SUNGAI BAWANG, Fokusborneo.com — Sebanyak 300 peserta memadati Festival Budaya Desa Sungai Bawang. Antusiasme masyarakat terhadap perlombaan tradisional, terutama lomba menyumpit, membuat panitia menggelar pertandingan selama dua hari.
Peserta tidak hanya berasal dari Desa Sungai Bawang atau masyarakat Dayak di kampung setempat. Sejumlah peserta dari berbagai daerah juga datang untuk mengikuti festival budaya yang menjadi agenda tahunan tersebut.
“Peminat lomba sumpit terlalu banyak. Jumlah peserta mencapai sekitar 300 orang, sehingga lomba sumpit kami laksanakan selama dua hari, pada tanggal 26-27 Agustus 2026” kata Nangudu, Ketua Karang Taruna Desa Sungai Bawang yang juga pendeta dan panitia acara.
Perlombaan berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan kategori perorangan dan kelompok. Panitia menyediakan total hadiah sebesar Rp5 juta bagi para pemenang.
Terselenggaranya festival tersebut juga mendapat dukungan dari Pertamina Hulu Mahakam. Perusahaan memberikan bantuan dana sebesar Rp45 juta untuk mendukung pelaksanaan kegiatan budaya masyarakat Desa Sungai Bawang.
Bantuan tersebut menjadi salah satu dukungan penting agar festival dapat digelar dan berbagai tradisi leluhur kembali diperkenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Festival Budaya Sungai Bawang merupakan upaya warga menghidupkan kembali tradisi yang mulai jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi berladang, misalnya, kini tak lagi dijalankan seperti masa lalu. Namun, cerita dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan melalui pertunjukan budaya.
“Karena sekarang sudah tidak ada lagi ladangnya seperti dulu, maka festivalnya yang kami munculkan,” ujar Nangudu.
Kegiatan budaya di kampung tersebut sebenarnya mulai digelar sejak 2021. Namun sejumlah kegiatan sempat vakum. Semangat untuk kembali mengangkat tradisi semakin kuat setelah Desa Sungai Bawang ditetapkan sebagai desa budaya pada 2025.
Menurut Nangudu, gagasan menghidupkan kembali budaya tersebut juga merupakan bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap warisan masyarakat. Ide awal pengembangan desa budaya, kata dia, mendapat dorongan dari Bupati.
Tak hanya lomba menyumpit, festival menampilkan sejumlah tarian dan permainan tradisional. Ada tarian Nyamalasakai yang menggambarkan penyambutan tamu. Tarian lainnya menceritakan kehidupan masyarakat saat membuka ladang, mencari lahan, hingga memasuki masa panen.
Panitia juga menampilkan tarian Ajai yang dimainkan anak laki-laki dengan membawa perisai dan parang. Tarian tersebut menggambarkan peran penjaga keamanan kampung pada masa lalu.
Seluruh peserta juga diwajibkan mengikuti tarian Leleng. Ada pula tarian Anyam Tali yang menggambarkan proses menganyam dan menjadi simbol keberagaman Indonesia.
Selain itu, terdapat permainan gasing, lomba lempar lembing, hingga lomba meraut kayu bumbung. Peserta berlomba menghasilkan rautan kayu yang paling indah dan panjang dalam durasi waktu yang telah ditentukan.
Bagi warga Sungai Bawang, festival bukan sekadar perlombaan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif tentang kehidupan leluhur agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
“Budaya leluhur harus terus dilestarikan. Jangan sampai punah,” kata Nangudu.(Oky)















Discussion about this post