TANA TIDUNG, Fokusborneo.com – Tradisi Tolak Bala kembali menjadi bagian dari rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Tana Tidung. Kegiatan yang digelar pada bulan Safar tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi masyarakat Tidung sekaligus mempererat kebersamaan antar-etnis di daerah itu.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung Arman Jauhari mengatakan Tolak Bala merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat Tidung.
“Kalau kita bicara Tolak Bala ini, ini merupakan salah satu identitas budaya Suku Tidung. Suku Tidung memang sangat sarat dengan budaya, adat dan istiadat. Jadi tradisi seperti Tolak Bala ini harus tetap kita lestarikan, jangan sampai generasi kita ke depan tidak lagi mengenal tradisi yang sudah diwariskan oleh para leluhur,” kata Arman, Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, Tolak Bala biasanya dilaksanakan pada bulan Safar. Dalam kepercayaan masyarakat Tidung, bulan tersebut dikaitkan dengan bala atau marabahaya sehingga masyarakat menggelar doa bersama untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.
“Tradisi ini sudah turun-temurun dari nenek moyang. Masyarakat Tidung percaya bulan Safar itu sebagai bulan yang penuh dengan bala. Karena itu dilaksanakan doa bersama, biasanya pada Rabu awal dan Rabu akhir bulan Safar. Intinya kita memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari musibah, malapetaka dan bencana,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan, masyarakat biasanya membawa berbagai makanan. Salah satu yang khas adalah imbiuku atau ketupat yang dibuat dari daun nipah muda atau pucuk daun nipah yang dalam bahasa Tidung disebut daun umbus.
Arman mengatakan imbiuku tidak hanya menjadi bagian dari hidangan dalam kegiatan tersebut. Bentuk ketupat juga memiliki makna yang berkaitan dengan nilai keagamaan.
“Imbiuku itu dibuat dari daun nipah muda, kemudian diisi beras ketan yang dicampur dengan santan. Bentuknya juga bermacam-macam dan masing-masing ada maknanya. Yang berbentuk lima sudut melambangkan Rukun Islam yang lima, sedangkan yang enam sudut melambangkan Rukun Iman yang enam,” jelasnya.
Selain Tolak Bala, rangkaian tradisi masyarakat Tidung juga dilanjutkan dengan Bejiu Safar atau mandi Salamun. Kegiatan tersebut biasanya dilaksanakan di sungai, laut atau lokasi yang telah ditentukan.
“Setelah Tolak Bala biasanya dilanjutkan dengan Bejiu Safar atau mandi Salamun. Ini juga bagian dari tradisi masyarakat Tidung. Menurut kepercayaan masyarakat, melalui air itu diharapkan penyakit atau hal-hal buruk bisa terbawa oleh air yang mengalir,” katanya.
Menurut Arman, terdapat pula tradisi menimbang bayi yang lahir pada bulan Safar menggunakan berbagai jenis sayuran dan makanan. Tradisi tersebut mengandung harapan agar anak memiliki sifat baik dan dijauhkan dari marabahaya.
Ia menegaskan, Tolak Bala bukan berarti masyarakat dapat mengetahui atau mencegah datangnya musibah. Doa bersama menjadi inti kegiatan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT.
“Tidak ada seorang pun yang tahu kapan musibah datang dan manusia juga tidak bisa memastikan dapat menolak bala. Jadi maksud Tolak Bala ini adalah kita bersama-sama berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar kita semua terhindar dari bala, malapetaka dan bencana,” tuturnya.
Arman menyebut tradisi Tolak Bala dan Bejiu Safar telah ada di Tana Tidung sejak ratusan tahun lalu. Karena itu, pelestarian tradisi tersebut dinilai penting agar tetap dikenal generasi muda.
“Tradisi ini sudah ada di Tana Tidung sejak ratusan tahun lalu. Karena itu harus tetap kita jaga dan lestarikan. Ini bukan hanya menjadi bagian dari kegiatan HUT, tetapi bagaimana tradisi ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia juga mendorong keterlibatan masyarakat dari berbagai etnis dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, tradisi budaya dapat menjadi ruang untuk membangun persatuan dan silaturahmi di tengah keberagaman masyarakat KTT.
“Tujuannya bukan hanya melestarikan budaya Suku Tidung, tetapi juga membangun rasa persatuan, kebersamaan dan silaturahmi antar-etnis yang ada di Kabupaten Tana Tidung. Masyarakat dari etnis lain juga tidak menutup kemungkinan untuk ikut dalam kegiatan ini,” katanya.
Ke depan, Arman berharap Tolak Bala tetap menjadi bagian dari rangkaian kegiatan HUT KTT dan dapat dikembangkan sebagai potensi wisata budaya.
“Harapan kami kegiatan Tolak Bala ini bisa menjadi agenda rutin di Kabupaten Tana Tidung. Kalau dikemas dengan baik, tentu ini bisa menjadi potensi pariwisata kita ke depan, karena di dalamnya ada tradisi, makanan khas dan rangkaian budaya yang memiliki nilai bagi masyarakat,” pungkasnya. (*/hr)















Discussion about this post