• About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Fokus Borneo
Advertisement
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • KPH Tarakan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • Rubrik
    • Ekonomi
    • Pendidikan
    • Olah Raga
    • Sosial Budaya
    • Hiburan
    • Energi
  • Opini
No Result
View All Result
Fokus Borneo
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini
Home Opini

Bukan Sekadar Krisis Akhlak

Ketika Hormat Harus Dibuktikan, Bukan Hanya Dituntut

by Redaksi
17/06/2026
in Opini, Pendidikan
A A
Bukan Sekadar Krisis Akhlak

Jhoni Eppendi, peneliti pendidikan dan pengajar bahasa Inggris di Universitas Borneo Tarakan. Foto: ist

TARAKAN, Fokusborneo.com – ​Di balik setiap kasus kekerasan atau pelecehan siswa terhadap guru yang viral, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan sungguh-sungguh: apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kelas kita, jauh sebelum insiden itu terekam dan menyebar?

​Delapan tahun yang lalu, nama Ahmad Budi Cahyono menjadi berita duka yang mengejutkan seluruh Indonesia. Guru seni rupa honorer di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura itu meninggal dunia pada 1 Februari 2018, setelah dianiaya oleh muridnya sendiri saat mengajar di kelas. Ia berusia 26 tahun. Gajinya Rp 400.000 sebulan. Dan ia pergi tanpa sempat tahu bahwa kasusnya akan menjadi penanda dalam sejarah pendidikan Indonesia.

Baca Juga

Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan Tebar Kepedulian, Hadirkan Semangat Belajar dan Harapan bagi Anak-Anak di Ring-1 Kilang

Pengelolaan KKMB: Kuat Secara Legalitas, Terhambat Status Lahan?

DPRD Kaltara Minta Mahasiswa Baru UBT Jadi SDM Unggul Daerah 

Pemprov Kaltara Tekankan Kualitas SDM saat Sambut Mahasiswa Baru UBT

​Sejak itu, insiden serupa terus muncul dari berbagai penjuru negeri. Menurut laporan Detik (November 2023), Muhammad Sofyan, guru olahraga di SMKN 1 Woha, Bima, dipukul muridnya setelah menegur siswa yang merokok di dalam kelas. Kasus yang diberitakan Kompas (September 2025) menunjukkan bagaimana Mauluddin, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Sinjai, dianiaya seorang siswa di ruang BK di hadapan ayah pelaku yang merupakan anggota polisi aktif, yang saat itu juga hadir di ruangan.

Memasuki 2026, laporan CNA Indonesia (Januari 2026) mencatat insiden yang melibatkan guru bahasa Inggris Agus Saputra di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, dalam sebuah kejadian dengan kronologi yang saling dipersengketakan oleh kedua pihak. Tak lama berselang, laporan Antara (April 2026) memberitakan guru SMK swasta di Kecamatan Besuki, Situbondo, yang dipukul muridnya di kelas. Dan pada bulan yang sama, DetikEdu (April 2026) melaporkan bagaimana sembilan siswa SMAN 1 Purwakarta merekam aksi pelecehan terhadap guru PKn mereka, Syamsiah, dari belakang tanpa sepengetahuan beliau sebelum video itu menyebar luas dan mendapat respons langsung dari Mendikdasmen.

​Setiap kali kasus seperti ini mencuat, komentar yang paling cepat muncul adalah: generasi sekarang sudah tidak berakhlak. Media sosial merusak moral anak muda. Sekolah gagal menanamkan sopan santun. Narasi itu terasa meyakinkan karena sederhana dan langsung memberikan tempat untuk meletakkan kesalahan.

​Saya memahami mengapa narasi itu begitu kuat. Dan saya tidak menganggap enteng kekhawatiran di baliknya. Tetapi ada sesuatu dalam narasi tersebut yang terasa terlalu rapi: ia menyelesaikan persoalan yang kompleks terlalu cepat, dan dalam kecepatannya, ia melewatkan pertanyaan yang paling penting.

​Pertanyaan itu sederhana, tapi jarang benar-benar kita tanyakan: apakah siswa-siswa yang terlibat dalam insiden-insiden itu bersikap demikian kepada semua guru di sekolah mereka?

​Hampir pasti: tidak.

​Di sekolah yang sama dengan tempat insiden itu terjadi, selalu ada guru-guru lain yang tidak pernah mengalami hal serupa. Ada kelas-kelas yang berjalan dengan tenang dan saling menghargai. Ada siswa-siswa lain dari generasi yang sama yang belajar dengan tekun, menghormati guru-gurunya, dan meraih prestasi. Mereka tumbuh dalam budaya yang sama, terpapar media sosial yang sama, duduk dalam sistem pendidikan yang sama.

