TARAKAN, Fokusborneo.com – Dari dalam bangunan kayu sederhana berukuran 5×3 meter di Jalan Pangeran Diponegoro RT 23, Kelurahan Sebengkok, Kecamatan Tarakan Tengah, gema benturan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) terdengar ritmis.
Di ruang yang jauh dari kesan mewah itu, jemari Mersia bergerak cekatan menata helai demi helai benang. Bersama suaminya, Petrus Pie, wanita yang merantau ke Kota Tarakan sejak tahun 1999 ini merajut asa demi membesarkan buah hati mereka.
Bagi Mersia, setiap lembar kain dari brand Tenun D’Utan berasal dari kata Dena (membuat) dan Utang (kain tenun) bukan sekadar barang dagangan, melainkan perajut memori dan identitas budaya Kalimantan Utara (Kaltara).
”Buat kami ibu-ibu di sini, menenun itu bukan cuma sekadar bikin kain, tapi cara kami ninggalin jejak budaya buat anak cucu kita,” ungkap Mersia.
Kisah perintisan usaha tenun ini bermula sekitar tahun 2015, tak lama setelah Mersia berhenti dari pekerjaannya. Pada masa-masa awal, ia sempat prihatin dengan kondisi pelestarian budaya lokal di daerahnya.
”Cuma kadang sedih juga, di Kaltara ini masih banyak penenun yang pakai motif bawaan dari luar daerah, seperti kain motif NTT. Terus rata-rata warnanya juga masih banyak pakai pewarna kimia yang kurang ramah buat lingkungan. Makanya pelan-pelan kami mau buat identitas kita sendiri,” tutur Mersia.
Berangkat dari keresahan itu, dengan dorongan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kota Tarakan, Mersia beralih mengangkat kekayaan alam dan kearifan lokal Kaltara. Ia menggali motif-motif khas suku Tidung dan Dayak, seperti tanduk galung, kujau, hingga batu semandak.
Untuk urusan warna, Mersia memanfaatkan potensi alam Kaltara secara bijak tanpa merusak lingkungan.
”Kami memanfaatkan alam Kaltara, seperti rebusan arang untuk warna abu-abu, lalu kayu meranti, kulit bakau, sama kayu secang untuk menghasilkan warna merah muda,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Mersia terus berinovasi menjaga kualitas tertinggi karya-karyanya. Saat ini, kelompoknya sedang menyiapkan inovasi kain tenun katun yang diselipi anyaman rotan agar memiliki karakter khas yang semakin kuat.
”Harapannya kalau ada tamu atau pejabat datang ke Kaltara, mereka bisa bawa pulang oleh-oleh kain yang berkualitas dan benar-benar punya cerita dari tanah kita sendiri,” tambah Mersia.
Perjalanan perjuangan Tenun D’Utan membawa dampak sosial yang begitu hangat bagi warga sekitar. Melalui kelompok tenun Sikka Borneo, Mersia merangkul sekitar 15 perajin lokal yang didominasi kaum ibu rumah tangga asal Flores yang telah lama menetap di Tarakan, serta memberdayakan jejaring hingga 7.000 pekerja rumah tangga.
Sistem kerja dibuat sangat fleksibel dan memahami kondisi para ibu. Selain 3 karyawan yang membantunya langsung di tempat usaha, para perajin lainnya menenun dari rumah masing-masing setelah menyelesaikan urusan domestik.
”Biasanya kami baru bisa ngumpul menenun itu setengah hari ke atas, setelah pekerjaan rumah tangga selesai. Harapan kami sederhana, lewat tenun yang ramah lingkungan ini, ekonomi dapur ibu-ibu bisa sedikit terbantu dan identitas asli Kaltara bisa terus hidup,” ujar Mersia.
Proses pembuatan satu lembar kain berukuran 3 meter x 85 cm membutuhkan ketelitian ekstra hingga 3 minggu karena dilakukan secara penuh handmade. Dalam sebulan, kelompok ini mampu memproduksi sekitar 4 lembar kain eksklusif.
Kriya tenun buatan Mersia dibanderol mulai dari Rp200.000 untuk produk syal, hingga Rp2.000.000 untuk lembaran kain eksklusif pewarna alami.
Dari dentakan alat tenun di rumah kayu sederhana itu, Mersia telah membuktikan hasilnya. Perekonomian keluarganya yang sempat terpuruk, kini bangkit. Ia tak hanya mampu merenovasi rumah tempat tinggalnya, tetapi juga berhasil membiayai pendidikan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Di tengah ketatnya persaingan produk tekstil modern, digitalisasi menjadi penopang utama kelangsungan usaha Tenun D’Utan. Sejak mengadopsi sistem transaksi digital QRIS beberapa tahun lalu, transaksi jual beli menjadi jauh lebih praktis dan aman.
