TARAKAN. Fokusborneo.com – Produk olahan ikan bandeng asal Kota Tarakan terus menunjukkan perkembangan positif di pasar domestik maupun internasional.
Pelaku usaha olahan bandeng Tarakan, Hariyandi (D’baloy), mengungkapkan komoditas unggulan lokal ini telah berhasil menembus pasar ekspor hingga ke beberapa negara.
Andi menjelaskan, perkembangan usaha olahan bandeng seperti bandeng presto dan bandeng tanpa duri saat ini didukung sistem klusterisasi UMKM lokal yang telah berjalan hampir empat tahun.
Untuk ekspor, produknya telah rutin dikirim ke Malaysia (Sabah/Tawau) dengan volume mencapai 3 hingga 4 ton per bulan. Selain itu, penetrasi pasar juga telah merambah ke Taiwan, Singapura, hingga Swiss di kawasan Eropa.
“Untuk pasar Swiss sudah berjalan hampir dua tahun dengan pengiriman rutin setiap bulan. Konsumen utamanya adalah masyarakat Indonesia yang berdomisili di sana, seperti mahasiswa dan pekerja,” ujar Andi saat ditemui di sela-sela kegiatan pelatihan produksi dan pemasaran olahan bandeng di Kantor Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kota Tarakan, Rabu (26/8/26).
Ia menambahkan, keunggulan utama bandeng Tarakan terletak pada kualitas budidaya tradisional yang organik, menghasilkan daging lebih gurih dan tidak bau lumpur.
Selain kualitas, harga bahan baku di Tarakan relatif sangat kompetitif, yakni berkisar Rp25.000 per kilogram dibandingkan di Pulau Jawa yang bisa mencapai Rp88.000 per kilogram.
Meski memiliki potensi pasar domestik yang sangat besar di Pulau Jawa, Andi mengaku pengiriman ke wilayah tersebut masih terhalang kendala logistik dan rantai pasok.
Menurutnya, pengiriman jalur laut ke Jawa saat ini belum masif dan konsisten karena ketidakpastian jadwal serta ketersediaan moda pengiriman seperti program Tol Laut yang kini jalurnya dialihkan ke Makassar.
Pengusaha akhirnya harus bergantung pada jasa ekspedisi darat/laut umum yang memerlukan waktu tunggu hingga volume truk terpenuhi.
Sementara itu, opsi pengiriman via udara (kargo pesawat) membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Pengiriman kargo ke Jawa bisa memakan biaya Rp100.000 hingga Rp300.000 per 10 kg.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pengiriman ke Tawau, Malaysia, yang menggunakan kapal kayu dengan tarif jauh lebih murah, yakni sekitar Rp70.000 hingga Rp75.000 per gabus (styrofoam).
”Kemenangan kita ada di harga bahan baku dan kualitas organik. Namun, kendala terbesar kami untuk menembus pasar Jawa adalah logistik yang mahal dan jadwal pengiriman yang belum teratur. Harapan kami ke depan, akses jalur distribusi logistik bisa semakin lancar dan terjadwal dengan baik,” pungkas Andi.(*/mt)












Discussion about this post