JAKARTA, Fokusborneo.com – Bergerak cepat pasca-Forum ECD Asia-Pasifik 2026, Kabupaten Tana Tidung menggandeng SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI untuk menggelar pelatihan bagi guru PAUD. Program ini disiapkan untuk mencetak pendidik yang climate-ready demi melindungi tumbuh kembang anak dari dampak krisis lingkungan.
Program tersebut diarahkan untuk membekali pendidik dengan kemampuan mengintegrasikan pengetahuan lingkungan ke dalam pembelajaran sekaligus mendampingi kondisi psikologis anak ketika menghadapi situasi darurat.
Kesiapan ini relevan dengan kondisi Tana Tidung yang menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan gambut, termasuk kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas pendidikan.
“Guru PAUD perlu memiliki bekal untuk mengenalkan perubahan iklim kepada anak dengan cara yang sederhana dan sesuai usia mereka. Pembelajaran dapat dilakukan lewat permainan, kegiatan di alam, serta kebiasaan sehari-hari yang membantu anak memahami lingkungan di sekitarnya,” ujar Bunda PAUD Kabupaten Tana Tidung, Vamelia Ibrahim, S.E., M.Pd.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berpotensi membuat kegiatan sekolah dihentikan sementara demi keselamatan siswa. Situasi tersebut juga dapat menghambat layanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI), yang mencakup pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, dan perlindungan anak.
Menurut Vamelia, kesiapan menghadapi kondisi tersebut harus mencakup kemampuan guru dalam memberikan pendampingan emosional kepada anak. Ketika aktivitas rutin terganggu, anak tetap membutuhkan rasa aman, interaksi yang mendukung perkembangan, serta penjelasan yang dapat dipahami tanpa menimbulkan ketakutan.
“Dalam situasi darurat, anak membutuhkan pendampingan yang tepat agar mereka tetap merasa aman. Guru harus mampu mengenali kondisi emosional anak dan memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka, sehingga proses tumbuh kembang tetap mendapat perhatian meskipun aktivitas belajar mengalami perubahan,” katanya.
Pelatihan yang disiapkan bersama SEAMEO CECCEP dan Koalisi Nasional PAUD HI itu mencakup tiga bidang utama. Pertama, pengembangan kurikulum kontekstual berbasis permainan dan alam. Kedua, penguatan keterampilan sosial-emosional atau social-emotional learning (SEL) untuk mendukung anak ketika menghadapi bencana. Ketiga, peningkatan kolaborasi lintas sektor agar layanan pendidikan dan perlindungan anak dapat saling mendukung.
“Pendidikan perubahan iklim harus dekat dengan kehidupan anak. Mereka bisa diajak mengenali lingkungan, memahami perubahan yang terjadi di sekitarnya, dan belajar melakukan tindakan sederhana untuk menjaga alam. Pendekatan seperti ini membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus memberi pengalaman belajar yang bermakna,” tutur Vamelia.
Penerapan pendidikan perubahan iklim di Tana Tidung akan menggunakan kerangka RAMAH, yakni Relevan dengan kondisi daerah, menyentuh aspek afektif anak, Merujuk pada ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, berorientasi pada Aksi nyata, serta dilaksanakan secara Holistik. Kerangka ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari anak melalui kegiatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya.
Rencana tersebut sebelumnya dipaparkan Vamelia saat menghadiri 2026 Asia-Pacific Regional Learning Forum on Early Childhood Development (ECD) di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada 20–22 Oktober 2026. Forum yang diinisiasi Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, SEAMEO CECCEP, Tanoto Foundation, serta Koalisi Nasional PAUD HI itu mengangkat tema From Knowledge to Collective Action: Strengthening Climate-Responsive and Well-Financed ECD Systems in Asia-Pacific.
Pertemuan regional tersebut membahas penguatan sistem pengembangan anak usia dini yang responsif terhadap perubahan iklim dan didukung pembiayaan memadai. Hasil pembahasan itu menjadi landasan untuk memperkuat kapasitas pendidik dan mengembangkan pembelajaran yang menyesuaikan tantangan lingkungan di Tana Tidung.
Vamelia menegaskan, upaya tersebut diarahkan agar anak tetap memperoleh hak belajar, bermain, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman, termasuk ketika menghadapi risiko bencana.
“Anak-anak harus tetap mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam kondisi apa pun. Guru yang lebih siap, pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan, serta dukungan lintas sektor, kami berharap kebutuhan anak tetap terpenuhi dan mereka tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang keselamatan serta pentingnya menjaga alam,” tandasnya. (*)















Discussion about this post