TARAKAN, Fokusborneo.com – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat Kota Tarakan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Sekretariat DPC Partai Demokrat Tarakan, Selasa (1/9/2026) malam.
Mengusung tema “Meneladani Kepemimpinan Rasulullah, Menegakkan Politik Moral, Rasa Syukur Rasa Cinta, Perekat Silaturahmi dan Kepedulian Sosial”, kegiatan yang dimulai pukul 19.30 Wita ini berlangsung khidmat dengan menghadirkan Ustadz Muhammad Fadli Dalila sebagai penceramah.
Ketua DPC Partai Demokrat Kota Tarakan sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Tarakan, Herman Hamid, S.E., menyampaikan peringatan ini merupakan wujud rasa syukur sekaligus momentum untuk mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat.
”Hari ini DPC Partai Demokrat Kota Tarakan mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tema meneladani kepemimpinan Rasulullah, sifat siddiq-nya, rasa syukurnya, dan terutama kepedulian sosialnya. Ini sejalan dengan semangat Partai Demokrat untuk terus bersama rakyat,” ujar Herman Hamid.
Herman menambahkan, acara tersebut turut dihadiri pengurus partai, perwakilan PDRI, tokoh masyarakat, serta lebih dari 100 ibu-ibu yang tergabung dalam sembilan kelompok selawat dari berbagai wilayah, seperti Kelurahan Sebengkok, Kampung Satu, Pamusian, dan Selumit Pantai.
”Secara khusus ada sembilan kelompok selawat yang hadir. Sebelumnya kami juga telah membantu pengadaan seragam selawat untuk mereka, dan malam ini semua hadir bersilaturahmi mengenakan seragam masing-masing,” tambahnya.

Sebagai langkah pembinaan ke depan, Herman memiliki wacana untuk menghidupkan kembali ajang perlombaan seni rebana guna memfasilitasi bakat warga dan menguatkan kebersamaan.
”Harapan kami kelompok-kelompok selawat ini terus berkembang. Di tengah kesibukan masing-masing dan gempuran dunia maya, kegiatan seperti ini menjadi sarana efektif untuk menjaga keakraban, menyalurkan bakat, serta mempererat silaturahmi antarwarga,” pungkasnya.
Tak hanya mengimbau soal penguatan silaturahmi, dalam kesempatan penuh berkah tersebut Herman juga memberikan perhatian khusus terkait maraknya isu LGBT yang dinilai perlu diwaspadai bersama para orang tua, khususnya para ibu-ibu.
“Ibu-ibu harus memberikan perhatian serius. Sekarang ini iming-iming atau rayuan dari lingkungan LGBT sangat mengkhawatirkan, mereka berani keluar uang banyak untuk merayu anak-anak kita yang sedang tumbuh dewasa. Jangan sampai Kota Tarakan yang kita cintai ini terus terdampak,” imbau Herman.
Ia menegaskan, DPRD Kota Tarakan tengah mengupayakan langkah konkret legal formal melalui regulasi daerah demi menekan dan menangani permasalahan tersebut secara tegas.
“Makanya waktu saya pimpin, kami putuskan untuk mendorong pembentukan Perda (Peraturan Daerah) agar pemerintah punya payung hukum yang kuat untuk bertindak. Ormas Islam dan tokoh masyarakat juga butuh kepastian aturan ini agar tindakan di lapangan tidak berbenturan secara hukum,” tegasnya.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustadz Muhammad Fadli Dalila mengajak seluruh jemaah yang hadir untuk senantiasa meneladani akhlak Rasulullah SAW sejak masa kelahirannya hingga perjuangan dakwah beliau.
Penceramah mengulas kembali sejarah perjuangan Islam dan mukjizat kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir pada 12 Rabiul Awal di Tahun Gajah, saat Allah SWT menyelamatkan Ka’bah dari pasukan gajah Raja Abrahah.
Ustadz Muhammad Fadli juga menekankan keistimewaan serta keteladanan Nabi yang tumbuh dengan penuh ketabahan meski telah menjadi anak yatim sejak dalam kandungan, guna menjadi ikhtibar bagi umat Islam dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Selain ulasan sejarah tersebut, Ustadz Muhammad Fadli mengingatkan jemaah bahwa perayaan maulid bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan majelis yang sarat akan keberkahan dan kebanggaan di akhirat kelak.
“Ketahuilah para hadirin, peringatan maulid ini bukan acara yang biasa-biasa saja. Jangan dikira ini tidak ada keberkahan. Di dalam peringatan maulid Nabi Muhammad SAW ada keberkahan besar yang kelak bisa menjadi kebanggaan dan tabungan bagi kita semua di alam kubur,” tegas Ustadz Muhammad Fadli.
Ia kemudian menceritakan kisah tentang Abu Lahab yang diringankan azabnya setiap hari Senin di alam kubur karena pernah merasa gembira dan memerdekakan budaknya saat Nabi Muhammad SAW lahir.
“Abu Lahab yang sepanjang hidupnya memusuhi dan membenci Nabi saja mendapatkan kemurahan Allah diringankan azabnya di hari Senin karena pernah bergembira atas kelahiran Nabi. Maka merayakan maulid ini bukan sekadar merayakan, tetapi menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW dan kebahagiaan memperingati hari lahir beliau,” tambahnya.
Ustadz Muhammad Fadli menuturkan bahwa setiap manusia kelak akan menghadapi kematian, sehingga momen maulid harus dijadikan sarana memupuk kebaikan dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW sebelum ajal menjemput.(*/mt).












Discussion about this post