TARAKAN, Fokusborneo.com – Di balik setiap kasus kekerasan atau pelecehan siswa terhadap guru yang viral, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan sungguh-sungguh: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kelas kita, jauh sebelum insiden itu terekam dan menyebar?
Delapan tahun yang lalu, nama Ahmad Budi Cahyono menjadi berita duka yang mengejutkan seluruh Indonesia. Guru seni rupa honorer di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura itu meninggal dunia pada 1 Februari 2018, setelah dianiaya oleh muridnya sendiri saat mengajar di kelas. Ia berusia 26 tahun. Gajinya Rp 400.000 sebulan. Dan ia pergi tanpa sempat tahu bahwa kasusnya akan menjadi penanda dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Sejak itu, insiden serupa terus muncul dari berbagai penjuru negeri. Menurut laporan Detik (November 2023), Muhammad Sofyan, guru olahraga di SMKN 1 Woha, Bima, dipukul muridnya setelah menegur siswa yang merokok di dalam kelas. Kasus yang diberitakan Kompas (September 2025) menunjukkan bagaimana Mauluddin, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Sinjai, dianiaya seorang siswa di ruang BK di hadapan ayah pelaku yang merupakan anggota polisi aktif, yang saat itu juga hadir di ruangan.
Memasuki 2026, laporan CNA Indonesia (Januari 2026) mencatat insiden yang melibatkan guru bahasa Inggris Agus Saputra di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, dalam sebuah kejadian dengan kronologi yang saling dipersengketakan oleh kedua pihak. Tak lama berselang, laporan Antara (April 2026) memberitakan guru SMK swasta di Kecamatan Besuki, Situbondo, yang dipukul muridnya di kelas. Dan pada bulan yang sama, DetikEdu (April 2026) melaporkan bagaimana sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta merekam aksi pelecehan terhadap guru PKn mereka, Syamsiah, dari belakang tanpa sepengetahuan beliau sebelum video itu menyebar luas dan mendapat respons langsung dari Mendikdasmen.
Setiap kali kasus seperti ini mencuat, komentar yang paling cepat muncul adalah: generasi sekarang sudah tidak berakhlak. Media sosial merusak moral anak muda. Sekolah gagal menanamkan sopan santun. Narasi itu terasa meyakinkan karena sederhana dan langsung memberikan tempat untuk meletakkan kesalahan.
Saya memahami mengapa narasi itu begitu kuat. Dan saya tidak menganggap enteng kekhawatiran di baliknya. Tetapi ada sesuatu dalam narasi tersebut yang terasa terlalu rapi: ia menyelesaikan persoalan yang kompleks terlalu cepat, dan dalam kecepatannya, ia melewatkan pertanyaan yang paling penting.
Pertanyaan itu sederhana, tapi jarang benar-benar kita tanyakan: apakah siswa-siswa yang terlibat dalam insiden-insiden itu bersikap demikian kepada semua guru di sekolah mereka?
Hampir pasti: tidak.
Di sekolah yang sama dengan tempat insiden itu terjadi, selalu ada guru-guru lain yang tidak pernah mengalami hal serupa. Ada kelas-kelas yang berjalan dengan tenang dan saling menghargai. Ada siswa-siswa lain dari generasi yang sama yang belajar dengan tekun, menghormati guru-gurunya, dan meraih prestasi. Mereka tumbuh dalam budaya yang sama, terpapar media sosial yang sama, duduk dalam sistem pendidikan yang sama.
Kalau masalahnya adalah karakter satu generasi secara keseluruhan, seharusnya dampaknya merata. Tapi kenyataannya tidak merata. Dan ketidakmerataan itu adalah petunjuk paling jujur bahwa persoalannya lebih dalam dari sekadar soal moral generasi.
Penelitian dalam psikologi pendidikan sudah cukup lama menunjukkan bahwa remaja tidak menolak otoritas begitu saja. Yang mereka tolak sering tanpa kata-kata, kadang dengan cara yang salah adalah otoritas yang tidak mereka anggap sah secara relasional.
