Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Fokus · 9 Feb 2022 15:05 WITA ·

Long Reses (1)


Doddy Irvan Imawan (Pai) Perbesar

Doddy Irvan Imawan (Pai)

Oleh: Doddy Irvan

Mau belajar sabar datanglah ke Long Lian. Mau menikmati indahnya giram, pergilah ke Long Lejuh. Mau menyaksikan ketidakadilan bertandanglah ke Long Peso. Desa-desa itu berada di Kabupaten Bulungan. Saya mengunjunginya. Dan akan menceritakannya kepada Anda dalam tulisan berseri.

Kamis siang saya di WhatApps Agnes. Dia Tenaga Ahli (TA) Albertus Stefanus Marianus Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara.

“Mas Pai, mau ikut kah Pak Albert besok reses ke hulu,” tanya Agnes. “Rutenya mana aja?” Tanya saya balik. “Long Leju, Pengian, Long Peso. Sekitar 5 titik,” jawabnya lagi.

Buset. Seru juga nih. Saya pun izin ke istri. Untung diizinin. “Pergilah. Pasti dapat eksperince. Bagus buat bahan tulisan,” katanya.

Saya pun menghubungi Agnes. Memberitahunya, bahwa saya ikut ke Long Peso. Dengan speed pagi saya menuju Tanjung Selor. Lumayan lama menunggu di warung seberang pelabuhan Kayan. Tapi ada untungnya. Saat menunggu itulah, saya sempatkan menulis Ernest Slavinus “Rossi”. Takut, ide tulisan yang sudah ada di kepala hilang. Ternyata benar. Perjalanan menuju Long Peso sungguh jauh. Sekitar 160 Kilometer. Dan yang lebih parahnya lagi – bagi saya yang sudah ketergantungan dengan handphone– tidak ada jaringan. Jangankan 4G, 2G saja tidak ada. “Mati Belanda,” umpat saya.

Siang menjelang petang baru Agnes menjemput. Kami menuju kediaman Albert. Ketua Komisi 3, DPRD Provinsi Kaltara. Persiapan dilakukan. Rombongan berjumlah 8 orang. Albert juga mengajak dua anak gadisnya Theresia Veronika Emilia dan Cinthya Margareta. Ikut juga, Anggota DPRD Bulungan Purani Jaui, Iswandi Pengurus DPD PDIP Kaltara dan Deddy Sinaga Staf Sekwan. Kami menggunakan 3 kendaraan.

Sebenarnya saya pernah ke pedalaman Long Peso. Tahun 2007. Diajak Bupati Bulungan Budiman Arifin. Saat itu Budiman baru terpilih. Ia ingin meninjau warga Long Peso. Tapi lewat sungai. Menuju hulu sungai Kayan sungguh menantang. Makin ke hulu semakin eksotis. Banyak giram dan arus makin deras. Berbeda perjalanan kali ini, menggunakan jalur darat. Sejatinya sih sama. Di sungai ketemu giram, di darat sepanjang jalan lumpur dan batu. Keduanya bergelombang dan enjut-enjutan.

Masuk ke Mara 1, waktu menunjukkan pukul 16.45. Jalan mulai menyempit, disambut lobang di mana-mana. Menurut Albert, kala masih menjadi konsultan konstruksi, jalan ini salah satu proyeknya. Lebarnya hanya 6 meter. Dia mengaku prihatin melihat kondisi jalan tersebut sekarang.

“Ini pasti gara-gara banyaknya truk sawit yang lewat. Jalan ini sudah tidak bisa menanggung beban berat. Harus segera diperbaiki,” keluh Albert sambil terus menyupir mobil Inova hitam miliknya.

Tak terasa sampai di Desa Long Beluah, hari mulai senja. Matahari kini bersembunyi dibalik rimbunnya hutan. Udara hangat berganti sejuk. Langit biru berubah kelam. Ditengah gelap di sebuah perbukitan, mobil berhenti sejenak. Albert terlihat sudah ngantuk berat. Kemudi kini diambil alih Deddy Sinaga. Saya tetap disamping supir sambil mengamati perjalanan.

Perkiraan saya meleset. Jalan aspal yang lumayan mulus itu ternyata tidak berlangsung lama. Cuma antara Long Beluah, Long Lembu hingga Long Tungu. Sisanya jalan berbatu dan berdebu.

Lepas Long Tungu, perjalanan memasuki kebun kelapa sawit. Berkelok-kelok dan sempit. Beberapa pertigaan membuat bingung. Saya pun mulai bosan. Tidak ada pemandangan yang bisa memanjakan mata. Akhirnya, kelopak mata tak bisa diajak kompromi. Selalu ingin tertutup. Ditambah perut mulai keroncongan.

Untungnya ditengah perjalanan tepatnya di Telenjau ada warung kopi Dayak. Milik Pak Udin. Ternyata Purani dan Albert mengenalnya dengan baik. “Beliau ini dulu tim saya,” kata Albert.

Kami memanfaatkan warung Pak Udin untuk menikmati kopi dan Pop Mie. Rasanya, ini adalah Pop Mie ternikmat yang pernah saya makan.

