TARAKAN, Fokusborneo.com – Bagi warga Bumi Paguntaka, Bakso Sriwedari bukan sekadar tempat makan. Ia adalah memori kolektif yang telah bertahan melintasi zaman.
Sejak kepulan asap pertamanya membumbung di pinggir jalan Panglima Batur pada 1986, warung milik Pak Tarjo ini telah mengukuhkan diri sebagai ikon kuliner legendaris di Kalimantan Utara (Kaltara).
Namun, sejarah panjang itu sempat diuji lewat api. Pada 17 Februari 2025, sebuah musibah kebakaran hebat melanda, menghanguskan bangunan yang menjadi saksi bisu perjalanan puluhan tahun Bakso Sriwedari.
Banyak yang mengira itu adalah akhir dari sebuah era, namun bagi Tarjo, api tersebut justru menjadi pemantik semangat baru.
Setelah 10 bulan berproses dalam masa pemulihan, Sang Legenda resmi terlahir kembali. Bakso Sriwedari kini hadir dengan suasana yang lebih luas, modern, dan nyaman di Jalan Pulau Bangka, Kampung Satu Skip.
Meski tampilannya kini lebih estetik, Tarjo menjamin satu hal jiwa dari Bakso Sriwedari tidak berubah sedikit pun.
”Tidak merubah rasa dan tidak merubah harga,” tegas Tarjo dengan penuh keyakinan.
Ia memegang teguh prinsip yang jarang ditemukan di tengah gempuran inflasi. Baginya, kenyamanan pelanggan adalah prioritas, namun keterjangkauan adalah janji yang harus ditepati.
Nama Sriwedari sendiri diambil dari taman wisata ikonik di Solo. Sebuah nama yang memiliki makna mendalam bagi Tarjo.
”Sri artinya Dewi Sri, simbol sumber kehidupan, dan Wedari berarti bidadari,” jelasnya mengenai filosofi nama yang ia bawa sejak merantau.
Kesuksesan Bakso Sriwedari yang kini memiliki dua cabang di Tarakan bukan hanya karena kelezatan racikan dagingnya, melainkan juga karena prinsip kemanusiaan yang diterapkan sang pemilik.
”Moto kami berjualan sambil bersedekah. Tempatnya boleh bagus dan istimewa, tapi harganya tetap kaki lima,” ungkap Tarjo di sela-sela peluncuran tempat barunya, Sabtu (11/1/26).
Pernah melanglang buana membuka usaha hingga ke Manado, Ternate, bahkan Papua, Tarjo akhirnya memilih melabuhkan hatinya di Tarakan sejak tahun 2001.
Keputusan itu berbuah manis, kini Bakso Sriwedari telah menyatu dengan lidah masyarakat dari berbagai generasi, mulai dari anak muda hingga lansia.
Antusiasme warga menyambut kembalinya warung ini membuktikan bahwa status “legendaris” tidak didapat secara instan. Dengan bahan baku lokal yang selalu segar dan tim yang semakin solid, Tarjo berharap usahanya tidak sekadar bertahan, tapi terus mewarnai sejarah kuliner kota.
”Harapannya tentu bisa terus berkembang, berkembang, dan berkembang,” tutupnya dengan senyum optimis.(*/mt)















Discussion about this post