• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Ekonomi

Ikan Tipis Berpotensi Tebal

by Redaksi
16/09/2026
in Ekonomi
A A
Ikan Tipis Berpotensi Tebal

Proses penjemuran Ikan Pepija diolah menjadi Ikan Kering Tipis di Juata Laut. Foto: Slamet Pratomo

TARAKAN, Fokusborneo.com – Anda tahu Ikan Pepija? Mungkin masih asing ditelinga. Ikan ini memang tidak sepopuler Bandeng atau Kakap. Bahkan, dianggap hama dan tidak memiliki nilai ekonomi. Tapi ketika diolah menjadi ikan Tipis, Anda pasti tergila-gila ingin terus mengunyahnya.

Bagaimana perjuangan pengerajin ikan Tipis bertahan ditengah ekonomi yang sulit? Apakah ada perhatian pemerintah? Seberapa besar Ikan Tipis ini menjadi primadona kuliner khas Tarakan? Berikut tulisannya.

Baca Juga

Antusiasme Masyarakat Tinggi, Mahligai Nusantara 2026 Dorong Transaksi UMKM Rp1,2 Miliar

Perekonomian Tarakan Tumbuh 4,77%, BPS Tekankan Pentingnya Hilirisasi Perikanan

Bapenda Kaltara Bidik Potensi PAD dari Pemanfaatan Aset Jalan

Ekonomi Bulungan Melaju 10,62 Persen, Tertinggi di Kaltara

Terik matahari yang menyengat di pesisir Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), tak menyurutkan ritme kerja ibu-ibu yang tinggal di Jalan Kurau RT 15.

Di atas deretan panggang bambu seluas 10×20 meter persegi yang berdiri anggun di atas permukaan air laut, lembaran-lembaran Ikan Tipis transparan dijemur hingga mengering sempurna.

Dari ceruk pesisir Pulau Tarakan inilah, sebuah narasi besar sedang dirajut bagaimana komoditas lokal perikanan tangkap mampu menjadi tulang punggung ketahanan pangan sekaligus mempercepat transformasi ekonomi Kalimantan di era modern.

​Di tengah momentum penguatan posisi Kalimantan sebagai pilar ekonomi nasional, sektor perikanan tidak lagi bisa dipandang sebagai usaha sampingan. Pengolahan hasil laut terbukti menjadi salah satu jangkar utama dalam mewujudkan penggalian potensi Kalimantan sebagai lumbung pangan nasional yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing tinggi. Khususnya di Kota Tarakan merupakan daerah kepulauan.

​Di balik geliat usaha pengolahan perikanan ini, ada sosok Siti Halijah (40) bersama Kelompok Nelayan Berkah Setara. Usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 2014 ini, memfokuskan diri pada pengolahan Ikan Pepija atau Nomei. Ikan khas pesisir Tarakan bertekstur lembut yang disulap menjadi olahan ikan kering tipis renyah bak kerupuk.

​”Usaha perikanan ini ibarat napas keluarga yang kami teruskan dari mendiang orang tua. Kami tidak memulainya dari modal besar atau ide muluk-muluk, melainkan dari keberanian melanjutkan jejak tradisi nelayan yang sudah mendarah daging sejak kecil,” tutur Siti Halijah, Selasa (15/9/26).

​Rantai pasok usaha ini berputar kuat secara domestik. Suami Siti melaut. Mencari bahan baku utama menyesuaikan siklus musim panen Ikan Pepija yang melimpah sepanjang pertengahan hingga akhir tahun.

Guna menjaga pasokan tetap stabil, Siti juga merangkul nelayan di sekitar Juata Laut dengan membeli bahan mentah seharga Rp 100 ribu per Kilogram (Kg). Namun, usaha ini masih membentur tembok tebal struktur pasar.

Posisi tawar nelayan kecil kerap tergencet permainan harga pedagang besar atau tengkulak saat musim panen raya tiba. Siti secara gamblang membongkar kepahitan yang kerap dialami masyarakat pesisir tersebut.

​”Secara teori, melimpahnya hasil tangkapan laut harusnya membuat nelayan sejahtera. Namun di lapangan, situasi justru berbalik. Saat pasokan melimpah, pengumpul besar seenaknya memotong harga beli,” bebernya.

