TARAKAN, Fokusborneo.com – Terobosan membanggakan dalam dunia pendidikan kembali lahir dari Kota Tarakan.
Berawal dari keprihatinan mendalam terhadap dinamika perilaku anak usia sekolah saat ini, sebuah gerakan perubahan karakter bertransformasi menjadi platform digital unggulan bernama “Siganak Hibot”. Nama yang diambil dari bahasa suku lokal Tarakan, Bahasa Tidung, ini bermakna “Si Anak Hebat”.
Kini, inovasi berbasis web tersebut telah sukses diadopsi Pemerintah Kota (Pemkot) melalui Dinas Pendidikan (Disdik) dan diterapkan serentak di puluhan sekolah, merangkul ribuan pelajar dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di seluruh penjuru kota.
Perjalanan Siganak Hibot tidak serta-merta lahir dalam bentuk aplikasi canggih. Akar sejarahnya bermula dari langkah-langkah kecil di SMP Negeri 7 Kota Tarakan yang beranjak dari keresahan atas lunturnya nilai adab, berkurangnya minat belajar, serta menipisnya kesopanan anak-anak di lingkungan sosial.
Kepala SMP Negeri 7 Kota Tarakan, Budi Setyaning, mengungkapkan gagasan awal pembentukan program ini selaras dengan pilar kebijakan pembentukan karakter anak bangsa serta arahan Kementerian Pendidikan melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
“Sebenarnya program ini awalnya kami konsep dari fenomena anak-anak kita yang kurang adab, minat belajar kurang, dan sopan santun yang mulai memudar. Kami mencoba langkah kecil melalui pembiasaan harian,” tutur Budi Setyaning, Rabu (30/9/26).
Ia menambahkan, pembiasaan positif seperti tradisi senyum, sapa, salam di gerbang sekolah, literasi, ibadah bersama, hingga makan sehat bergizi dirancang agar melekat pada diri siswa.
“Capaian pendidikan itu tidak hanya diukur dari sisi akademik saja, tetapi kita juga harus memperhitungkan pembentukan karakter. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti sebatas aplikasi, melainkan betul-betul membentuk kebiasaan positif yang dilakukan dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Ketika anak-anak sudah berkesadaran sendiri, maka terbentuklah karakter baik yang kita inginkan,” tambahnya.
Pada mulanya, pencatatan kebiasaan siswa dilakukan secara manual menggunakan kertas atau jurnal harian. Namun, selain memerlukan banyak lembaran kertas, sistem manual dirasa kurang efisien dari sisi waktu maupun anggaran.
Melihat tantangan efisiensi tersebut, ide digitalisasi pun mengalir dari tangan kreatif satuan pendidikan. Staf Tata Usaha sekaligus Staf IT SMP Negeri 7 Kota Tarakan yang juga bagian dari tim IT Disdik Kota Tarakan, Riza Lesmana, menceritakan bagaimana proses transformasi itu berjalan.
“Awalnya kita pakai kertas manual seperti jurnal harian. Dari situ timbul ide untuk menghemat kertas lewat digitalisasi. Selain efisiensi anggaran, aplikasi Siganak Hibot ini bertujuan menumbuhkembangkan karakter peserta didik,” jelas Riza Lesmana.
Riza menjelaskan lebih lanjut aplikasi ini dirancang bukan sekadar untuk menginput data harian semata, melainkan menyediakan ruang refleksi bagi para siswa.
Bekerjasama dengan Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik, dan Persandian (Diskominfo SP) sebagai validator data, program tersebut memuat menu utama 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Menariknya lagi, platform ini mempertahankan fitur pendukung sekolah aman yang sebelumnya dikenal lewat cikal bakal aplikasi “Lapor Pak” yaitu layanan pelaporan rahasia bagi siswa untuk mengadukan potensi bullying atau tindak kekerasan di lingkungan sekolah dengan jaminan kerahasiaan identitas.
Melihat potensi besar dan efektivitas sistem yang dibangun SMP Negeri 7, Pemkot Tarakan melalui Disdik langsung bergerak cepat untuk mengadopsi dan memperluas jangkauannya ke seluruh satuan pendidikan.
Kepala Disdik Kota Tarakan, Thamrin Toha, menjelaskan program ini dihadirkan untuk menjawab kendala klasik pihak dinas dalam melakukan pengawasan secara manual.
“Ini sebetulnya itu untuk mendukung gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat, supaya lebih bisa memantau, memonitor, dan mengevaluasi nanti dari berbagai sekolah. Selama ini kan kita kesulitan kalau secara manual Dinas Pendidikan memantau, kecuali misalnya kalau sekolah itu ada melaporkan ke Dinas Pendidikan,” ungkap Thamrin Toha.
