TARAKAN – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Tarakan memperketat pengawasan pemotongan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu (27/5/2026). Langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat dalam kondisi aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Tarakan, Paulus, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerjunkan puluhan petugas untuk mengawal proses pemotongan, baik di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun di masjid-masjid yang tersebar di setiap kelurahan.
Paulus menjelaskan, proses pengawasan sudah berjalan sejak tahap pendaftaran dan kedatangan hewan kurban. Di RPH Tarakan sendiri, tercatat ada 60 pelapor yang mendaftar, di mana hingga Rabu pagi sebanyak 21 ekor sapi telah tiba dan langsung masuk antrean pemotongan.
“Alurnya dari kemarin pagi kita buka pendaftaran, baik langsung maupun online lewat WhatsApp. Hewan kurban mulai dibawa ke RPH sejak kemarin siang dan langsung diberi nomor antrean. Sebelum dipotong, kami pastikan semua melalui pemeriksaan ketat,” ujar Paulus saat ditemui di sela-sela pemantauan.
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban ini dibagi menjadi dua tahap krusial, pertama Pemeriksaan Antemortem (Sebelum Dipotong), dilakukan sejak hewan tiba untuk mengecek kelayakan sesuai syariat Islam, meliputi pemeriksaan umur (cek gigi), fisik, tanda-tanda kecacatan, hingga kesehatan umum ternak.
Pemeriksaan Postmortem (Setelah Dipotong), petugas dan dokter hewan yang siaga di dalam RPH—termasuk drh. Richard dan drh. Wikan—langsung mengambil sampel organ dalam, seperti hati dan limpa, setelah sapi dikuliti untuk memastikan daging layak konsumsi.
“Hingga jam ini, bersyukur belum ada temuan penyakit atau kasus darurat. Yang paling kita waspadai pada pemeriksaan postmortem biasanya adalah cacing hati (Fasciola hepatica). Jika ditemukan organ yang bermasalah atau cacat, bagian tersebut akan langsung dipisahkan agar tidak dikonsumsi. Namun jika pengaruhnya menyeluruh, kita sarankan untuk tidak dikonsumsi sama sekali,” tegasnya.
Tidak hanya berfokus di RPH yang diperkuat oleh 11 personel, DKPP Tarakan juga mengerahkan total 33 petugas yang disebar ke seluruh kelurahan di Kota Tarakan.
Petugas lapangan ini bergerak dinamis memantau masjid-masjid dan instansi yang melaksanakan pemotongan mandiri. “Teman-teman sudah merapat ke masjid-masjid yang ditentukan berdasarkan informasi awal. Jika ada laporan dari lokasi lain, petugas di kelurahan akan langsung bergeser ke sana agar semua tempat bisa dijangkau,” tambah Paulus.
Terkait pengamanan, Paulus meluruskan bahwa personel kepolisian tidak masuk dalam struktur tim teknis pengawasan dinas. Kendati demikian, koordinasi dengan pihak kepolisian sudah dijalin sejak awal bulan untuk pemantauan wilayah. Sebelumnya, DKPP juga telah bergerak bersama Satgas Pangan Nasional untuk memantau ketersediaan stok dan harga hewan kurban di tingkat pedagang.
Berdasarkan data sistem yang masuk ke DKPP Tarakan, total ketersediaan hewan kurban tahun ini (termasuk stok yang ada sebelumnya) mencapai 1.494 ekor sapi.
Kendati stok melimpah, Paulus mengaku belum bisa memastikan berapa total realisasi hewan yang dipotong pada Idul Adha tahun ini dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1.125 ekor.
“Kami harapkan ada peningkatan tahun ini. Tapi untuk angka pastinya, kita lihat di lapangan nanti. Mulai sore ini hingga beberapa hari ke depan, teman-teman petugas akan terus menginput dan merekap data secara berjenjang. Kami standby sampai hari ke-4 atau ke-5 Tasyrik. Kemungkinan hari Jumat atau Sabtu ini data riilnya baru bisa rampung kita sampaikan ke publik,” pungkasnya. (**)















Discussion about this post