendiri selama bulan suci.
Ia berharap kegiatan Safari Ramadan dan buka puasa bersama tersebut membawa keberkahan bagi masyarakat Juata Permai, Masjid Darul Hikmah, serta Yayasan Insan Mandiri dalam membangun nilai keimanan, kebersamaan, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Safari Ramadan Kakanwil Kemenag Kaltara: Anggap Ramadan Tahun Ini yang Terakhir, Agar Ibadah Lebih Maksimal
TARAKAN – Safari Ramadan digelar Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara bersama jamaah Masjid Darul Hikmah dan Yayasan Insan Mandiri di Masjid Darul Hikmah, Juata Permai, Tarakan Utara, Minggu (1/3/2026).
Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri Kakanwil Kemenag Kaltara Dr. (Cand). H. Muhammad Saleh, M.Pd.I., sejumlah tokoh masyarakat, serta unsur pemerintahan daerah. Turut hadir anggota DPR Provinsi Kalimantan Utara H. Yancong, anggota DPRD Kota Tarakan Suryadi Sangkala dan Chudarsiah, Camat Tarakan Utara, serta Lurah Juata Permai.
Dalam tausiyahnya, Kakanwil Kemenag Kaltara mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri secara bersama-sama.
Ia mengingatkan bahwa pada hari ke-11 Ramadan 1447 Hijriah, umat Islam hanya memiliki sekitar 18 hingga 19 hari lagi sebelum bulan suci tersebut berlalu.
“Pada hakikatnya bukan kita yang meninggalkan Ramadan, tetapi Ramadan yang akan meninggalkan kita. Apakah kita masih dipertemukan dengan Ramadan tahun depan atau tidak, itu rahasia Allah SWT,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menyampaikan pesan para kiai dan ustaz agar setiap Muslim meniatkan dalam hati bahwa Ramadan tahun ini adalah Ramadan terakhir. Dengan niat tersebut, seseorang akan lebih maksimal dalam menjalankan seluruh amalan ibadah tanpa menyia-nyiakan waktu.
Menurutnya, anggapan masih ada Ramadan berikutnya sering membuat manusia lalai dan tidak konsisten dalam beribadah. Padahal, tidak ada yang mengetahui apakah masih diberi kesempatan bertemu Ramadan di tahun mendatang.
Ia juga menyinggung realitas kehidupan, di mana orang-orang yang pernah bersama di Ramadan sebelumnya bisa saja telah dipanggil oleh Allah SWT pada tahun berikutnya. Hal itu menjadi pengingat agar umat Islam memanfaatkan bulan suci dengan sebaik-baiknya.
Dalam ceramahnya, Kakanwil menjelaskan keunikan ibadah puasa dibandingkan ibadah lainnya. Ia mencontohkan bahwa ibadah seperti haji, salat, dan zakat dapat terlihat oleh orang lain, sedangkan puasa bersifat rahasia antara hamba dan Allah SWT.
“Yang tahu kita benar-benar berpuasa dengan sungguh-sungguh hanyalah diri kita dan Allah SWT. Itulah keistimewaan puasa,” katanya.
Ia mengilustrasikan, seseorang bisa saja terlihat berpuasa di hadapan keluarga, namun di luar rumah justru membatalkannya tanpa diketahui orang lain. Karena itu, puasa menjadi ibadah yang sangat bergantung pada keimanan dan kejujuran pribadi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sangat merugi jika Ramadan yang penuh keberkahan dilewati begitu saja tanpa perubahan dalam diri. Ia berharap dari Ramadan ke Ramadan harus ada peningkatan kesabaran, keikhlasan, dan rasa syukur dalam kehidupan.

Menurutnya, umat yang baik adalah mereka yang mampu bersyukur saat mendapat kebahagiaan dan bersabar ketika menghadapi ujian, sekaligus melakukan introspeksi diri kepada Allah SWT.
Di akhir tausiyah, ia mengajak seluruh jamaah memaksimalkan amalan di bulan Ramadan, mengingat banyak ibadah utama seperti turunnya Al-Qur’an dan kewajiban zakat memiliki keistimewaan di bulan suci tersebut.
“Sekali lagi, mari kita manfaatkan momentum Ramadan ini dengan sebaik-baiknya untuk mencari keridhaan Allah SWT,” pungkasnya. (**)














Discussion about this post