TARAKAN – Setelah mengevakuasi dua korban kecelakaan pesawat Smart Air, Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi Alat perekam data penerbangan (API Box) atau kotak hitam dan Emergency locator transmitter (ELT), Senin (11/3/2024).
Kepala Kantor SAR Tarakan, Syahril mengungkapkan seluruh operasi keselamatan dan evakuasi tim dari lapangan berjalan dengan baik, meski sempat terbentur cuaca yang tidak mendukung. Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada seluruh unsur yang terlibat, termasuk TNI dan Polri di Tarakan dan Malinau beserta Bandara Juwata Tarakan.
“Kami berhasil mengevakuasi kotak hitam dan alat perekam dari data pesawat. Kondisinya baik dan masih berada di tempatnya dalam pesawat. Dengan ini Kami nyatakan untuk operasi SAR gabungan telah selesai dilaksanakannya,†ujarnya.
Komandan Lanud Anang Busra, Kolonel Bambang Sudewo menambahkan, operasi penjemputan tim evakuasi beserta API Box dan ELT ini, dipantau langsung melalui radar dan ditampilkan di posko.
“Setelah berhasil dibawa ke Bandara RA Bessing, selanjutnya tim gabungan yang berasal dari Tarakan digeser secara bertahap. Hely dari Penerbad di Malinau sudah standby untuk membawa tim gabungan kembali ke Tarakan, Selasa (12/3/2024) pagi,” tambahnya.
Diakuinya, akses yang dilalui banyak jalan berputar dan cukup lama jika melewati akses darat. Ia pun bersyukur selama beberapa hari ini tidak ada hujan, sehinga tidak lagi terkendala dengan cuaca untuk tim darat. Kesulitan sebenarnya, harus menebak jalan dengan hanya memiliki titik koordinat. Ditambah lagi telepon satelit baru tembus di hari keempat.
Baca juga :Smart Aviation Pulangkan Jenazah EOB Deny ke Kampung HalamanÂ
“Tim yang menginap di lokasi memang sudah dipersiapkan untuk kondisi terburuk sekalipun. Kami juga terus drop logistik, jika tidak bisa dilakukan menarik tim dari lokasi dan menungu 1×24 jam berikutnya,†akunya.
“Lokasi baru bisa terbuka pada pukul 15.00 Wita dan menuju gelapnya tidak bisa melihat kebawah atau tertutup pucuk pohon itu di maksimal 18.00 Wita. Jadi, kami hanya punya waktu 3 jam, golden time untuk melaksanakan fokus operasi penyelamatan dan evakuasi. Setelah mengatur taktik, akhirnya semua bisa selesai dengan aman,†ungkapnya.
Sedangkan terkait puing pesawat, karena yang dibutuhkan hanya data di ELT maka kemungkinan bangkai pesawat akan dibiarkan di lokasi. ELT ini merupakan alat pemancar yang jika dibiarkan di lokasi akan mengirimkan pemancarnya secara intenasional dan terus menerus sampai baterai habis.
“Dan itu mengganggu, karena dianggap selalu ada emergency. Makanya harus diambil ELT itu dan dimatikan. Sehingga sistem safety sudah off dan tertangani, selanjutnya akan digunakan KNKT untuk mencari penyebabnya supaya kedepan tidak terjadi lagi kasus serupa, terutama pesawat jenis pilatus ini. Jadi, media, metode dan engine ada sendiri penanganannya,†beber Danlanud.
Nantinya akan ada safety regulasi lagi yang lebih penting untuk kegiatan penerbangan ini. Terlebih lagi wilayah Kaltara yang masih mengandalkan pesawat perintis untuk bisa mencapai beberapa daerah di pedalaman.
“Intinya semua aman, tim juga selamat dan tugas dilaksanakan dengan baik. Selanjutnya untuk API Box dan ELT akan diserahkan langsung ke tim KNKT untuk melakukan forensik kedalaman data itu, apakah didahului kerusakan engine atau hal lainnya,†ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bandara Juwata Tarakan, Bambang Hartato menambahkan proses dari awal sampai pencarian evakuasi berjalan lancar. Dari Kementerian Perhubungan juga menyampaikan apresiasi hingga semua bisa terlaksana dengan baik.
“Kami akan melakukan RAM Check untuk semua angkutan yang akan berangkat, termasuk untuk pesawat perintis guna memastikan keamanan dan keselamatannya. Segera kami laksanakan, karena terkait dengan otoritas Bandara Juwata Tarakan merupakan wewenang Otoritas Bandara Wilayah VII Balikpapan,†pungkas dia.(*)













Discussion about this post