Menu

Mode Gelap

Nasional · 6 Apr 2025

Penerapan Tarif Impor dan Bea Masuk 32% Oleh AS untuk Indonesia dan Dampak Ekonomi Terhadap Kalimantan Utara 


					Arifai Ilyas, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Tarakan. Foto: doc pribadi Perbesar

Arifai Ilyas, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Tarakan. Foto: doc pribadi

Pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai penerapan tarif impor dan bea masuk sebesar 32 persen terhadap Indonesia diperkirakan akan memiliki dampak ekonomi yang signifikan tidak hanya pada tingkat nasional tetapi juga di daerah-daerah seperti Kalimantan Utara.

Meskipun AS bukan merupakan negara tujuan ekspor utama bagi provinsi ini, kebijakan tersebut dapat mempengaruhi nilai tukar Rupiah dan stabilitas kurs transaksi perdagangan luar negeri, yang pada gilirannya berdampak pada daya saing produk-produk Kalimantan Utara di pasar internasional.

Negara-negara tujuan ekspor utama komoditas dari Kalimantan Utara seperti China, Jepang, India, dan Filipina mungkin mengalami perubahan dalam pola permintaan akibat fluktuasi harga global yang disebabkan oleh tarif baru ini. Di sisi lain, untuk sektor impor ke Kalimantan Utara yang melibatkan negara-negara seperti China, Swedia, Vietnam dan Singapura juga berpotensi terpengaruh oleh ketidakpastian ekonomi global serta biaya barang-barang impor yang mungkin meningkat sebagai respons terhadap kebijakan proteksionis AS. Karena itu, analisis mendalam diperlukan untuk memahami implikasi jangka panjang dari kebijakan ini terhadap perekonomian lokal serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan untuk menjaga kestabilan ekonomi daerah.

width"400"
width"400"
width"400"

Di bawah ini deskripsi singkat potret perdagangan internasional, Hasil Pertanian, Hasil Tambang dan Hasil Industri serta neraca perdagangan Kalimantan Utara tahun 2024 sebelum adanya kebijakan Donald Trump tentang tarif impor & bea masuk 32% untuk Indonesia.

width"300"
width"400"
width"400"
width"400"
width"400"

Pada bulan Juni 2024, total ekspor komoditi melalui pelabuhan di Kalimantan Utara (Kaltara) tercatat mencapai US$ 122,85 juta, yang menunjukkan penurunan signifikan sebesar 56,28 persen dibandingkan dengan nilai ekspor pada bulan Mei 2024 yang mencapai US$ 280,99 juta (BPS Kaltara Agustus 2024). Penurunan ini dapat diinterpretasikan sebagai dampak dari berbagai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi daya saing produk lokal di pasar global.

width"300"
width"300"
width"300"
width"300"

Secara eksternal, fluktuasi harga komoditas global dan kebijakan perdagangan internasional seperti tarif ekspor dapat berkontribusi terhadap penurunan permintaan. Sementara itu, secara internal, tantangan dalam infrastruktur pelabuhan dan logistik serta potensi masalah regulasi juga dapat menghambat kelancaran proses ekspor. Karena itu, analisis lebih lanjut diperlukan untuk memahami dinamika ini serta merumuskan strategi mitigasi guna meningkatkan kinerja ekspor Kaltara ke depan.

width"400"
width"400"

Pada bulan Juni 2024, nilai impor Provinsi Kalimantan Utara tercatat sebesar US$ 74,75 juta, mengalami penurunan sebesar 35,39 persen dibandingkan dengan nilai impor pada bulan Mei 2024 (BPS Kaltara Agustus 2024). Penurunan ini mencerminkan adanya perubahan signifikan dalam pola konsumsi dan kebutuhan barang di daerah tersebut.

width"200"
width"300"

Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan ini termasuk fluktuasi permintaan domestik akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil serta kemungkinan adanya kebijakan pemerintah yang membatasi impor untuk mendorong penggunaan produk lokal.

width"400"
width"400"

Selain itu, tantangan dalam rantai pasokan global dan peningkatan biaya logistik juga dapat mempengaruhi keputusan importir dalam melakukan pembelian barang dari luar negeri. Karena itu, analisis lebih mendalam diperlukan untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari tren penurunan ini terhadap perekonomian Kalimantan Utara serta strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi daerah melalui diversifikasi sumber daya dan penguatan industri lokal.

width"400"
width"400"

Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Utara pada bulan Juni 2024 menunjukkan surplus sebesar US$ 48,10 juta, yang mengalami penurunan drastis sebesar 70,90 persen dibandingkan dengan surplus bulan Mei 2024 yang mencapai US$ 165,29 juta (BPS Kaltara Agustus 2024). Penurunan signifikan ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara ekspor dan impor yang semakin melebar, di mana penurunan nilai ekspor komoditi dan fluktuasi permintaan global dapat menjadi faktor utama penyebabnya.

width"400"
width"400"

Surplus neraca perdagangan yang menyusut ini mengindikasikan bahwa meskipun provinsi masih mencatatkan kelebihan dalam perdagangan luar negeri, namun ketergantungan terhadap pasar internasional dan dinamika ekonomi global dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian daerah. Karena itu, penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap struktur ekonomi lokal serta merumuskan kebijakan strategis guna meningkatkan daya saing produk domestik dan memperkuat posisi neraca perdagangan di masa depan.

Dampak ekonomi dari penerapan tarif impor dan bea masuk sebesar 32 persen oleh Amerika Serikat terhadap Kalimantan Utara dapat dilihat dari beberapa aspek kunci. Pertama, meskipun AS bukan merupakan tujuan ekspor utama bagi provinsi ini, kebijakan tersebut berpotensi mempengaruhi nilai tukar Rupiah yang dapat mengakibatkan peningkatan biaya barang impor. Hal ini akan berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat, terutama di sektor-sektor yang bergantung pada barang-barang asing seperti elektronik dan bahan baku industri.

Kedua, negara-negara tujuan ekspor utama Kalimantan Utara seperti China, Jepang, India, dan Filipina mungkin mengalami penurunan permintaan akibat dampak tarif tersebut terhadap perekonomian mereka sendiri. Penurunan permintaan ini dapat menyebabkan penurunan volume ekspor komoditas dari Kalimantan Utara serta berpotensi mengganggu lapangan kerja di sektor-sektor terkait.

Untuk mitigasi dampak negatif tersebut, pemerintah daerah perlu mengambil langkah-langkah strategis yang mencakup diversifikasi pasar ekspor dengan menjajaki peluang baru di negara-negara lain yang tidak terpengaruh oleh kebijakan tarif AS. Selain itu, penguatan infrastruktur logistik dan pelabuhan juga sangat penting untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang serta menekan biaya operasional bagi para pelaku usaha lokal.

Penerapan insentif bagi industri lokal untuk meningkatkan daya saing produk domestik juga harus dipertimbangkan agar mampu bersaing baik di pasar domestik maupun internasional.

Terakhir, edukasi kepada pelaku usaha mengenai manajemen risiko dalam perdagangan internasional perlu ditingkatkan agar mereka lebih siap menghadapi fluktuasi pasar global akibat kebijakan proteksionis semacam ini. Dengan pendekatan mitigatif yang komprehensif dan adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi global, Kalimantan Utara dapat memperkuat ketahanan ekonominya sekaligus memanfaatkan peluang baru dalam konteks perdagangan internasional. (**)

Oleh: Arifai Ilyas, S.E.,M.M.,CDMM.,CCSME.,CBIS.,CPOM.,CPMM.

*) Penulis Adalah Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Tarakan / Koordinator Kaltara dan Ketua DPW Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Provinsi Kaltara.

 

Artikel ini telah dibaca 265 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kazakhstan merangkap Republik Tajikistan Bawa 15 Investor Kazakhstan Jajaki Investasi di IKN

29 Agustus 2025 - 19:00

Menteri PPPA Resmikan RBI di Balikpapan, Dorong Penguatan Perempuan dan Perlindungan Anak

29 Agustus 2025 - 17:31

Menanam Harapan, Merawat Nusantara: Otorita IKN dan Petani Sepaku Tumbuhkan Asa Melalui Kopi Liberika

28 Agustus 2025 - 21:18

Transformasi Logistik IKN: JNE Resmikan Sales Counter Perdana di Kawasan Inti Ibu Kota Nusantara

28 Agustus 2025 - 15:01

RM Sederhana Segera Hadir di IKN!

28 Agustus 2025 - 11:19

Telkomsel Gelar Solution Day 2025, Dorong Ketahanan dan Dampak Nyata Lewat Inovasi AI dan 5G untuk Berbagai Industri

27 Agustus 2025 - 21:32

Trending di Daerah