TARAKAN. Fokusborneo.com – Nasib naas menimpa 15 warga asal Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat yang sempat terlantar di Kota Tarakan.
Setelah terlunta-lunta akibat dugaan penipuan ketenagakerjaan, belasan warga tersebut kini mengungsi sementara di shelter Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (DSPM) Kota Tarakan sembari menunggu jadwal pemulangan menuju kampung halaman.
Langkah penanganan darurat ini bermula saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan menerima laporan lapangan terkait keberadaan belasan warga yang kelaparan.
Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep, S.E., M.P.A., menyebutkan pihaknya langsung menerjunkan tim begitu mendapat kabar tersebut demi mengantisipasi dampak sosial yang lebih buruk.
”Laporan masuk ke kami kemarin siang sekitar jam 11 an. Karena situasi darurat dan pejabat dinas terkait sempat belum tersambung, saya perintahkan jajaran Kasi RR dan Darlok meluncur langsung ke titik lokasi. Ternyata betul ada 15 jiwa yang kondisinya sangat prihatin dan kelaparan,” kata Yonsep saat ditemui, Jumat (7/8/26).
Yonsep menambahkan, berdasarkan pendataan awal, para pekerja ini diduga menjadi korban tindak pidana penipuan oknum perusahaan di Tanjung Selor, Bulungan. Kasus hukumnya sendiri saat ini sudah ditangani kepolisian.
“Pengakuan awal mereka tertipu masalah pekerjaan di Tanjung Selor. Pokok perkara penipuannya seperti apa, sepenuhnya kami serahkan ke kepolisian karena sudah dilaporkan ke sana. Begitu ketemu di lapangan, fokus utama kami menyelamatkan perut mereka dulu. Kami rangkul paguyuban Pakuwaja dan tokoh masyarakat untuk menyuplai makanan darurat sebelum digeser ke shelter Dinsos,” terangnya.
Meski jadwal keberangkatan kapal Pelni direncanakan pada Minggu (9/8/26), pemulangan belasan korban ini masih membentur kendala biaya tiket dan kebutuhan konsumsi harian selama masa tunggu.
BPBD pun menggugah kepedulian masyarakat, khususnya kerabat paguyuban Jabar di Kaltara.
“Estimasi pulang tanggal 9 nanti naik kapal, tapi masalahnya ongkos mereka menipis. Pemkot punya keterbatasan anggaran jika harus menanggung penuh konsumsi siap saji setiap hari. Kami sangat berharap ada kepedulian dari kawan-kawan Paguyuban Jawa Barat di Tarakan untuk saling bantu agar saudara-saudara kita ini bisa balik ke kampung halaman,” tutur Yonsep.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Tarakan memastikan kebutuhan dasar para pekerja terlantar tersebut tetap dipenuhi selama berada di shelter.
Kepala DSPM Kota Tarakan, Arbain, menjelaskan penanganan ini dilakukan secara lintas instansi bersama Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker).
“Ini sebetulnya perselisihan ketenagakerjaan yang bermula dari tempat kerja mereka di wilayah Sajau, Bulungan. Karena ranahnya di Disperinaker, kami masuk dari sisi bantuan sosial. Dinsos menyediakan fasilitas shelter dan makanan agar mereka tidak terlunta-lunta di jalanan sembari menunggu jadwal keberangkatan kapal Pelni hari Minggu,” jelas Arbain.
Arbain mengonfirmasi seluruh warga berada dalam kondisi fisik yang sehat. Ia juga meluruskan fungsi shelter Dinsos sifatnya sebagai penampungan transit sementara agar penanganan warga berjalan sesuai prosedur.
“Kondisi fisik mereka sehat. Kalau murni terlantar tanpa arah tentu Dinsos yang menangani penuh, tapi karena ada akar masalah ketenagakerjaan, fasilitasi utamanya ada di dinas teknis. Kami membackup kebutuhan shelter dan makanan selama tiga hari, dari Jumat sampai Minggu,” tambahnya.
Fenomena warga terlantar akibat masalah pekerjaan bukan kali pertama terjadi di Tarakan. Sepanjang tahun 2026, DSPM Kota Tarakan mencatat sudah menampung hampir 30 orang dengan beragam latar belakang masalah.
“Sepanjang tahun ini saja sudah mendekati 30 kasus yang masuk shelter. Rata-rata sabtu-minggu selalu ada satu atau dua orang. Mayoritas dipicu masalah pekerjaan. Namun tetap kami verifikasi ketat, karena ada juga kasus yang mengaku terlantar padahal masih memiliki sanak keluarga di Tarakan,” pungkas Arbain.(*/mt)











Discussion about this post