TARAKAN, Fokusborneo.com – Komoditas olahan ikan kering tipis pepija atau yang kerap dikenal warga lokal sebagai ikan lembe merupakan salah satu potensi perikanan paling unggul dari pesisir Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).
Memiliki cita rasa yang khas serta tekstur renyah setelah dikeringkan, komoditas ini telah berhasil menembus dan memikat daya tarik pasar ekspor luar negeri. Namun, di balik besarnya potensi pasar internasional tersebut, para nelayan dan pengolah lokal selama ini terbentur realitas proses produksi di rantai hulu yang masih terikat pada cara-cara konvensional.
Metode pengeringan ikan pepija yang mayoritas dilakukan di tempat terbuka di bawah terik matahari langsung menyimpan risiko ekonomi dan kualitas yang cukup kritis. Proses jemur terbuka membuat olahan ikan sangat rentan terpapar kotoran, debu jalanan, serta kontaminasi lalat yang hinggap untuk bertelur.
Apabila pembeli internasional (buyer) meninjau secara langsung rantai pasok di lapangan dan melihat proses pengeringan yang serba terbuka tersebut, citra higienitas produk dapat menurun secara drastis. Hal ini tidak hanya memicu penolakan standar mutu pasar ekspor, tetapi juga berpotensi besar menjatuhkan harga tawar produk di tingkat nelayan.
Melihat urgensi ekonomi dan tantangan kualitas tersebut, tim mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset dan Penalaran Ilmiah (RPI) Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengambil langkah nyata.

Melalui alokasi pendanaan Program Penguatan Kapasitas (PPK) Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), mereka meluncurkan program berbasis pengabdian dan pengenalan teknologi tepat guna yang diberi nama Smart-Fish Juata.
Reza Saputra Wahab, mahasiswa Universitas Borneo Tarakan sekaligus Ketua Tim Pelaksana Program Smart-Fish Juata, menjelaskan latar belakang serta perjuangan timnya dalam menyusun program pemberdayaan masyarakat pesisir ini.
“Jadi program ini itu adalah bentuk lomba dari salah satu program Belmawa, atau Kemendiktisaintek yaitu PPK Ormawa Program Penguatan Kapasitas Ormawa. Jadi kami lewat UKM RPI UBT, Alhamdulillah tahun ini mengajukan proposal di danai program kami yang Smart-Fish Juata ini,” ujar Reza saat memaparkan programnya, Jumat (11/9/26).
Teknologi yang diperkenalkan tim UKM RPI UBT terletak pada penerapan teknologi Solar Dryer System yang diintegrasikan secara langsung dengan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Alat pengering ini dirancang khusus menggunakan konsep closed-system atau ruang pengering tertutup.
Berbeda dengan alat pengering mekanis konvensional yang mengandalkan elemen pemanas (heater) berdaya tinggi, Solar Dryer System ini memanfaatkan prinsip efisiensi efek rumah kaca.

Material transparan pada struktur ruang pengering didesain untuk menangkap dan mengurung panas radiasi sinar matahari di dalam chamber pengering. Sementara itu, pasokan daya listrik dari Panel Surya (PLTS) difokuskan murni untuk menyuplai sirkulasi udara mekanis, seperti pengoperasian exhaust fan dan kipas blower.
Kipas-kipas ini bekerja menarik uap air dari hasil dehidrasi secara terus-menerus ke luar kabin. Dengan mekanisme ini, proses pengeringan ikan pepija dapat berjalan optimal tanpa memerlukan paparan langsung dari udara luar yang kotor.
Keunggulan sistem ruang tertutup ini memberikan benteng penghalang fisik (physical barrier) yang tangguh. Pengolahan ikan terisolasi secara sempurna dari paparan debu, kotoran terbang, serta akses lalat.
Selain itu, produk juga terlindungi secara otomatis dari tetesan air hujan apabila cuaca tiba-tiba berubah mendung atau hujan deras, sehingga kualitas produk akhir menjadi stabil, seragam, dan higienis sesuai kelayakan konsumsi global.
Guna memastikan teknologi ini benar-benar memberikan manfaat langsung dan tidak terbengkalai pascaprogram, tim PPK Ormawa UKM RPI UBT membentuk kelompok sasaran yang beranggotakan 20 orang nelayan dan pengolah ikan di Kelurahan Juata Laut. Pendekatan program tidak sekadar membagikan alat fisik, melainkan membangun ekosistem operasional yang komprehensif.
Rangkaian kegiatan pemberdayaan meliputi pelatihan kelistrikan dasar PLTS, cara pembersihan panel surya agar daya serap matahari tetap optimal, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembersihan chamber secara berkala. SOP ini penting diterapan agar sisa uap air dan material organik dari ikan tidak menimbulkan kelembapan berlebih yang berpotensi memicu timbulnya jamur atau korosi pada struktur alat.

Reza Saputra Wahab menambahkan tim pelaksana terus mendampingi para nelayan agar mampu secara mandiri merawat dan mengoperasikan perangkat tersebut.
“Tujuan utama kami adalah melatih kemandirian kelompok nelayan di Juata Laut. Kami tidak hanya datang membawa alat, tetapi juga menyusun SOP operasional dan pendampingan berkala. Harapannya, mereka mampu menguasai pemeliharaan alat secara mandiri sehingga produksi ikan pepija higienis ini bisa terus berjalan konsisten dalam jangka panjang,” jelas Reza.
Meskipun sistem pengering tertutup berbasis PLTS ini telah terbukti efektif menjaga higienitas dan nilai jual olahan, kapasitas pengeringan alat yang ada saat ini masih berada di kisaran 30 kilogram per satu siklus pengeringan. Jumlah tersebut diakui masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan total volume hasil tangkapan dan produksi harian nelayan Juata Laut yang mencapai ratusan kilogram.
Oleh karena itu, keberhasilan implementasi skala percontohan mahasiswa UBT ini diharapkan dapat menjadi stimulan awal untuk memantik perhatian serta dukungan nyata dari Pemerintah Kota Tarakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), maupun instansi terkait lainnya. Diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memfasilitasi pengadaan unit Solar Dryer System berskala industri yang lebih besar.
Dengan replikasi teknologi tepat guna secara masif, produk ikan kering tipis pepija khas Tarakan tidak hanya terbebas dari stigma pengolahan kumuh, tetapi juga mampu mengamankan posisi tawar ekonomi nelayan lokal dan konsisten “naik kelas” menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia di panggung pasar internasional.(*/mt)














Discussion about this post