TANJUNG SELOR, Fokusborneo.com – Sebelum duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Supa’ad Hadianto pernah menjalani kerasnya kehidupan sebagai buruh. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya dan membentuk kepeduliannya terhadap perjuangan para pekerja hingga hari ini.
Semangat tersebut disampaikan Supa’ad saat memimpin audiensi Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kaltara bersama Aliansi Buruh Kaltara, Korwil KSBSI, dan DPD SP KAHUT KSPSI di Kantor DPRD Kaltara, Tanjung Selor, Selasa (15/9/26).
Di hadapan para buruh, Supa’ad tidak hanya berbicara sebagai wakil rakyat. Ia berbicara sebagai seseorang yang pernah merasakan langsung kehidupan dan perjuangan seorang pekerja.
“Tahun 1993 itu saya sudah jadi buruh. Masuk camp, keluar camp,” kata Supa’ad mengenang masa lalunya.
Selama lebih dari satu dekade, ia menjalani kehidupan sebagai buruh hingga tahun 2004. Perjalanan panjang tersebut menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak pernah ia lupakan, meskipun kemudian membawanya ke dunia politik.
Supa’ad mengaku pengalaman tersebut membuat dirinya memiliki kedekatan emosional dengan persoalan yang dihadapi para pekerja.
“Suasana kebatinan teman-teman saya ini sama dengan suasana kebatinan saya. Karena saya pernah merasakan itu,” ujarnya.
Menurutnya, perjuangan buruh bukan sesuatu yang asing. Ia memahami bagaimana pekerja menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan, termasuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan.
Latar belakang keluarganya juga turut memperkuat kepeduliannya terhadap dunia pekerja. Politisi NasDem itu menyebut orang tuanya juga memiliki kehidupan sebagai pekerja.
“Mungkin saya lebih beruntung daripada saudara-saudara. Dan orang tua saya itu pekerja,” tuturnya.
Bagi Supa’ad, perjalanan hidup dari seorang buruh hingga menjadi anggota DPRD memberikan perspektif tersendiri dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Ia menyadari tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam mengubah nasib. Namun, keberuntungan yang diperolehnya tidak membuatnya melupakan mereka yang masih berada dalam perjuangan.
Karena itu, ketika aspirasi buruh disampaikan dalam forum audiensi, Supa’ad menyatakan akan meresponsnya melalui jalur politik yang dimilikinya.
“Begitu ada bicara tentang buruh masuk ke saya, saya langsung eksekusi saat itu juga,” katanya.
Sebagai anggota DPRD Kaltara, ia berkomitmen membawa aspirasi tersebut ke tingkat yang lebih tinggi melalui jejaring politik dan kelembagaan.
Supa’ad menilai perjuangan masyarakat dalam memperoleh perlindungan dan keadilan tidak selalu ditempuh melalui satu jalan.
Ia mengapresiasi kelompok-kelompok masyarakat yang memperjuangkan haknya melalui jalur hukum, termasuk perjuangan yang dilakukan para buruh di tingkat nasional hingga Mahkamah Konstitusi.
Dalam konteks pembahasan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan, Supa’ad memastikan aspirasi yang disampaikan buruh Kaltara akan menjadi bahan rekomendasi DPRD kepada pemerintah dan DPR RI.
Ia menegaskan rekomendasi tersebut akan disampaikan sesuai pokok-pokok aspirasi yang telah dirumuskan bersama.
“Saya akan merekomendasikan sesuai persis dengan Bapak Ibu teman-teman yang ada di pokok-pokok itu. Tidak mengurangi, tidak menambah,” tegasnya.
Perjalanan hidup Supa’ad menunjukkan jabatan politik tidak selalu berjarak dengan kehidupan rakyat. Pengalaman sebagai buruh menjadi pengingat bahwa sebelum berada di gedung parlemen, ia pernah berada di tengah perjuangan yang sama dengan para pekerja yang kini datang menyampaikan aspirasi.
“Mudah-mudahan audiensi ini punya manfaat,” pungkasnya.(**)















Discussion about this post