TARAKAN, Fokusborneo.com – Universitas Borneo Tarakan (UBT) mencetak sejarah baru dalam dunia akademik. Prof. Dr. E. Mohamad Nur Utomo, S.E., M.Si. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar ketiga yang lahir dari UBT.
Ia dinobatkan menjadi guru besar dalam bidang Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, namun juga mencetak sejarah baru bagi institusi sebagai dosen dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pertama di UBT yang meraih gelar profesor.
Bertempat di Gedung Rektorat UBT, Rabu (29/4/26), pengukuhan ini menjadi bukti nyata keterbatasan status kepegawaian bukan penghalang untuk meraih kasta tertinggi di dunia pendidikan.
Dedikasi pria kelahiran Tarakan, 4 November 1972 ini di dunia pendidikan dimulai jauh sebelum UBT berstatus negeri. Ia mulai mengabdi pada Oktober 2002, saat institusi tersebut masih bernama Universitas Borneo di bawah naungan yayasan.
Awalnya, ia bergabung sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) sembari mengelola koperasi syariah. Baru pada tahun 2009, ia resmi menjadi dosen tetap dengan pangkat awal Asisten Ahli.
Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari puncak karier seorang pendidik adalah menjadi Guru Besar, sebuah target yang mulai ia fokuskan sejak menempuh studi magister.
Perjalanan menuju gelar tertinggi akademik ini tidaklah mulus. Sebagai dosen P3K, ia harus berhadapan dengan regulasi yang tidak sefleksibel dosen PNS atau swasta dalam pengajuan Jabatan Fungsional (Jafung).

Ia sempat tertahan di pangkat Lektor Kepala karena administrasi PPPK saat itu belum mengakui kenaikan jenjang tersebut secara otomatis.
Pengakuan pendidikan S3 dan kenaikan pangkat bagi dosen PPPK hanya bisa dilakukan saat periode perpanjangan kontrak kerja, berbeda dengan PNS yang bisa diajukan setiap tahun.
Bersama komunitas dosen PPPK lainnya, ia sempat terlibat dalam perjuangan menuntut perubahan status dan hak-hak akademis di Jakarta hingga akhirnya regulasi mulai terbuka pada tahun 2025.
”Alhamdulillah, meskipun prosesnya tidak gampang, sempat ditolak dan harus mengajukan banding, akhirnya bisa lolos,” ungkap ayah dua anak ini saat mengenang perjuangannya.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mohamad Nur Utomo menekankan pentingnya akses pembiayaan bagi pelaku UMKM, industri kreatif, dan isu gender.
Ia tengah mengembangkan metode credit scoring yang menggabungkan konsep kearifan lokal berbasis gender agar layanan keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil.
Bagi para kolega dosen, ia berpesan agar menjadikan riset sebagai passion, bukan sekadar beban kerja.
“Syarat Guru Besar sekarang semakin tinggi, terutama untuk publikasi di jurnal internasional bereputasi seperti Scopus Q1. Jika meneliti sudah menjadi hobi, maka target tersebut akan terasa lebih ringan untuk dicapai,” pungkasnya.(*/mt)












Discussion about this post