​Kalau masalahnya adalah karakter satu generasi secara keseluruhan, seharusnya dampaknya merata. Tapi kenyataannya tidak merata. Dan ketidakmerataan itu adalah petunjuk paling jujur bahwa persoalannya lebih dalam dari sekadar soal moral generasi.

​Penelitian dalam psikologi pendidikan sudah cukup lama menunjukkan bahwa remaja tidak menolak otoritas begitu saja. Yang mereka tolak sering tanpa kata-kata, kadang dengan cara yang salah adalah otoritas yang tidak mereka anggap sah secara relasional.

​Robert Pianta, yang banyak meneliti hubungan guru dan siswa, menunjukkan bahwa kualitas relasi antara keduanya memengaruhi bukan hanya motivasi belajar, tapi juga perilaku siswa di kelas secara keseluruhan. Anthony Bryk dan Barbara Schneider, melalui penelitian panjang mereka di sekolah-sekolah Chicago, menemukan bahwa relational trust—kepercayaan yang dibangun atas dasar konsistensi, kepedulian, dan keadilan yang dirasakan langsung—adalah fondasi yang paling menentukan keberhasilan sebuah sekolah. Kepercayaan itu tidak datang otomatis bersama jabatan. Ia harus dibangun, dan ia bisa runtuh.

​Kajian tentang procedural justice di lingkungan kelas juga menunjukkan hal yang serupa: siswa tidak hanya menilai apa yang dilakukan guru, tetapi bagaimana guru melakukannya. Apakah aturan diterapkan secara konsisten kepada semua orang, atau tebang pilih? Apakah ada ruang untuk menjelaskan sebelum dihukum? Apakah siswa merasa diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar objek pendisiplinan? Ketika jawabannya berulang kali “tidak”, frustrasi menumpuk dan pada beberapa titik, ia meledak dengan cara yang tidak bisa dibenarkan, tapi bisa dipahami akarnya.

​Edward Deci dan Richard Ryan, melalui self-determination theory-nya, menunjukkan bahwa siswa yang kebutuhan psikologis dasarnya terpenuhi di kelas yaitu rasa otonom, rasa kompeten, dan rasa terhubung secara konsisten menunjukkan keterlibatan dan motivasi yang lebih tinggi. Wentzel pun menemukan bahwa siswa cenderung berusaha lebih keras untuk guru yang mereka rasakan peduli terhadap mereka secara tulus.

​Dengan kata lain: siswa Indonesia tidak selalu tidak hormat. Banyak dari mereka sedang mengevaluasi kadang secara sadar, kadang tidak apakah guru mereka layak mendapatkan usaha dan keterlibatan tulus mereka.

​Perlu saya tegaskan: tidak ada pembenaran untuk kekerasan terhadap guru, dalam kondisi apa pun. Tidak ada ketidakadilan di kelas yang menjustifikasi tindakan fisik atau pelecehan verbal terhadap pendidik. Setiap pelaku perlu bertanggung jawab atas tindakannya secara pedagogis maupun hukum. Itu bukan soal yang perlu diperdebatkan.

​Tetapi menghukum tanpa memahami adalah pekerjaan setengah jadi. Kita tidak akan bisa mencegah insiden berikutnya jika kita hanya merespons permukaan tanpa mau melihat ke dalam. Apa yang terjadi di kelas itu, hari-hari sebelum insiden? Bagaimana kualitas hubungan antara guru dan siswa di sana? Apakah ada sistem di sekolah yang memungkinkan ketegangan seperti itu dikenali lebih awal?

​Generasi yang duduk di kelas hari ini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda. Mereka terpapar informasi global, terbiasa dengan ruang-ruang digital yang lebih setara dan partisipatif, dan memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap perlakuan yang mereka anggap tidak adil atau tidak menghargai kemainan mereka. Ini bukan kemerosotan moral. Ini adalah pergeseran sosiokultural yang nyata.

​Dalam konteks ini, otoritas guru tidak lagi bisa sepenuhnya bersandar pada posisi struktural semata. Semakin banyak siswa yang membutuhkan apa yang Andy Hargreaves sebut sebagai kehadiran guru sebagai manusia yang peduli secara tulus, yang konsisten, yang dapat diprediksi. Nel Noddings, melalui gagasannya tentang ethic of care, menegaskan bahwa kepedulian dalam pendidikan bukan sekadar nilai moral yang indah diucapkan; ia adalah kondisi konkret yang menentukan apakah seorang siswa merasa cukup aman untuk belajar, untuk salah, dan untuk bertumbuh.

​Paulo Freire pernah mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati tidak bisa terjadi dalam relasi yang dehumanisasi. Ketika siswa merasa tidak dilihat sebagai subjek melainkan hanya sebagai objek yang harus ditertibkan—sesuatu dalam relasi itu sudah rusak, bahkan sebelum insiden apa pun terjadi.

