Namanya Sofie Audelya Hasiholan. Umurnya 9 tahun. Kini dia duduk di bangku Sekolah Dasar Kelas 4 di SD 4 Penabur, Jakarta. Siapa Sofie? Yah, dia adalah anak bungsu Deddy Yevri Sitorus dan Ida Suryani.
“Terakhir Sofie ke Kaltara tahun 2019. Waktu itu kita satu keluarga Natal bersama di Nunukan,’’ ungkap Ida.
Sofie sengaja diajak kedua orang tuanya dalam kunjungan kerja di dapil kali ini. Sekolahnya sedang libur. Ida bercerita. Saat pertama kali diberitahu dia akan diajak ke Kaltara, Sofie gembiranya bukan kepalang.
Betapa tidak, Sofie biasanya lebih sering ditinggal di rumah. Sebab, orang tuanya tidak ingin sekolah Sofie terganggu. Namun, Ida bersyukur, walau sering ditinggal, Sofie tidak pernah mengeluh.
‘’Untungnya anak-anak independen. Gak selalu mau ngikutin kegiatan orang tuanya. Mereka juga sudah punya kegiatan sendiri,’’ kisah ibu tiga anak ini.
Nah, yang antusias sebenarnya sang Ayah, Deddy Sitorus. Ia sudah lama ingin mengajak Sofie jalan-jalan membelah lautan menggunakan Idea’s Cruese, Speed Boat miliknya. Sofie memang belum pernah naik speed itu.
Deddy ingin sekali, Sofie duduk di sebelahnya ketika Ia memegang kemudi. Tapi bukan hanya itu tujuan mengajak Sofie. Anggota Komisi 6 DPR RI ini memiliki agenda spiritual.
“Ini kan lagi banyak ibadah Paskah. Selain ajak Sofie liburan juga sekalian ikut ibadah Paskah,’’ ungkap politisi PDI Perjuangan ini.
Benar saja, tiba Kamis (6/4/23) malamnya, Sofie diajak mengikuti Misa Kamis Agung di Gereja Katolik Paroki Santo Yosef Pekerja di Juata Permai. Hampir dua jam Misa itu berlangsung. Tidak sedikit pun Sofie mengeluh.
Padahal, malam sudah mulai larut. Pun hujan turun begitu deras. Menjelang tengah malam, rombongan baru tiba di hotel, untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Ibadah Jumat Agung sudah menunggu di Gereja Santa Maria Imakulata, Kampung Baru. Ibadah ini pun berjalan kurang lebih dua jam.
Sofie dengan sabar mengikuti seluruh prosesi ibadah. Selesai pun, sambil duduk disebelah Ibunya, Sofie ikut saat Deddy ngobrol santai dengan jemaat gereja.
Ia nyaris tidak peduli dengan isi obrolan itu. Sofie memilih sibuk main game di tab yang tidak pernah lepas dari tangannya.
Dua proses ibadah sudah diikuti Sofie. Masih tersisa dua lagi. Vigili di Katedral Tanjung Selor dan Misa di Tideng Pala, KTT.
Sabtu siang, rombongan Deddy Sitorus menuju Tanjung Selor. Nah, inilah saatnya Deddy ingin menunjukkan pada anak kesayangannya itu serunya naik speed boat.
Sesaat setelah lepas tali dari Pelabuhan Tengkayu, Deddy langsung mengajak Sofie naik ke anjungan.
Ia ingin memperlihatkan kepada Sofie bahwa Ayahnya juga jago mengemudikan Speed Boat. Namun, pertunjukkan itu berlangsung singkat. Deddy tidak tega melihat anaknya itu menahan kencangnya angin.
“Yah sudah Ade turun di bawah aja,’’ kata Deddy.
Perjalanan Tarakan-Tanjung Selor tak sampai satu jam. Begitu tiba, jadwal Misa Vigili sudah menunggu. Ada waktu tersisa dua jam, Deddy meminta diajak ke Pasar Ramadhan, Lapangan Ahmad Yani.

Nah, tiba di Pasar Ramadhan Sofie begitu antusias. Ia memilih makanan kesukaan anak-anak. Apalagi kalau bukan sosis bakar.
