TARAKAN – Usaha mandiri bisa dirintis dari kemampuan sederhana, mulai dari meracik kopi, mencetak desain pada kaos, hingga memperbaiki kendaraan bermotor. Tiga bidang tersebut menjadi sasaran pelatihan calon wirausaha baru industri kecil di Tarakan yang berlangsung Senin (12/10/2026) untuk memperluas peluang usaha di tengah masyarakat.
Anggota Komisi VII DPR RI, Hj. Rahmawati Zainal, S.H., mengatakan pelatihan ini diarahkan agar masyarakat memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi sumber penghasilan. Peserta diharapkan mampu memulai usaha dari skala sederhana, tanpa harus bergantung pada lowongan kerja di perusahaan atau pabrik.
“Misalnya reparasi kendaraan roda dua, mereka bisa memulai dari garasi rumah. Begitu juga usaha kopi yang bisa dijalankan menggunakan gerobak, serta sablon kaos sesuai pesanan. Keterampilan ini bisa menjadi bekal untuk membangun usaha sendiri,” kata Rahmawati.
Menurutnya, penguasaan keterampilan perlu menjadi tahap awal sebelum peserta mendapatkan dukungan permodalan maupun peralatan. Bantuan lanjutan diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peserta yang sudah menguasai bidang usahanya.
“Skill-nya harus dibangun lebih dulu. Kalau sudah mahir, peralatan bisa kita perjuangkan agar mereka lebih mudah mengembangkan usaha. Jangan sampai alat diberikan, tetapi belum bisa digunakan secara maksimal,” ujarnya.
Rahmawati juga menyampaikan peluang pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Ia menyebut pembiayaan hingga Rp100 juta dapat diakses tanpa agunan tambahan sesuai ketentuan yang berlaku dan hasil verifikasi.
“Kalau keterampilan sudah ada dan usaha mulai berjalan, berikutnya kita dorong akses permodalannya. Harapannya, mereka bisa mengembangkan usaha secara bertahap dan nantinya membuka kesempatan kerja bagi orang lain,” tutur Rahmawati.
Pelatihan tersebut mencakup tiga bidang, yakni pengolahan kopi atau barista, sablon kain, dan reparasi kendaraan roda dua. Rahmawati menyebut sebanyak 90 peserta dipilih untuk mengikuti pelatihan, di tengah tingginya minat masyarakat terhadap pengembangan usaha mandiri.
Ia menyebut kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di sejumlah wilayah Kaltara, termasuk Nunukan dan Tanjung Selor. Perkembangan usaha kecil yang mulai tumbuh di masyarakat menjadi salah satu alasan pentingnya pembekalan keterampilan dan dukungan lanjutan bagi calon wirausaha.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Kami awalnya mengundang sekitar 350 orang, tetapi yang datang hampir 500 orang. Ini menunjukkan minat untuk mengembangkan usaha cukup besar. Harapannya, setelah memiliki keterampilan, mereka bisa membuka usaha sendiri dan bahkan nantinya menciptakan lapangan kerja bagi orang lain,” tutur Rahmawati.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian RI, Drs. Yedi Sabaryadi, mengatakan industri kecil dan menengah (IKM) memiliki peran penting dalam perekonomian, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan memperluas kesempatan berusaha.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, jumlah IKM nasional pada 2024 mencapai 4,45 juta unit usaha atau sekitar 99,70 persen dari seluruh unit usaha industri. Sektor tersebut juga disebut menyerap hampir 13,06 juta tenaga kerja.
“Penumbuhan wirausaha baru menjadi langkah strategis untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Potensi IKM di daerah perlu diperkuat agar semakin banyak usaha yang tumbuh dan berkembang,” kata Yedi.
Untuk Kaltara, Yedi menyebut terdapat sekitar 7.511 usaha industri mikro dan kecil pada 2025 yang menyerap hampir 14.000 tenaga kerja. Sementara kontribusinya terhadap perekonomian Kota Tarakan disebut mencapai 10,67 persen.
Menurut Yedi, pelatihan perlu dilanjutkan dengan pendampingan teknis agar peserta mampu meningkatkan kualitas produk dan daya saing usaha. Pembekalan dasar kewirausahaan, termasuk pembiayaan dan pemasaran, menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sebelum peserta mendalami teknik produksi sesuai bidang masing-masing.
“Setelah kegiatan ini, kami berharap Dinas Perindustrian terus mendampingi dan memantau perkembangan usaha peserta. Keterampilan yang diperoleh perlu dikembangkan agar benar-benar menjadi usaha produktif dan mampu bersaing,” ujar Yedi. (**)













Discussion about this post