​Kepada para guru: tulisan ini bukan tuduhan, dan bukan pula upaya meringankan tanggung jawab siswa. Ini adalah pengakuan bahwa pekerjaan Anda jauh lebih berat dari yang sering diakui publik. Anda bekerja dalam sistem yang tidak selalu mendukung, dengan beban administratif yang menguras, dan sering menjadi pihak pertama yang disalahkan ketika sesuatu salah. Kelelahan itu nyata. Dan dalam kelelahan itu, membangun relasi yang hangat dan konsisten bukan hal yang mudah. Justru karena itu, ia layak mendapat penghargaan dan dukungan yang lebih serius.

​Kepada para kepala sekolah: tidak ada program pelatihan karakter satu hari yang bisa mengubah iklim sekolah. Yang dibutuhkan adalah investasi berkelanjutan dalam membangun lingkungan yang aman secara psikologis bagi siswa dan guru sekaligus. Itu berarti ada sistem yang memungkinkan ketegangan diidentifikasi sebelum menjadi krisis; ada ruang bagi siswa untuk berbicara tentang pengalaman mereka di kelas secara jujur; dan ada mekanisme yang melindungi guru dari tekanan yang tidak semestinya mereka tanggung sendirian.

​Kepada para pembuat kebijakan: respons regulatif saja tidak cukup. Permendikdasmen yang baik perlu diiringi kapasitas sekolah yang nyata untuk menjalankannya. Investasi dalam pelatihan kompetensi relasional guru, sistem konseling yang berfungsi, dan mekanisme pemantauan iklim kelas yang berkelanjutan adalah langkah-langkah yang lebih mendasar daripada sanksi yang datang setelah insiden viral.

​Langkah paling sederhana yang sering diabaikan: tanyakan kepada siswa secara jujur dan anonim bagaimana pengalaman mereka di kelas. Bukan untuk membenarkan tindakan buruk. Tapi untuk memahami di mana retakan itu mulai terbentuk, sebelum ia melebar menjadi jurang.

​Ahmad Budi Cahyono pergi meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung. Delapan tahun berlalu, dan kasus-kasus serupa terus bermunculan. Itu bukan tanda bahwa generasi muda kita semakin biadab. Itu tanda bahwa kita belum cukup serius bertanya—bukan hanya tentang perilaku siswa, tapi tentang kondisi di mana perilaku itu tumbuh.

​Membangun sekolah yang aman bukan tentang menghilangkan konflik. Ia tentang membangun cukup kepercayaan sehingga konflik bisa dibicarakan sebelum berubah menjadi kekerasan. Dan kepercayaan itu seperti semua hal yang berharga dalam pendidikan dibangun perlahan, dalam interaksi sehari-hari yang mungkin tidak pernah masuk berita.

​Penulis adalah Jhoni Eppendi, peneliti pendidikan dan pengajar bahasa Inggris di Universitas Borneo Tarakan.

Artikel ini bagian dari refleksi atas penelitian tentang persepsi siswa terhadap otoritas guru dalam pembelajaran di sekolah menengah Indonesia.

​Sumber jurnalistik yang dirujuk:

​Antara. (2026, 11 April). Polres Situbondo menangani dugaan pemukulan murid ke guru SMK. https://www.antaranews.com/berita/5521707/polres-situbondo-tangani-dugaan-pemukulan-murid-ke-guru-smk

​CNA Indonesia. (2026, 15 Januari). Viral guru bahasa Inggris Agus Saputra dikeroyok siswa Jambi Tanjung Jabung Timur. https://www.cna.id/indonesia/viral-guru-bahasa-inggris-agus-saputra-dikeroyok-siswa-jambi-tanjung-jabung-timur-43241

​Detik. (2023, 7 November). Viral siswa SMK di Bima pukul guru karena ditegur merokok dalam kelas. https://www.detik.com/bali/nusra/d-7024275

​Detik. (2018, 1 Februari). Guru SMA di Sampang, Madura tewas diduga karena dianiaya siswa. https://news.detik.com/berita/d-3845896

​DetikEdu. (2026, 15 Januari). Kronologi guru SMK dikeroyok siswa di Jambi. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8309077

​DetikEdu. (2026, 20 April). Mendikdasmen beberkan penyelesaian kasus pelecehan pada guru SMAN 1 Purwakarta. https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8452616

​Kompas. (2025, 18 September). Kronologi lengkap anak polisi pukul wakil kepala sekolah SMAN 1 Sinjai di ruang BK. https://www.kompas.com/sulawesi-selatan/read/2025/09/18/080017688

​Kompas. (2026, 16 Januari). Pak Guru Agus resmi lapor ke Polda Jambi. https://regional.kompas.com/read/2026/01/16/150247078

​Kompas. (2026, 20 April). Siswa SMAN 1 Purwakarta olok-olok guru, ini respons Mendikdasmen. https://www.kompas.com/edu/read/2026/04/20/162715971

Tags: GURUHeadlineJhoni EppendimuridPendidikanUBTuniversitas borneo tarakan

Berita Lainnya

Energi

Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan Tebar Kepedulian, Hadirkan Semangat Belajar dan Harapan bagi Anak-Anak di Ring-1 Kilang

5 Agustus 2026 15:18
Opini

Pengelolaan KKMB: Kuat Secara Legalitas, Terhambat Status Lahan?

