TARAKAN, Fokusborneo.com – Anggota Komisi VII DPR RI, Rahmawati Zainal, menggandeng Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) untuk menghadirkan program pelatihan pengurusan kekayaan intelektual (KI) serta fasilitasi pendaftaran gratis bagi kreator muda di Kalimantan Utara. Langkah ini disiapkan guna membantu generasi muda mengubah karya talenta lokal menjadi peluang ekonomi yang produktif.
Program strategis ini melibatkan Direktorat Jenderal di lingkungan Kemenekraf yang dikoordinasikan langsung bersama Komisi VII DPR RI. Selain tata cara pengurusan hak kekayaan intelektual, materi pelatihan juga mencakup pemanfaatan fotografi sebagai karya bernilai ekonomi tinggi.
“Nanti ada pelatihan dari Kementerian Ekonomi Kreatif, termasuk bagaimana mengurus kekayaan intelektual. Sekalian nanti ada pendaftaran gratis dari kementerian yang juga berkoordinasi dengan Komisi VII. Anak-anak muda juga diberikan pelatihan bagaimana sebuah foto bisa mengangkat ekonomi mereka, karena foto itu bisa bercerita dan mendatangkan uang,” ujar Rahmawati, Rabu (26/10/2026).
Ia menjelaskan, sasaran utama program ini adalah generasi muda, termasuk anggota karang taruna, mahasiswa, dan para perintis usaha pemula (startup). Menurutnya, setiap individu memiliki potensi talenta yang dapat dikembangkan menjadi karya produktif apabila mendapatkan ruang dan pendampingan yang tepat.
“Setiap orang pasti memiliki talenta. Saya berusaha menggali kemampuan mereka supaya kreativitasnya bisa keluar dan menjadi sesuatu yang mendatangkan ekonomi bagi mereka,” tambahnya.
Rahmawati menilai Tarakan serta wilayah Kaltara secara umum memiliki peluang besar dalam pengembangan ekonomi kreatif yang ditopang oleh keragaman budaya dan potensi lokal. Sejumlah subsektor, mulai dari film, seni tari, kebudayaan, hingga kuliner, dinilai sangat potensial dikembangkan sesuai karakteristik daerah.
Ia juga menyoroti masih perlunya mengubah pola pikir masyarakat, di mana sebagian besar masih memandang fotografi sebatas aktivitas mengambil gambar biasa, alih-alih produk visual yang bernilai jual tinggi.
“Selama ini mereka mungkin berpikir memotret itu tidak bisa mendatangkan uang. Padahal, kalau kita gali, berinovasi, dan berimprovisasi, itu bisa menjadi sebuah karya yang bernilai ekonomi,” tuturnya.
Untuk memperluas dampak program, sosialisasi dan pelatihan tidak hanya dipusatkan di Tarakan. Kegiatan serupa tercatat telah sukses dilaksanakan di Malinau dan Tanjung Selor, sementara Kabupaten Nunukan dijadwalkan menjadi lokasi berikutnya.
Materi yang diberikan pun dirancang fleksibel menyesuaikan potensi khas bahan baku, karakteristik wilayah, serta talenta masyarakat di masing-masing daerah.
Melalui program berkelanjutan ini, Rahmawati berharap generasi muda Kaltara tidak lagi sepenuhnya bergantung pada lowongan pekerjaan formal di perusahaan atau instansi pemerintah, melainkan mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creators) yang mandiri dan berkolaborasi.
“Mudah-mudahan nanti kita melihat lapangan pekerjaan itu bisa diciptakan oleh anak-anak muda. Mereka bisa membangun usaha sendiri, mengajak teman-teman berkolaborasi, dan dari sekarang belajar menjadi seorang CEO,” pungkasnya. (**)















Discussion about this post