Robert Pianta, yang banyak meneliti hubungan guru dan siswa, menunjukkan bahwa kualitas relasi antara keduanya memengaruhi bukan hanya motivasi belajar, tapi juga perilaku siswa di kelas secara keseluruhan. Anthony Bryk dan Barbara Schneider, melalui penelitian panjang mereka di sekolah-sekolah Chicago, menemukan bahwa relational trust—kepercayaan yang dibangun atas dasar konsistensi, kepedulian, dan keadilan yang dirasakan langsung—adalah fondasi yang paling menentukan keberhasilan sebuah sekolah. Kepercayaan itu tidak datang otomatis bersama jabatan. Ia harus dibangun, dan ia bisa runtuh.
Kajian tentang procedural justice di lingkungan kelas juga menunjukkan hal yang serupa: siswa tidak hanya menilai apa yang dilakukan guru, tetapi bagaimana guru melakukannya. Apakah aturan diterapkan secara konsisten kepada semua orang, atau tebang pilih? Apakah ada ruang untuk menjelaskan sebelum dihukum? Apakah siswa merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar objek pendisiplinan? Ketika jawabannya berulang kali “tidak”, frustrasi menumpuk dan pada beberapa titik, ia meledak dengan cara yang tidak bisa dibenarkan, tapi bisa dipahami akarnya.
Edward Deci dan Richard Ryan, melalui self-determination theory-nya, menunjukkan bahwa siswa yang kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi di kelas yaitu rasa otonom, rasa kompeten, dan rasa terhubung secara konsisten menunjukkan keterlibatan dan motivasi yang lebih tinggi. Wentzel pun menemukan bahwa siswa cenderung berusaha lebih keras untuk guru yang mereka rasakan peduli terhadap mereka secara tulus.
Dengan kata lain: siswa Indonesia tidak selalu tidak hormat. Banyak dari mereka sedang mengevaluasi kadang secara sadar, kadang tidak apakah guru mereka layak mendapatkan usaha dan keterlibatan tulus mereka.
Perlu saya tegaskan: tidak ada pembenaran untuk kekerasan terhadap guru, dalam kondisi apa pun. Tidak ada ketidakadilan di kelas yang menjustifikasi tindakan fisik atau pelecehan verbal terhadap pendidik. Setiap pelaku perlu bertanggung jawab atas tindakannya secara pedagogis maupun hukum. Itu bukan soal yang perlu diperdebatkan.
Tetapi menghukum tanpa memahami adalah pekerjaan setengah jadi. Kita tidak akan bisa mencegah insiden berikutnya jika kita hanya merespons permukaan tanpa mau melihat ke dalam. Apa yang terjadi di kelas itu, hari-hari sebelum insiden? Bagaimana kualitas hubungan antara guru dan siswa di sana? Apakah ada sistem di sekolah yang memungkinkan ketegangan seperti itu dikenali lebih awal?
Generasi yang duduk di kelas hari ini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda. Mereka terpapar informasi global, terbiasa dengan ruang-ruang digital yang lebih setara dan partisipatif, dan memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perlakuan yang mereka anggap tidak adil atau tidak menghargai kemainan mereka. Ini bukan kemerosotan moral. Ini adalah pergeseran sosiokultural yang nyata.
Dalam konteks ini, otoritas guru tidak lagi bisa sepenuhnya bersandar pada posisi struktural semata. Semakin banyak siswa yang membutuhkan apa yang Andy Hargreaves sebut sebagai kehadiran guru sebagai manusia yang peduli secara tulus, yang konsisten, yang dapat diprediksi. Nel Noddings, melalui gagasannya tentang ethic of care, menegaskan bahwa kepedulian dalam pendidikan bukan sekadar nilai moral yang indah diucapkan; ia adalah kondisi konkret yang menentukan apakah seorang siswa merasa cukup aman untuk belajar, untuk salah, dan untuk bertumbuh.
Paulo Freire pernah mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak bisa terjadi dalam relasi yang dehumanisasi. Ketika siswa merasa tidak dilihat sebagai subjek melainkan hanya sebagai objek yang harus ditertibkan—sesuatu dalam relasi itu sudah rusak, bahkan sebelum insiden apa pun terjadi.
Kepada para guru: tulisan ini bukan tuduhan, dan bukan pula upaya meringankan tanggung jawab siswa. Ini adalah pengakuan bahwa pekerjaan Anda jauh lebih berat dari yang sering diakui publik. Anda bekerja dalam sistem yang tidak selalu mendukung, dengan beban administratif yang menguras, dan sering menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika sesuatu salah. Kelelahan itu nyata. Dan dalam kelelahan itu, membangun relasi yang hangat dan konsisten bukan hal yang mudah. Justru karena itu, ia layak mendapat penghargaan dan dukungan yang lebih serius.
