TARAKAN – Upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan masyarakat dan generasi muda, Sesuai arahan dan atensi Dirlantas Polda Kaltara Kombes Pol Jamal Alam H, SH. SIK. MSi. Satuan Lalu Lintas Polres Tarakan menggelar kegiatan Diseminasi Lalu Lintas yang dilaksanakan di Aula Paten Polres Tarakan.
Acara ini dihadiri oleh Perwakilan guru PPKN tungkat SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK Negeri dan Swasta , Fokus utama diseminasi ini adalah menanamkan budaya tertib berlalu lintas sejak dini serta mengenalkan strategi pencegahan kecelakaan (laka lantas) di jalan raya.
Sebagian besar kasus kecelakaan lalu lintas dipicu oleh faktor kelalaian manusia (human error). Kurangnya pemahaman terhadap rambu-rambu serta rendahnya kesadaran untuk saling menghormati sesama pengguna jalan menjadi catatan kritis.
“Diseminasi ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah preventif vital. Kita ingin mengubah pola pikir masyarakat agar menjadikan keselamatan sebagai kebutuhan utama, bukan sekadar ketakutan akan ditilang,” ujar
Guru memiliki peran penting dan strategis untuk penguatan pendidikan etika berlalu lintas bagi murid.
“Guru menjadi teladan ketertiban, kedisiplinan, kepatuhan berlalu lintas untuk keselamatan diri maupun orang lain. Dari hal kecil untuk yang lebih besar yakni pentingnya keselamatan,” kata IPTU Ardi Wisnu Pradana, S.Tr. K,S.I.K,M.H. melalui Kasat lantas Polres Tarakan melalui IPTU Priyati Ningsih Nasir, SH pada Diseminasi Pendidikan Lalu Lintas, Selasa (22/09/2026) di Aula Paten Polres Tarakan kepada guru-guru MI/SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK yang antusias mengikuti diseminasi,
IPTU Priyai Ningsih Nasir, SH memaparkan fakta, saat ini banyak anak suka kendaraan bermotor, namun mereka belum mahir berkendara, pemahaman berlalu lintas pun masih rendah. Sementara itu kurangnya kontrol dari orang tua.
Secara psikologis, emosi anak belum stabil dan ditambah kondisi jalan tidak memungkinkan. Keadaan tersebut menyebabkan banyaknya terjadi kecelakaan, yang mayoritas dialami kaum muda, mengakibatkan luka hingga meninggal dunia.
“Usia korban meninggal dunia karena kecelakaan didominasi pada kelompok usia produktif 15 -50 tahun, dan usia muda 15-25 tahun. Oleh karena itu sangat penting pendidikan etika berlalu lintas,” lanjut IPTU PIPIT yang akrab kami sapa di satua lalu lintas polres tarakan.
“Menurutnya, strategi untuk menumbuhkan kesadaran berlalu lintas melalui kebijakan sekolah yang mendukung, keteladanan etika berlalu lintas, diintegrasikan dalam mata pelajaran, serta kerja sama semua pihak.
“Inilah pentingnya kerja sama antara murid, sekolah, orang tua, masyarakat dan pihak kepolisian. Guru bisa menggunakan bahan ajar dengan contoh nyata etika berlalu lintas,” pentingnya tindak lanjut materi yang sudah diterima dan implementasinya di sekolah atau di madrasah. (**)













Discussion about this post