TARAKAN, Fokusborneo.com – Isak tangis haru pecah tak terbendung di halaman SMP Negeri 7 Kota Tarakan, Sabtu (23/5/26). Air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan menyelimuti prosesi pelepasan 277 siswa-siswi kelas IX tahun ajaran 2025/2026.
Acara yang berlangsung khidmat tersebut juga dihadiri oleh ratusan orang tua murid yang menyaksikan langsung momen kelulusan putra-putri mereka.
Suasana emosional mencapai puncaknya ketika para siswa berjalan perlahan menghampiri orang tua mereka masing-masing. Di tengah alunan musik yang menyentuh judul “terima kasihku”, tangis para siswa langsung pecah saat mereka memeluk erat ayah dan ibu mereka.
Sembari menumpahkan rasa haru dan terima kasih atas pengorbanan orang tua selama ini, tangan-tangan muda ini menyerahkan setangkai bunga sebagai simbol cinta dan bakti.
Banyak orang tua yang tidak mampu menahan air mata, memeluk balik anak-anak mereka dengan sangat erat dalam momen yang menguras emosi seluruh hadirin.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pelepasan kali ini tampil memukau dengan mengangkat kekayaan budaya Bugis. Seluruh siswa-siswi, orang tua, guru, hingga tamu undangan tampil serasi mengenakan pakaian adat Bugis yang penuh warna.
Acara diawali dengan prosesi sakral bernama Sompe, sebuah ritual adat Bugis yang bertujuan memberikan doa terbaik bagi para siswa yang akan melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kepala SMP Negeri 7 Tarakan, Budi Setyaning, menjelaskan pemilihan tema adat ini sengaja diganti setiap tahun sebagai upaya sekolah untuk merawat kebinekaan dan mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi muda.
“Kegiatan tahun ini di tahun 2025/2026, kami mengangkat tema Bugis. Setelah beberapa tahun yang lalu kami mengambil budaya adat suku lain seperti Suku Jawa dan Suku Tidung, ini untuk yang ketiga kalinya kami mengambil beda suku,” ujar Budi Setyaning.
Budi berharap, melalui tema-tema kebudayaan ini, para siswa tidak hanya mengenal Suku Tidung yang merupakan suku asli Tarakan, tetapi juga menyadari betapa kayanya tradisi yang dimiliki Indonesia.
”Zaman sekarang ini kan budaya-budaya ini sudah agak mulai pudar dan menghilang. Jadi kami mau memunculkan kembali, seperti ini lho Bugis. Kalau tahun kemarin seperti ini lho Jawa, seperti ini lho Tidung. Jadi mereka tetap bangga dengan suku mereka masing-masing,” tambahnya.
Ketika ditanya mengenai makna dari prosesi Sompe yang menjadi pembuka acara, Budi Setyaning memaparkan filosofinya yang sangat mendalam bagi masa depan para siswa.

Ia menjelaskan Sompe itu artinya berlayar atau pergi merantau. Kemudian Rima Ju, ke depan atau menuju masa depan. Kemudian Takunju-nging, tidak akan menengok ke belakang atau tidak akan kembali pulang sebelum berhasil. Dan Rimunase-re, ke tempat asal atau tanah kelahiran.
“Artinya, sekali anak-anak itu mengejar impian dan cita-cita, dalam hal ini mungkin merantau dari negerinya sendiri, mereka pantang pulang sebelum sukses atau berhasil. Supaya mereka tetap semangat selalu untuk berjuang terus,” paparnya.
Budi juga menitipkan pesan mendalam bagi 277 siswa dari 9 rombongan belajar (rombel) yang dilepas tahun ini agar selalu menjaga nilai-nilai moral di mana pun mereka berada.
”Pesannya, tetaplah jadi diri sendiri ketika kalian berada di negeri orang kelak. Tetap jangan sampai lupa dari mana asalnya, bahwa kalian ini Indonesia yang kaya akan budaya, yang mengedepankan adab, etika, dan sopan santun. Untuk yang mau melanjutkan sekolah, belajarlah sungguh-sungguh dan tetap jaga adab,” pungkasnya.
Setelah prosesi adat selesai, acara dilanjutkan dengan pengalungan medali kelulusan yang dilakukan langsung Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tarakan, Thamrin Toha didampingi Komite Sekolah SMPN 7 sekaligus Ketua Komisi II DPRD Kota Tarakan Simon Patino, serta Kepala SMPN 7, Budi Setyaning diikuti seluruh wali kelas IX.

Suasana haru sempat mencair saat para siswa menampilkan bakat mereka dalam sesi pentas seni. Penonton disuguhi berbagai tarian daerah yang indah, mulai dari Tarian Ngusur, disusul tarian khas Bugis seperti Indo Logo dan Angin Mamiri, hingga ditutup dengan megah oleh penampilan Tari Nusantara yang melambangkan persatuan.
Rasa kehilangan sekaligus syukur juga diungkapkan Fitri Rahmadani, perwakilan siswi kelas IX yang juga merupakan Ketua OSIS SMPN 7 Tarakan periode 2024-2025. Di atas panggung, dengan suara yang sesekali bergetar menahan haru, Fitri mengajak rekan-rekannya mengenang kembali perjalanan tiga tahun mereka di sekolah.
“Sepertinya kita baru saja melalui kegiatan MPLS bersama. Namun kita sudah berada di acara pelepasan kita sendiri. Kalian ingat tidak, kita bersama di tempat ini awalnya tidak saling mengenal satu sama lain, tapi waktu demi waktu kita bisa mengenal,” kenang Fitri.
Fitri menceritakan bagaimana dinamika pertemanan mereka yang penuh warna, mulai dari masa-masa canggung di kelas 7, kesedihan saat kelas di-rolling pada kelas 8 hingga sempat membuat mereka membuat kelompok-kelompok kecil (circle), hingga akhirnya mereka dipersatukan kembali di kelas 9 dengan kedewasaan yang lebih matang.
“Namun karena ada sistem rolling ini, kita jadinya punya banyak teman dan kita pastinya awalnya tidak menyangka kita akan bersama teman yang harusnya awalnya itu terlihat asing bagi kita. Dan hari ini, kita datang di acara pelepasan kita dengan nilai yang alhamdulillah dan kita bisa lulus di sini,” ucapnya.

Mengakhiri sambutannya, Fitri mengutip kalimat yang sedang tren di kalangan generasinya untuk menggambarkan perpisahan mereka.
”Benar apa kata pepatah yang mengatakan, ‘Setiap pertemuan pasti ada perpisahan,’ atau di era Gen Z sekarang ini ‘Setiap orang itu pasti ada masanya.’ Dan masa kita bersekolah di SMP Negeri 7 Tarakan harus berakhir sampai sini,” tuturnya lirih.
Tak lupa, Fitri menyampaikan permohonan maaf mengatasnamakan seluruh rekan-rekannya kepada para guru yang telah mendidik mereka.
”Saya di sini berdiri untuk mewakili kita semua, meminta maaf kepada Bapak, Ibu, Dewan Guru yang sudah membimbing kami, mendidik kami menjadi orang dengan pengetahuan yang luas serta etika dan adab yang baik. Namun kami pastinya sudah pernah melakukan kesalahan, perbuatan maupun perkataan meminta maaf,” tutup Fitri.
Acara pelepasan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara guru, siswa, dan orang tua murid. Meski acara telah usai, pelukan hangat dan mata yang sembap masih terlihat di sudut-sudut halaman sekolah, menandai babak baru yang siap dijalani alumni SMP Negeri 7 Tarakan.(*/mt)














Discussion about this post