Kondisi tersebut, kata Siti membuat nelayan berada dalam posisi terjepit karena ikan segar cepat membusuk dan membutuhkan es. Ia menjelaskan jika tidak segera dijual, hasil penjualan kerap tidak cukup untuk menutup biaya operasional solar saat melaut. Sementara keuntungan terbesar justru dinikmati pedagang skala besar di kota.

​Pengolahan Ikan Pepija menjadi produk pangan tahan lama menuntut keterampil teknis tinggi. Daging ikan dibelah tipis menggunakan pisau tajam tanpa merusak teksturnya.

Ikan yang tiba di sore hari tidak bisa langsung dijemur, melainkan harus diberi es dan didiamkan semalaman demi menjaga kualitas serat daging. Siti menekankan pentingnya disiplin waktu dan pemahaman karakteristik bahan baku perikanan.

​”Proses pengolahan ini butuh ketelitian ekstra. Ikan segar yang dibelah sore hari wajib masuk proses pembekuan semalaman. Kalau memaksa dijemur langsung tanpa didiamkan di es, kualitas dagingnya pasti rusak dan hancurnya tekstur ikan tidak bisa dihindari,” jelasnya.

​Proses penjemuran membutuhkan waktu satu hingga satu setengah hari. Dibawah terik matahari, untuk mencapai tingkat kekeringan sempurna hingga seratus persen.

Tantangan utama ketahanan pangan pesisir ini terletak pada rasio penyusutan bahan baku yang sangat tinggi. Dimana 11 Kg ikan Pepija basah hanya menghasilkan 1 Kg ikan kering tipis.

​Masalah kian kompleks ketika cuaca buruk melanda atau saat pasokan ikan melimpah hingga 1 ton. Kapasitas mesin pendingin (freezer) milik usaha Siti yang terbatas pada angka 200 Kg menjadi ganjalan utama karena belum adanya ruangan pendingin (cold room) skala besar di kawasan tersebut.

​Kendati demikian, lewat pengelolaan keuangan yang disiplin dari omset bersih Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan, Siti secara bertahap menyisihkan keuntungan untuk memperluas area penjemuran. Membeli penambahan unit freezer. Hingga mendirikan kios penjualan mandiri.

​​Lumbung pangan perikanan di Juata Laut ini tidak sekadar menghasilkan produk pangan berkualitas. Tetapi juga menebar dampak sosial nyata.

Kelompok Nelayan Berkah Setara menyerap 10 hingga 11 tenaga kerja lokal. Terutama kalangan ibu rumah tangga dan warga perantau. Saat panen raya tiba, para pekerja mampu mengantongi upah hingga Rp 1 juta per minggu atau Rp 4 juta per bulan.

Neni (baju coklat putih) ikut bekerja memotong Ikan Pepija diolah menjadi Ikan Kering Tipis. Foto: Slamet Pratomo

​Neni (34), salah seorang pekerja yang telah bergabung selama tiga tahun, merasakan langsung dampak kebangkitan ekonomi pesisir ini.

​”Pekerjaan memotong dan menjemur ikan ini menjadi penyelamat ekonomi keluarga kami. Sebagai istri pekerja tambak, penghasilan mandiri dari tempat Bu Siti sangat membantu mencukupi kebutuhan rumah tangga sehari-hari,” kata Neni.

​Guna menjaga keberlanjutan ekonomi saat masa sepi Ikan Pepija, Siti melakukan inovasi diversifikasi produk dengan mengolah daging Ikan Giling (Surimi). Bahan baku Ikan Bulan-bulan dan Bandeng tambak seharga Rp 50 ribu per Kg.

​Di era transformasi digital dan pemasaran modern, langkah strategis mulai diambil. Produk olahan dengan merek Juwataku, kini dikemas dalam ukuran ekonomis 100 gram seharga Rp 20 ribu yang sangat diminati pasar.

Efisiensi produksi makin melesat. Setelah Kelompok Nelayan ini menerima bantuan mesin pres kemasan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kaltara.

​Mengenai lompatan teknologi pemasaran digital, Siti tak menampik adanya tantangan operasional harian.

​”Jujur saja, mengelola toko online secara mandiri lewat media sosial atau marketplace masih sulit kami fokuskan karena tenaga kami habis untuk mengurus proses produksi harian. Ditambah terkendala mahalnya ongkos kirim luar pulau. Namun, kami mensiasatinya lewat sistem kemitraan dengan pihak ketiga yang lebih mahir di dunia digital,” akui Siti jujur.