Thamrin mengisahkan cikal bakal aplikasi ini memang bermula dari inovasi SMP Negeri 7 melalui aplikasi “Lapor Pak” yang kemudian dimodifikasi dan disesuaikan dengan budaya sekolah aman serta nyaman.
Melalui sistem digitalisasi ini, guru, kepala sekolah, hingga jajaran dinas dapat memantau aktivitas siswa secara real-time.
Setelah melalui tahap sosialisasi dan uji coba pada 25 April 2026, dilaunching tepat di Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2026, hingga diimplementasikan serentak sejak 14 September 2026, aplikasi ini kini telah mencatat pencapaian luar biasa.
Tercatat 94 sekolah jenjang SD dan SMP di Kota Tarakan telah menggunakannya, mencakup puluhan ribu siswa dan menghasilkan lebih dari 35.000 data pencatatan kebiasaan positif.
Meski sempat menemui tantangan teknis berupa lonjakan akses server yang langsung diatasi bersama Diskominfo SP, Thamrin menegaskan pihak sekolah tetap fleksibel dan tidak kaku bagi siswa yang belum memiliki gawai (smartphone).
“Kalau tidak punya HP kita tidak memaksakan, jadi gurunya masih menyiapkan secara manual,,” tambahnya.
Ke depan, data dari aplikasi ini akan dijadikan landasan strategis perumusan kebijakan serta diintegrasikan ke dalam rapor penilaian karakter siswa.
Keberhasilan digitalisasi pembentukan karakter ini tentu tidak akan berjalan optimal tanpa adanya sinergi yang kuat antara pihak sekolah dan para orang tua di rumah.
Melalui buku panduan dan jurnal pemantauan khusus di dalam aplikasi, orang tua dapat ikut mengawal aktivitas buah hati mereka.
Perwakilan orang tua murid dari SMP Negeri 7 Kota Tarakan, Rizal, menyampaikan apresiasi dan pandangannya terkait kemudahan serta dampak luas dari penggunaan Siganak Hibot.
“Program Siganak Hibot ini mempunyai dampak positif yang sangat luas untuk anak-anak kita agar lebih terkontrol. Kita bisa melihat kegiatan mereka sehari-hari di lingkungan masyarakat, mulai dari ibadahnya hingga hal lainnya. Saya memberikan apresiasi untuk yang membuat aplikasi ini,” ungkap Rizal.
Ia juga menambahkan pengoperasian aplikasi berbasis web tersebut sangat ramah bagi orang tua dan tidak menyulitkan.
“Penerapannya sangat mudah, tinggal klik centang saja di dalam aplikasinya. Harapannya, aplikasi ini bisa diimplementasikan ke seluruh sekolah yang ada di Kota Tarakan agar orang tua bisa lebih tahu kegiatan anak-anaknya di luar rumah,” pungkasnya.
Sebagai rantai kolaborasi lintas sektor, apresiasi tinggi serta dukungan penuh turut disuarakan kalangan legislatif di Kota Tarakan.
Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan, Simon Patino, menilai inisiatif ini merupakan langkah progresif yang patut dijaga keberlanjutannya.
“Program Siganak Hibot ini lahir dari 7 kebiasaan anak Indonesia hebat yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan. Saya mengapresiasi SMP 7, masyarakat Kota Tarakan, serta Pemerintah Kota Tarakan menyambut baik program ini. Kita berpikir bagaimana membuat aplikasi yang lebih efektif dan efisien agar orang tua dapat proaktif dalam menjalankan program ini,” ujar Simon Patino.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Komisi II DPRD Kota Tarakan menyatakan kesiapannya dalam mengawal pengembangan program tersebut ke depan.
“Dari Komisi 2 sangat mendukung. Saya berharap ke depan pihak pemerintah dapat mendukung baik dari sisi finansial maupun operasional. Ini bisa menjadi pijakan dalam pengambilan keputusan ke depan dan kita harapkan dapat menjadi pilot project yang bisa diikuti oleh kabupaten dan kota lainnya,” tegas Simon Patino.
Dengan sinergi antara sekolah, tenaga pendidik, tim IT, pemerintah daerah, orang tua, hingga dukungan penuh DPRD, kehadiran aplikasi Siganak Hibot diharapkan bukan sekadar formalitas digitalisasi semata.
Lebih dari itu, aplikasi ini menjadi jembatan bagi terbentuknya kesadaran mandiri anak-anak Kota Tarakan untuk tumbuh menjadi generasi yang beradab, berkarakter kuat, dan tangguh menyongsong masa depan bangsa.(*/mt)












Discussion about this post