Untuk pemasaran virtual, Mersia aktif memanfaatkan fitur status WhatsApp hingga media sosial TikTok. Ia sempat menjual tenunnya melalui e-commerce, hanya kurang dilirik pembeli karena harus bersaing dengan tenun buatan dari NTT.
Langkah transformasi ini, kian mantap berkat pembinaan berkelanjutan dari Bank Indonesia (BI) Kaltara selama 3–4 tahun terakhir. BI mendampingi Mersia lewat pelatihan upgrade skill, bantuan alat tenun, serta pelibatan dalam ajang Karya Kreatif Benuanta (KKB) dan Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.
Puncaknya, Tenun D’Utan berhasil dinobatkan sebagai UMKM Binaan Terbaik Provinsi Kalimantan Tahun 2024 oleh BI Kaltara. Karya tenun hasil jemari Mersia bahkan lolos kurasi ketat hingga terpilih menjadi sampul buku Wastra Nusantara 2024, serta dikenakan langsung sebagai busana resmi oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, bersama istri.
Perjalanan Mersia Mersi membuktikan kesederhanaan, ketulusan merawat tradisi, dan modernisasi teknologi dapat berjalan seiring.
Lewat helaian benang, racikan warna alam, dan dukungan transaksi digital yang kian praktis, Mersia membuktikan karya yang lahir dari ketulusan ibu-ibu rumah tangga di sudut Sebengkok mampu menyapa Nusantara tanpa pernah kehilangan akar budayanya.
Pertumbuhan UMKM di Kota Tarakan terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data per Januari 2026, total UMKM di Kota Tarakan mencapai 34.699 unit, yang bergerak di sektor kuliner, jasa, kerajinan, olahan hasil pertanian, hingga olahan hasil laut.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan Kota Tarakan, Jumanto, SE, menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan mendukung penuh kerajinan tenun lokal.
Jumanto mengungkapkan pelatihan menenun telah dilaksanakan beberapa tahun lalu melalui Dekranasda, lengkap dengan bantuan peralatan. Bahkan, Gedung Dekranasda Kota Tarakan di Jalan Mulawarman, Kelurahan Karang Anyar Pantai, dialokasikan khusus sebagai tempat latihan menenun.
Terkait pengembangan produk tenun Mersia, Jumanto menggarisbawahi pentingnya komitmen penggunaan produk lokal di lingkungan pemerintahan.
”Saya kira ini sama dengan UMKM lainnya, tinggal bagaimana kita menggunakan produk tenun itu sendiri. Seperti Pemerintah Kota yang saat ini menjalankan kewajiban pemakaian batik kuning, persis seperti itu. Barangkali nanti Pemerintah Kota bisa membuat Surat Edaran untuk menggunakan kain tenun supaya pelaku usaha ini betul-betul mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya bagi Pegawai Negeri,” tegas Jumanto.
Mengenai kualitas, Jumanto meyakini kain tenun Kota Tarakan sudah sangat mumpuni. “Secara kualitas produk saya kira sudah mampulah bersaing. Cuma pemasarannya yang perlu terus digenjot supaya pihak luar mengerti bahwa Tarakan memiliki tenun berkualitas. Masyarakat dan ASN juga harus bangga, bukan cuma bangga tapi tentu kita harus memakainya,” tambahnya.
Ia juga membuka peluang skema pendampingan permodalan melalui perumusan regulasi hibah atau pinjaman daerah untuk memperkuat daya ungkit penghasilan pengrajin.
Dukungan senada datang dari kalangan legislatif. Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan, Simon Patino, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberadaan perajin tenun yang dinilainya sebagai seni budaya yang langka di era modern.
”Kami sangat mengapresiasi masyarakat yang mau tekun menenun, karena kerajinan tenun ini kan langka, apalagi bagi anak-anak milenial dan Gen Z. Karena ini bergerak di bidang budaya dan sesuai dengan ruang lingkup Komisi II, tentu kami di DPRD sangat mendukung,” ujar Simon.
Simon menekankan pentingnya intervensi pemerintah dan legislatif secara menyeluruh dari rantai produksi hingga pemasaran. Untuk produk tenun eksklusif dengan harga yang relatif tinggi karena keaslian kriya tangannya, Simon menyarankan segmentasi pasar yang tepat.
”Penanganan kendala tenun ini harus dipikirkan dari hulu sampai hilir, dari produksi hingga pemasaran. Karena sasarannya ekonomi menengah ke atas, kita dorong pejabat eselon II, perbankan seperti Bank BI, Himbara, hingga BUMN untuk menggunakan produk unggulan Tarakan ini. Kami di DPRD siap memfasilitasi komunikasi tersebut, dan sebagai langkah awal, anggota DPRD sendiri yang harus memulai untuk membeli dan menggunakannya,” kunci Simon.(**)
Reporter: Slamet Pratomo












Discussion about this post