​Lewat jejaring kemitraan digital tersebut, produk Juwataku tak hanya memenuhi permintaan grosir di Balikpapan, Samarinda, dan Bontang. Tapi juga sukses menembus pasar Tawau, Malaysia. Dalam satu momen pameran UMKM, penjualan produk kemasan ini bahkan sanggup menyentuh angka 1.000 bungkus.

Memudahkan pembeli melakukan pembayaran, Siti mengatakan juga menyediakan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

​Meski telah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) dan Sertifikasi Halal, Siti kini tengah berjuang menyelesaikan dokumen sertifikasi kelayakan ekspor agar dapat melakukan pengiriman internasional secara mandiri. Tanpa harus menumpang jaringan perantara di Kabupaten Nunukan.

​Perjuangan Siti Halijah dan para perempuan pesisir di Tarakan menjadi bukti konkret transformasi digital dan penguatan sektor perikanan saling bertautan.

Menggali potensi maritim Kalimantan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. Melainkan aksi nyata dari pesisir untuk mengukuhkan Nusantara yang berdaulat secara pangan dan tangguh secara ekonomi.

Tingkatkan Mutu Ikan Kering Tipis Standar Ekspor

​Komoditas olahan ikan kering tipis Pepija atau yang dikenal warga lokal sebagai Ikan Lembe dari Juata Laut, terus didorong untuk meningkatkan mutu agar bersaing di pasar ekspor. Ikan Pepija yang memiliki cita rasa khas serta tekstur renyah ini merupakan salah satu potensi perikanan paling unggul di pesisir Kaltara.

​Meski diminati pembeli luar negeri, proses produksi Ikan Pepija selama ini masih mengandalkan penjemuran tradisional di tempat terbuka. Cara konvensional ini membuat ikan rawan terpapar debu jalanan dan lalat yang hinggap untuk bertelur.

Selain berpotensi menurunkan citra higienitas dan memicu penolakan standar ekspor, kondisi ini juga kerap menjatuhkan harga tawar Ikan Pepija di tingkat pengolah lokal.

​Beruntung permasalahan tersebut, kini diatasi tim mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset dan Penalaran Ilmiah (RPI) Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Alat pengering ruang tertutup Ikan Pepija bernama Solar Dryer System buatan Mahasiswa UBT. Foto: Slamet Pratomo

Mereka menciptakan teknologi tepat guna Smart-Fish berupa alat pengering ruang tertutup bernama Solar Dryer System. Alat ini terintegrasi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)

Ruang pengering transparan ini memanfaatkan efek rumah kaca untuk menangkap panas matahari. Sementara listrik dari panel surya digunakan untuk menggerakkan kipas penyedot uap air.

Mekanisme ini membuat proses pengeringan Ikan Pepija berlangsung higienis dan terhindar dari kotoran, lalat, maupun hujan.

​Tim mahasiswa UBT tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga membentuk kelompok sasaran berisi 20 nelayan pengolah Ikan Pepija di Juata Laut. Nelayan diberikan pelatihan kelistrikan dasar, perawatan panel surya, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembersihan alat agar terhindar dari jamur.

​”Tujuan utama kami adalah melatih kemandirian kelompok nelayan di Juata Laut. Harapannya, mereka mampu menguasai pemeliharaan alat secara mandiri sehingga produksi Ikan Pepija higienis ini bisa terus berjalan konsisten dalam jangka panjang,” ujar Ketua Tim Pelaksana Program Smart-Fish, Reza Saputra Wahab.

​Saat ini kapasitas alat yang diuji coba memang masih terbatas di angka 30 Kg per siklus. Namun, keberhasilan program percontohan ini diharapkan dapat memantik perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk membantu pengadaan alat berskala industri yang lebih besar.

Dengan begitu, produk ikan kering tipis Pepija khas Tarakan dapat terbebas dari kesan kumuh dan makin kokoh sebagai produk ekspor unggulan.

Produk Olahan Ikan Tembus Pasar Ekspor

​Berbagai upaya dilakukan Pemkot Tarakan melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Perdagangan (DKUKMP) agar hasil perikanan tembus pasar ekspor. Salah satunya, dengan memberikan pelatihan pengolahan hasil laut kepada pelaku UMKM.

​Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan UKM DKUKMP) Ardiansah, menjelaskan pelatihan ini difokuskan pada peningkatan nilai tambah potensi lokal yang melimpah.

