TARAKAN, Fokusborneo.com – Keresahan melanda warga Tarakan setelah dokumen internal milik Dinas Kesehatan (Dinkes) mengenai hasil uji sampel flu burung jenis H5N1 bocor di jagat maya sejak Rabu sore.
Informasi sensitif yang seharusnya menjadi konsumsi terbatas antar-tenaga medis tersebut justru memicu spekulasi liar di berbagai grup WhatsApp dan media sosial.
Menanggapi kegaduhan ini, Kepala Dinkes Tarakan, dr. Devi Ika Indriarti, angkat bicara untuk meluruskan konteks data yang telanjur viral tersebut.
Menurut dr. Devi, data tersebut sebenarnya merupakan instrumen kewaspadaan dini yang dikirimkan ke pihak Puskesmas. Sayangnya, tanpa penjelasan utuh, data tersebut dipelintir menjadi narasi yang menakutkan bagi konsumen.
”Data itu adalah bahan evaluasi internal kami untuk puskesmas, bukan untuk konsumsi umum. Kami khawatirkan munculnya salah persepsi seperti sekarang ini,” ungkap dr. Devi, Kamis (23/4/26).
Ia menyayangkan adanya hoaks yang mengekor pada kebocoran data tersebut, termasuk larangan membeli ayam di pasar tertentu.
”Dinas Kesehatan tidak pernah mengeluarkan larangan belanja ayam. Kesimpangsiuran inilah yang bikin warga resah,” tambahnya.
Masyarakat diminta tidak terjebak dalam ketakutan berlebih. Hingga detik ini, belum ditemukan satu pun kasus penularan H5N1 pada manusia di Tarakan.
Secara nasional pun, kasus penularan dari unggas ke manusia masih tergolong sangat langka.
Kunci menghadapi virus ini adalah menjaga kebersihan dan cara pengolahan. dr. Devi menegaskan virus H5N1 tidak akan bertahan hidup jika terkena panas tinggi.
”Warga tidak perlu takut makan ayam. Selama bahan pangan diolah dengan benar dan dimasak sampai benar-benar matang, virusnya pasti mati. Tidak ada risiko penularan lewat makanan matang,” jelasnya.
Dinkes Tarakan kini tengah melakukan investigasi internal. Temuan sementara mengarah pada dugaan kebocoran bukan berasal dari kantor dinas, melainkan dari oknum di lingkungan puskesmas. Meski belum membawa masalah ini ke meja hijau, dr. Devi memberikan peringatan keras.
”Jangan sembarangan menyebar informasi yang konteksnya belum jelas. Jika keresahan ini meluas dan berdampak fatal, tentu ada konsekuensi hukum yang menanti,” tegas dr. Devi.
Alih-alih fokus pada polemik kebocoran, Dinkes akan mengalihkan energi untuk memperkuat edukasi di lapangan. Melalui puskesmas-puskesmas, warga akan diajarkan cara memilih daging ayam yang sehat serta standar pengolahan pangan yang aman.(*/mt)














Discussion about this post