Satu jam kami di Telenjau. Mendengarkan keluhan Pak Udin. Sebelum berpisah, Albert memberikan bingkisan ke tuan rumah.

“Ini ada bingkisan titipan dari Puan Maharani dan Deddy Sitorus. Mohon diterima yak Pak,” kata Albert sambil menyerahkan tas warna merah.

Memberikan bingkisan Puan Maharani & Deddy Sitorus ke Udin

Kami pun bergegas. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Mobil mulai bergerak. Debu yang awalnya berdiam di tengah jalan kembali terbang kesana-kemari dilindas roda mobil. Konvoi menjauh. Jarak antar mobil semakin renggang. Karena jarak pandang terbatas akibat debu, khawatir keselamatan

Giliran Pop Mie di lambung saya berulah. Kenikmatannya membuat mata jadi berat. Saya tanya ke supir berapa lama lagi perjalanan, Ia tidak bisa pastikan. Ya sudah, saya memilih yang pasti-pasti saja. Apalagi kalau bukan tidur. Lagian apa yang mau dilihat. Depan debu, kiri kanan gelap gulita.

Tiba-tiba mobil berhenti. Banyak cahaya lampu. Ada rumah permanen. Seperti mess. Yah betul, kami tiba di mess milik perusahaan kelapa sawit di Desa Long Lian. Berarti selama saya terlelap, perjalanan telah melewati Desa Na Aya, Balau dan Lepak Aru.

Supir turun bertanya ke security, jalan menuju Desa Long Lian. Pepatah malu bertanya sesat di hutan sawit memang wajib dipegang. Yah, betapa tidak, jalanan di kebun sawit banyak simpangan. Salah pilih jalan, dijamin nyasar entah kemana.

Tugu Selamat Datang di Desa Long Lian

Untunglah, satu jam dari mess itu kami tiba di Desa Long Lian. Desa ini hanya dihuni 88 kepala keluarga. Sekitar 320 jiwa. Suasana sudah sepi. Hanya rumah milik Ajang Liban yang ramai. Beberapa orang berkumpul menyambut kami.

“Kita tidur di sini?” Tanya saya ke Agnes. “Iya bang. Ini rumah keluarganya Pak Albert,” jawabnya.

Oke. Saya pun turun, menyapa tuan rumah. Sekaligus merenggangkan urat-urat yang mulai mengerut. Secangkir kopi menghangatkan tenggorokan. Tapi tidak mempan mengusir kantuk. Rombongan yang lain mulai mengambil posisi, sementara Albert masih asyik ngobrol di teras rumah. Saya pun bingung tidur dimana.

Saya berpikir keras, bagaimana pun tidur malam ini harus maksimal. Merehatkan tubuh dan mengembalikan tenaga yang terkuras. Besok pagi saya harus fit. Saya memilih mobil Inova. Diam-diam saya buka pintunya, menurunkan kaca sedikit. Mengambil jaket, tas untuk bantal dan cuss mata langsung terpejam. Tidur malam itu benar-benar nikmat. Tanpa jaringan 4G. HP jadi tak berarti.

Tak terasa. Hari mulai terang. Sinar matahari pagi menerobos di celah jendela mobil. Sepertinya, cahaya itu menepuk-nepuk untuk membangunkan saya.

Waktu saya naik ke teras, Jesica bingung. “Loh, bang tidur dimana tadi malam?” tanyanya. “Hehehe… Di mobil,” jawab saya. “Pantasan tadi malam dicariin bapak gak ada,” ujar Jesica.

Saya pun masuk ke rumah menuju kamar mandi. Waktu lewat dapur tuan rumah mulai bersiap-siap. Ibu-ibu Desa berkumpul. Mereka menyiapkan hidangan untuk acara reses. Nah, bagaimana jalannya reses di desa Long Lian? Apa saja keluhan warga yang disampaikan ke Albert dan Purani? Bagaimana kehidupan masyarakat Long Lian? (bersambung).

Print Friendly, PDF & Email
Artikel ini telah dibaca 178 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Oknum Guru SMK di Tarakan Diduga Cabuli Siswinya

26 September 2022 - 16:31 WITA

Kalapas Tarakan Sebut Napi Tertangkap di Luar Penjara Ada Surat Ijin dan Keluar Jenguk Anak

4 September 2022 - 22:08 WITA

Jalin Kerjasama dengan Lapas Tarakan, LBH Kaltara Semakin di Percaya Berikan Layanan Bantuan Hukum

4 September 2022 - 11:46 WITA

Pendaftaran Subsidi Tepat Pertamina di Regional Kalimantan Terus Meningkat

2 September 2022 - 17:54 WITA

Si Hitam yang Langka Diadopsi Pertamina

30 Agustus 2022 - 12:57 WITA

Pertamina EP Tarakan Field Raih Dua Penghargaan Nusantara CSR Award 2022

29 Agustus 2022 - 15:05 WITA

Trending di Daerah
error: Alert: Content is protected !!