Kepada para kepala sekolah: tidak ada program pelatihan karakter satu hari yang bisa mengubah iklim sekolah. Yang dibutuhkan adalah investasi berkelanjutan dalam membangun lingkungan yang aman secara psikologis bagi siswa dan guru sekaligus. Itu berarti ada sistem yang memungkinkan ketegangan diidentifikasi sebelum menjadi krisis; ada ruang bagi siswa untuk berbicara tentang pengalaman mereka di kelas secara jujur; dan ada mekanisme yang melindungi guru dari tekanan yang tidak semestinya mereka tanggung sendirian.
Kepada para pembuat kebijakan: respons regulatif saja tidak cukup. Permendikdasmen yang baik perlu diiringi kapasitas sekolah yang nyata untuk menjalankannya. Investasi dalam pelatihan kompetensi relasional guru, sistem konseling yang berfungsi, dan mekanisme pemantauan iklim kelas yang berkelanjutan adalah langkah-langkah yang lebih mendasar daripada sanksi yang datang setelah insiden viral.
Langkah paling sederhana yang sering diabaikan: tanyakan kepada siswa secara jujur dan anonim bagaimana pengalaman mereka di kelas. Bukan untuk membenarkan tindakan buruk. Tapi untuk memahami di mana retakan itu mulai terbentuk, sebelum ia melebar menjadi jurang.
Ahmad Budi Cahyono pergi meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung. Delapan tahun berlalu, dan kasus-kasus serupa terus bermunculan. Itu bukan tanda bahwa generasi muda kita semakin biadab. Itu tanda bahwa kita belum cukup serius bertanya—bukan hanya tentang perilaku siswa, tapi tentang kondisi di mana perilaku itu tumbuh.
Membangun sekolah yang aman bukan tentang menghilangkan konflik. Ia tentang membangun cukup kepercayaan sehingga konflik bisa dibicarakan sebelum berubah menjadi kekerasan. Dan kepercayaan itu seperti semua hal yang berharga dalam pendidikan dibangun perlahan, dalam interaksi sehari-hari yang mungkin tidak pernah masuk berita.
Penulis adalah Jhoni Eppendi, peneliti pendidikan dan pengajar bahasa Inggris di Universitas Borneo Tarakan.
Artikel ini bagian dari refleksi atas penelitian tentang persepsi siswa terhadap otoritas guru dalam pembelajaran di sekolah menengah Indonesia.
Sumber jurnalistik yang dirujuk:
Antara. (2026, 11 April). Polres Situbondo menangani dugaan pemukulan murid ke guru SMK. https://www.antaranews.com/berita/5521707/polres-situbondo-tangani-dugaan-pemukulan-murid-ke-guru-smk
CNA Indonesia. (2026, 15 Januari). Viral guru bahasa Inggris Agus Saputra dikeroyok siswa Jambi Tanjung Jabung Timur. https://www.cna.id/indonesia/viral-guru-bahasa-inggris-agus-saputra-dikeroyok-siswa-jambi-tanjung-jabung-timur-43241
Detik. (2023, 7 November). Viral siswa SMK di Bima pukul guru karena ditegur merokok dalam kelas. https://www.detik.com/bali/nusra/d-7024275
Detik. (2018, 1 Februari). Guru SMA di Sampang, Madura tewas diduga karena dianiaya siswa. https://news.detik.com/berita/d-3845896
DetikEdu. (2026, 15 Januari). Kronologi guru SMK dikeroyok siswa di Jambi. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8309077
DetikEdu. (2026, 20 April). Mendikdasmen beberkan penyelesaian kasus pelecehan pada guru SMAN 1 Purwakarta. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8452616
Kompas. (2025, 18 September). Kronologi lengkap anak polisi pukul wakil kepala sekolah SMAN 1 Sinjai di ruang BK. https://www.kompas.com/sulawesi-selatan/read/2025/09/18/080017688
Kompas. (2026, 16 Januari). Pak Guru Agus resmi lapor ke Polda Jambi. https://regional.kompas.com/read/2026/01/16/150247078
Kompas. (2026, 20 April). Siswa SMAN 1 Purwakarta olok-olok guru, ini respons Mendikdasmen. https://www.kompas.com/edu/read/2026/04/20/162715971














Discussion about this post