TARAKAN, Fokusborneo.com – Para pedagang ayam pedaging di Pasar Tenguyun dan Pasar Gusher, Tarakan, mengeluhkan sepinya pembeli akibat beredarnya informasi liar (hoaks) terkait temuan virus Flu Burung H5N1.
Narasi yang tersebar di media sosial dan grup WhatsApp tersebut berisi larangan bagi masyarakat untuk mengunjungi pasar karena adanya ancaman virus tersebut.
Yustan, salah satu pedagang ayam di Pasar Tenguyun, menyatakan informasi yang beredar sejak kemarin (22/4/26) tersebut, sangat memukul omzet para pedagang.
Menurutnya, narasi yang beredar menyebutkan adanya pengambilan sampel pada 14 April 2026 yang menunjukkan hasil positif. Namun, Yusran membantah keras klaim tersebut.
”Sangat berpengaruh sekali. Informasi itu tidak jelas dan merusak. Saya sudah tanya teman-teman, tidak ada pengambilan sampel dari Dinas Kesehatan atau instansi terkait selama setahun terakhir ini,” ujar Yustan, Kamis (23/4/26).
Yustan menjelaskan, prosedur biasanya jika ada pemeriksaan kesehatan hewan, petugas akan memberikan surat hasil uji sampel kepada masing-masing pedagang.
“Biasanya kalau ada sampel, kami dikasih surat hasilnya. Ini tidak ada sama sekali. Makanya kami kaget kenapa tiba-tiba ada isu seperti itu,” tambahnya.
Sementara itu, kondisi di pasar terpantau sangat lengang dari aktivitas jual-beli ayam. Yustan mengungkapkan biasanya pada jam 09.00 pagi, stok ayamnya sebanyak 30 hingga 40 ekor sudah habis terjual. Namun, hingga berita ini diturunkan, stok yang ia potong bahkan belum bergerak.
”Tadi saya hanya potong 20 ekor, itu pun belum ada yang laku. Hanya langganan saja yang ambil sedikit, itu pun mereka mengantisipasi karena takut. Pembeli umum sama sekali tidak ada yang datang,” keluh Yustan.
Jika kondisi ini berlanjut, pedagang terpaksa menyimpan stok ayam di dalam pembeku (freezer). Hal ini tentu merugikan karena harga ayam beku biasanya lebih rendah dibandingkan ayam segar, belum lagi biaya operasional listrik yang harus dikeluarkan.
Meski isu tersebut meluas, beberapa warga tetap memilih untuk berbelanja meski dengan rasa waswas. Sekar, salah satu pembeli, mengaku sempat ragu setelah melihat status WhatsApp temannya.
”Sempat ragu mau beli ayam karena ada kabar flu burung di Pasar Gusher dan Tenguyun. Tapi setelah tahu itu tidak benar, ya saya beli saja karena anak-anak di rumah senangnya makan ayam goreng,” kata Sekar.
Senada dengan Sekar, Ibu Santi, pembeli lainnya, menganggap isu tersebut hanyalah fitnah yang disebarkan pihak tidak bertanggung jawab. “Saya tidak terpengaruh, harga juga masih normal sekitar Rp48.000 per ekor bersih,” ungkapnya.
Pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat dikabarkan telah memberikan klarifikasi bahwa informasi terkait wabah flu burung tersebut tidak benar.
Para pedagang berharap pemerintah dan aparat segera menindak tegas penyebar hoaks tersebut dan melakukan klarifikasi menyeluruh agar kepercayaan masyarakat untuk kembali berbelanja ke pasar pulih kembali.
”Kami berharap informasi liar itu segera dihapuskan dan diklarifikasi supaya masyarakat tidak takut lagi. Kasihan kami penjual ayam dan pedagang makanan lainnya yang ikut terdampak,” tutup Yusran.(*/mt)












Discussion about this post