5 Agustus 2026 11:09
DPRD Kaltara Minta Mahasiswa Baru UBT Jadi SDM Unggul Daerah 
Parlemen

DPRD Kaltara Minta Mahasiswa Baru UBT Jadi SDM Unggul Daerah 

4 Agustus 2026 14:37
Pemprov Kaltara Tekankan Kualitas SDM saat Sambut Mahasiswa Baru UBT
Pemprov Kaltara

Pemprov Kaltara Tekankan Kualitas SDM saat Sambut Mahasiswa Baru UBT

4 Agustus 2026 11:36
Menyambut Mahasiswa Baru UBT, Wali Kota Tarakan Pesan Pentingnya Soft Skill dan Ketangguhan
Pemkot Tarakan

Menyambut Mahasiswa Baru UBT, Wali Kota Tarakan Pesan Pentingnya Soft Skill dan Ketangguhan

4 Agustus 2026 10:04
UBT Terima 2.137 Mahasiswa Baru, Rektor Tegaskan Tolak Perpeloncoan
Pendidikan

UBT Terima 2.137 Mahasiswa Baru, Rektor Tegaskan Tolak Perpeloncoan

4 Agustus 2026 09:43
Next Post

Polresta Bulungan Amankan Kedatangan Jamaah Haji di Pelabuhan Kayan I, Situasi Kondusif

Wakil Ketua DPRD Kaltara: Pawai Muharram Jadi Penguat Kebersamaan Warga

CIMB Niaga Pimpin Pembiayaan Sindikasi Sustainability-linked Loan Rp4,7 Triliun untuk PT Plaza Indonesia Investama dan PT Plaza Indonesia Realty Tbk

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami
  • Menteri ATR/Kepala BPN Tetapkan Standar Waktu Layanan untuk Pengukuran Tanah dan Peralihan Hak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langsung Diserbu Pencaker, PT PRI Sediakan 13 Posisi Strategis di Job Fair Tarakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekda Tarakan Abd. Azis Hasan Tekankan ASN Kerja Berbasis Target

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Ibrahim Ali Antar Kepala Desa Sambungan ke Peristirahatan Terakhir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Wali Kota Tarakan Beri Arahan Tegas ke DPMPTSP dan Disdik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Fokus Borneo

Ikuti Kami

Rubrik

  • Advetorial
  • Daerah
  • Derap Nusantara
  • Ekonomi
  • Energi
  • Fokus
  • Hiburan
  • IKN
  • Kantah Kota Balikpapan
  • Kementrian ATR/BPN
  • KPH Tarakan
  • Kriminal
  • Kuliner
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Opini
  • Otomotif
  • Parlemen
  • Pemkab Bulungan
  • Pemkab Malinau
  • Pemkab Nunukan
  • Pemkab Tana Tidung
  • Pemkot Balikpapan
  • Pemkot Tarakan
  • Pemprov Kaltara
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial Budaya
  • TNI Polri
  • Travel
  • Video

Recent News

34 Mahasiswa KKN KUC–BSN Selesaikan Program Pengabdian, Mahasiswa Belajar Langsung dari Pembangunan Nusantara

5 Agustus 2026 20:05
Realisasikan Aspirasi Warga, Herman Hamid Serahkan Ratusan Kursi Plastik untuk RT di Tarakan Tengah

Realisasikan Aspirasi Warga, Herman Hamid Serahkan Ratusan Kursi Plastik untuk RT di Tarakan Tengah

5 Agustus 2026 17:54
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP

error: Content is protected !!
No Result
View All Result
  • Nasional
  • Advetorial
    • Pemprov Kaltara
    • Pemkot Tarakan
    • Pemkab Bulungan
    • Pemkab Nunukan
    • Pemkab Malinau
    • Pemkab Tana Tidung
    • Pemkot Balikpapan
    • Kementrian ATR/BPN
    • Kantah Kota Balikpapan
  • Daerah
  • TNI Polri
  • IKN
  • Kriminal
  • Politik
  • Parlemen
  • KPH Tarakan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olah Raga
  • Sosial Budaya
  • Travel
    • Kuliner
  • Energi
  • Hiburan
  • Opini

© 2025 PT KITA MEDIA GROUP