“I want this,’’ ujar Sofie sambil menunjuk sosis yang sudah di incarnya.
Sofie memang lebih banyak menggunakan bahasa Inggris saat bercakap-cakap dengan kedua orang tuanya. Tapi sesekali, Ia juga menyahut dengan bahasa Indonesia. “Iya yang itu,’’ katanyasambil menunjuk sosis.
Hari mulai gelap. Deddy bergegas ke Katedral. Halaman gereja Katolik itu mulai ramai. Api unggun sudah disiapkan panitia. Malam saat ibadah Vigili, semua jamaat berkumpul di halaman gereja. Lantas bersama-sama jalan ke dalam gereja sambil membawa lilin.
Ternyata ibadah Vigili ini berlangsung lumayan panjang. Hampir tiga jam lebih. Itu pun disambung ngobrol santai dengan Uskup dan Jemaat. Lagi-lagi Sofie harus sabar menunggu.
Mungkun dia sadar, orang tuanya bukan orang biasa. Yah, Deddy memang diundang khusus oleh Uskup untuk mengikuti ibadah Vigili.
Malam sudah larut, rombongan bubar menuju hotel karena harus istirahat. Subuh sekitar pukul 05.30 perjalanan dilanjutkan menuju Tideng Pala. Disinilah ujian sesungguhnya bagi Sofie.
Pukul 04.30 Ia harus bangun. Berkemas menuju dermaga Kulteka. Tanjung Selor masih gelap. Ditambah hujan begitu deras. Karena harus tiba sebelum pukul 09.00 di KTT, Deddy memutuskan tetap tancap gas. Tapi kali ini Ia tidak berada dibalik kemudi speed. Deddy memilih tidur, begitu pula Sofie.
Sekitar 08.30, speed sudah berada di depan Tideng Pala. Pelabuhan tempat berlabuh sudah terlihat. Di dermaga, para penjemput bersiap menyambut. Rombongan pun menuju Gereja Katolik Stasi Santo Gebriel, Desa Sedulun. Disinilah ibadah puncak perayaan Misa.
Menurut Ida Suryani, ketika mengikuti Misa di KTT, kondisi Sofie mulai menurun. Wajahnya pucat, tidak ceria. “Kayanya masuk angin. Mungkin kecapean kali ya,’’ ujar Ida menggambarkan kondisi anaknya.
Benar saja, di dalam cabin sepanjang perjalanan KTT-Nunukan, Sofie mengeluh kepalanya pusing. Mungkin ini yang dinamakan mabok laut. Sofie bertahan hingga speed bertambat di Pelabuhan Tunontaka Nunukan.
Di Nunukan ini, Deddy harus menghadiri agenda sosialisasi Kementrian Perdagangan bersama pelaku UMKM di Hotel Fortune.
Sebenarnya, Ia ingin langsung kembali ke Tarakan setelah selesai acara. Namun, karena kondisi Sofie makin menurun, rencana itu dibatalkan.
‘’Kasihan Sofe, biarlah kita nginap semalam disini,’’ kata Deddy.
Betul saja, sampai di hotel Sofie mulai muntah-muntah. Kondisinya lemah. Wajahnya pucat. Perasaan khawatir pun menyelimuti Deddy dan Ida. Banyak yang menyarakan Sofie untuk dipijat. Dipanggilah seorang tukang pijat anak. Sofie pun dipijat, sampai ketiduran.
Keesokan harinya Sofie mulai ceria. Terlebih lagi, Senin itu Ia akan kembali ke Jakarta. Pusing yang sehari sebelumnya mendera, tak datang lagi. Sampai tiba di Tarakan, Sofie tetap fit. Sebelum naik pesawat, Ida bercerita.
‘’Sofie itu sehari sebelum berangkat ke Jakarta, malamnya masih nonton film Mario Bros di XXI, sama teman-temannya. Mungkin itu yang buat dia kecapean,’’ cerita Ida.
Begitulah kisah petualangan Sofie. Melelahkan. Tapi minimal, Ia sudah merasakan beratnya pekerjaan Ayahnya. Berjalan dari pulau ke pulau. Menyapa warga, mencarikan solusi dan menyerap aspirasi. (Pai)














Discussion about this post