TARAKAN, Fokusborneo.com – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Muslimat I Kota Tarakan mengukir sejarah sebagai satu-satunya sekolah swasta di Kalimantan Utara (Kaltara) yang berhasil meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Nasional.
Penghargaan bergengsi di bidang lingkungan hidup ini, diserahkan langsung Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq kepada Kepala Sekolah SDIT Muslimat I, Hj. Leginah, S.Pd., di Gedung Sasono, Taman Mini Indonesia Indah, pada Kamis (11/12/25).
Hj. Leginah, S.Pd., mengungkapkan perasaannya dengan penuh haru dan bangga. “Perasaan yang saya dapat, luar biasa sekali. Merasa anugerah yang tidak disangka-sangka bisa lolos sampai ke tingkat nasional itu cukup berat ya. Karena yang menilainya langsung dari pusat,” ujar Bu Leginah, Selasa (16/12/25).
Pencapaian ini bukanlah instan. SDIT Muslimat I memulai proses persiapan sejak tahun 2022 untuk tingkat kota, berlanjut ke tingkat provinsi pada tahun 2023, dan masuk dalam masa persiapan menuju nasional di tahun 2024, hingga akhirnya maju dan meraihnya pada tahun 2025.
“Ini baru pertama kali kami lolos ke tingkat nasional. Kami mengumpulkan bukti fisik kerjasama dengan komite, masyarakat, dan mitra, termasuk dalam bentuk absensi, undangan, dan foto kegiatan,” jelasnya.
Beberapa program unggulan yang turut mengantarkan sekolah ini ke tingkat nasional antara lain pemanfaatan air limbah untuk dijadikan kolam ikan. Serta konservasi air dan listrik yang dibuktikan dengan menurunnya pembayaran tagihan listrik, menunjukkan tingginya kesadaran penggunaan listrik oleh warga sekolah.
Selain itu, kerja sama dengan Pertamina yang memberikan support dana dan pendampingan program.
Dampak paling signifikan dari penghargaan Adiwiyata dirasakan langsung dalam dunia pendidikan dan pembentukan karakter siswa.
Menurut Bu Leginah, Adiwiyata berhasil menanamkan disiplin dan kesadaran lingkungan yang luar biasa pada anak-anak.
“Anak-anak itu dibilangkan, ‘Ini sekolah kita Adiwiyata.’ Tidak perlu lagi sampai 3-4 kali diingatkan bahwa jangan buang sampah sembarangan. Jadi mereka disiplin sendiri,” tegasnya.

Sebelum meraih Adiwiyata, masalah coretan di dinding sering terjadi, namun kini lingkungan sekolah tampak bersih dan terawat. Dampak ini meluas dari sekolah ke ranah publik. Siswa diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keindahan bukan hanya di sekolah, tetapi juga di fasilitas umum.
Siswa juga rutin mengumpulkan sampah kering seperti kertas bekas, kardus, botol yang kemudian disalurkan untuk didaur ulang, mengurangi penebangan pohon.
Anak-anak diajak memahami bahaya gas metan dari penumpukan sampah di TPA, memotivasi mereka untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
“Hadiah memang tidak ada dari pemerintahan, baik tingkat kota, provinsi, maupun nasional. Tapi dampaknya di pendidikan anak itu sangat membantu kami selaku pendidik terhadap anak-anak mencintai lingkungan,” tuturnya.
Setelah meraih Adiwiyata Nasional, SDIT Muslimat I tidak berpuas diri. Target selanjutnya adalah meraih Adiwiyata Mandiri pada tahun 2027.
“Kami masih siap untuk maju ke Mandiri lagi. Kami akan memanfaatkan sebaik mungkin dana bantuan dari Pertamina yang masih tersisa satu tahun lagi untuk persiapan kemandiri,” ujarnya.
Sejalan dengan pesan Menteri Lingkungan Hidup, sekolah yang telah meraih Adiwiyata diwajibkan untuk menularkan ilmunya kepada minimal dua sekolah lain yang belum Adiwiyata. SDIT Muslimat I siap memulai pembinaan ini pada awal tahun 2026.
Leginah berharap adanya dukungan penuh dari Pemerintah Kota dan Provinsi agar upaya pelestarian lingkungan melalui sekolah Adiwiyata, yang kini menjadi contoh di Kaltara, dapat terus ditingkatkan hingga ke jenjang Mandiri.(*/mt)















Discussion about this post