​”Tahun ini kita mengagendakan kegiatan pelatihan pengolahan hasil laut, khususnya ikan karena bahan bakunya melimpah dan mudah didapatkan. Kita mengharapkan produk yang keluar bukan hanya bahan mentah, tetapi sudah menjadi produk olahan,” ujar Ardiansah.

​Dalam pelatihan ini, sebanyak 30 peserta dibekali teknik pengolahan hingga proses marinasi bumbu. Selain tahap pengolahan dasar, dinas terkait juga menyiapkan kelanjutan program yang difokuskan pada teknik pengemasan (packaging) dan strategi pemasaran produk.

​Langkah ini diambil untuk mendukung komoditas unggulan Kota Tarakan agar siap bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Penguasaan teknik pengolahan, pengemasan, dan pemasaran secara menyeluruh diharapkan memudahkan UMKM berkolaborasi memenuhi kuota permintaan ekspor ke negara tujuan seperti Malaysia dan beberapa negara lainya.

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lewat Penguatan UMKM

KPwBI Provinsi Kaltara terus berkomitmen dalam mendorong dan memperkuat ekosistem UMKM di wilayah Kaltara.

Langkah ini dinilai sangat strategis mengingat kontribusi sektor UMKM yang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) serta penyerapan tenaga kerja.

​Kepala Perwakilan BI Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menjelaskan dukungan terhadap UMKM merupakan amanat undang-undang bagi BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan menciptakan lapangan kerja.

​”Kontribusi UMKM terhadap PDRB nasional itu sangat signifikan. Jadi, kalau kita bantu UMKM, harapannya growth (pertumbuhan) terhadap perekonomian juga meningkat,” ujar Agus Taufik.

​Lebih lanjut, ia menyampaikan meskipun jumlah UMKM di Kaltara sangat banyak mencapai puluhan hingga ratusan ribu, strategi BI adalah menciptakan serta memperkuat champion-champion pelaku usaha.

Diharapkan, para pelaku usaha unggulan ini dapat memberikan dampak positif dan menularkan semangat kompetisi serta pertumbuhan kepada UMKM lainnya.

Bantuan mesin pres kemasan yang diberikan KPwBI Provinsi Kaltara kepada pelaku UMKM Ikan Kering Tipis Juwataku. Foto: Slamet Pratomo

​BI Kaltara juga menyiapkan berbagai program pembinaan dan fasilitasi secara komprehensif bagi pelaku UMKM di Kaltara, di antaranya Onboarding UMKM Digital dan Akseptasi Pembayaran guna memperluas jangkauan pasar produk lokal melalui pemasaran digital serta memfasilitasi adopsi pembayaran nirsentuh menggunakan QRIS.

Selain itu, juga memfasilitasi akses pembiayaan (Business Matching) dengan menghubungkan UMKM potensial dengan lembaga keuangan untuk memperluas akses permodalan.

Program lainnya, meningkatkan kapasitas dan daya saing produk lokal, seperti pendampingan, BI juga menjadi fasilitator yang mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli (buyer) luar negeri maupun memanfaatkan jaringan kantor perwakilan BI di luar negeri.

Termasuk mendukung sertifikasi halal serta mendorong penerapan teknologi digital (digital farming) untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan ramah lingkungan.

​”Melalui berbagai fasilitasi ini, kita bertindak sebagai fasilitator untuk mempertemukan UMKM dengan pembeli maupun lembaga pembiayaan. Harapan kita, UMKM Kaltara bisa terus naik kelas, berdaya saing, hingga mampu menembus pasar internasional,” pungkasnya.

Perikanan Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Tarakan

​Perekonomian Kota Tarakan pada Triwulan II-2026 mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,77 persen (year-on-year/y-on-y).

Pertumbuhan ini ditopang berbagai sektor unggulan daerah, salah satunya sektor perikanan yang konsisten menjadi salah satu pilar utama PDRB Kota Tarakan.

​Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, nilai PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp16,20 triliun, dengan nilai atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 tercatat sebesar Rp7,38 triliun.

​Dalam struktur perekonomian Kota Tarakan, sektor perikanan yang tergabung dalam kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbangkan porsi yang sangat signifikan, yakni sebesar 10,38 persen terhadap total PDRB daerah.

Capaian ini menempatkan sektor tersebut di jajaran lima besar penyumbang perekonomian terbesar di Bumi Paguntaka.

​Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menegaskan perikanan merupakan basis kekuatan ekonomi lokal yang memiliki dampak langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

“Kami dalam menyampaikan laporan ini digabung (Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan), tetapi bisa kita lihat memang yang paling dominan di Tarakan adalah perikanan. Khusus perikanan sendiri itu sekitar 7 persen dari PDRB Tarakan,” ungkap Umar Riyadi.

​Ia menambahkan, potensi perikanan Tarakan masih sangat terbuka luas untuk terus berkembang, terutama didukung membaiknya tren harga komoditas unggulan seperti Ikan Pepija yang dapat menjadi pemantik (trigger) pertumbuhan ekonomi daerah.

“Komoditas seperti Ikan harganya sedang baik. Ini bisa menjadi trigger untuk memberikan pencetak angka pertumbuhan ekonomi di Kota Tarakan,” imbuhnya.

​Guna mendorong akselerasi dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di triwulan-triwulan mendatang, BPS Kota Tarakan memberikan sejumlah masukan strategis kepada Pemkot Tarakan.

Pemkot Tarakan diimbau untuk mendorong para pelaku usaha perikanan agar tidak sekadar menjual komoditas mentah (raw materials), melainkan mengolahnya menjadi produk jadi atau setengah jadi melalui sektor industri pengolahan. ​

“Bagaimana kemudian perikanan ini tidak semata-mata dijual dalam bentuk hasil mentah, tapi dinaikkan nilai tambahnya ke sektor industri pengolahan. Sebab, industri pengolahan share-nya lumayan besar, sekitar 10,67 persen, dan ini masih sangat bisa tumbuh,” saran Umar.

Secara regional, keberhasilan Tarakan menjaga pertumbuhan ekonomi di angka 4,77 persen memperkokoh posisinya sebagai tulang punggung perekonomian Provinsi Kaltara.

Kota Tarakan menyumbangkan 39,99 persen terhadap total PDRB Kaltara pada Triwulan II-2026, menjadikannya daerah dengan kontribusi ekonomi terbesar di tingkat provinsi.(**)

Reporter: Slamet Pratomo

Tags: Bank IndonesiaBI KaltaraBPSDinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan PerdaganganHeadlineIkan Kering TipisIkan PepijaKetahanan Pangan

Berita Lainnya

Ekonomi

Antusiasme Masyarakat Tinggi, Mahligai Nusantara 2026 Dorong Transaksi UMKM Rp1,2 Miliar

15 September 2026 16:05
Perekonomian Tarakan Tumbuh 4,77%, BPS Tekankan Pentingnya Hilirisasi Perikanan
Ekonomi

Perekonomian Tarakan Tumbuh 4,77%, BPS Tekankan Pentingnya Hilirisasi Perikanan

14 September 2026 18:04
Komisi II DPRD Kaltara Dorong Optimalisasi Aset dan Pajak Daerah demi Genjot PAD
Ekonomi

Bapenda Kaltara Bidik Potensi PAD dari Pemanfaatan Aset Jalan

12 September 2026 12:13
Daerah

Ekonomi Bulungan Melaju 10,62 Persen, Tertinggi di Kaltara

11 September 2026 20:13
Ekonomi

Pertamina Patra Niaga Refinery Unit V Balikpapan Dorong Semangat Belajar Siswa PPU melalui 200 Paket Bantuan Pendidikan

11 September 2026 15:53
Daerah

Ikhtiar Spiritual dan Cinta Rasul: BRI Branch Office Samarinda Gajah Mada Gelar Sholat Istisqa dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

11 September 2026 14:46

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Sikat Pelaku Curanmor, Tim URC Resmob Polda Kaltara Bekuk Dua Pria di Bulungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga Pujasera Jalan Jenderal Sudirman Dihebohkan Penemuan Jenazah Pria di Dalam Gerobak Dagangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasat Narkoba dan Samapta Polresta Bulungan Berganti, Kombes Rofikoh Minta Pejabat Baru Segera Beradaptasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ikhtiar Spiritual dan Cinta Rasul: BRI Branch Office Samarinda Gajah Mada Gelar Sholat Istisqa dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lulusan S2 Dijaring untuk Penuhi Kebutuhan Dosen IAIN Tana Tidung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

Ikan Tipis Berpotensi Tebal

Ikan Tipis Berpotensi Tebal

16 September 2026 08:40
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Pasokan Pertalite Balikpapan Aman, Suplai ke Makassar Tak Kurangi Alokasi

Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Pasokan Pertalite Balikpapan Aman, Suplai ke Makassar Tak Kurangi Alokasi

15 September 2026 22:20
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP