NAMA Kabupaten Tana Tidung semula terdengar asing bagi Urvana Florensius. Saat sang suami, Letkol Arm. Raden Florensius Ferdian Ricarda, dinyatakan lolos asesmen sebagai komandan distrik militer, ia justru sempat bersiap untuk kembali bertugas di Pulau Jawa.
Heri Aidil Ismail – Fokusborneo.com
Rencana itu berubah ketika penugasan membawa keluarga mereka ke Kalimantan Utara. Dari sinilah perjalanan baru sebagai Ketua Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang LXVII Kodim 0914/Tana Tidung dimulai.
“Awalnya memang kaget karena sebelumnya kami sempat mendapat informasi akan bertugas di Jawa Barat. Ternyata kemudian berubah ke Kalimantan. Tetapi namanya keluarga tentara, di mana pun ditempatkan harus siap. Kami percaya setiap penugasan pasti sudah menjadi rencana terbaik,” ujar Urvana.
Bagi perempuan kelahiran 22 Oktober 1986 itu, berpindah daerah bukanlah pengalaman pertama. Sebelum berada di Tana Tidung, ia mendampingi suaminya bertugas di Batalyon Armed 5 Pancagiri, Bogor, sekaligus menjabat Ketua Persit Cabang XLI.
Di satuan tersebut, aktivitas organisasi berlangsung sangat dinamis. Selain membina ratusan anggota Persit, ia juga aktif mendukung berbagai kegiatan kemasyarakatan hingga menerima kunjungan pejabat tinggi negara maupun petinggi TNI yang singgah di batalyon.
Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal ketika memasuki lingkungan baru di Tana Tidung. Meski mengakui ada banyak perbedaan dibanding daerah penugasan sebelumnya, ia memilih melihat semuanya sebagai proses belajar.
“Masuk ke lingkungan baru tentu perlu penyesuaian. Setiap daerah punya karakter yang berbeda, begitu juga organisasinya. Saya tidak ingin membandingkan, justru ingin belajar memahami bagaimana kondisi di sini sehingga bisa menjalankan tugas dengan baik bersama anggota Persit,” katanya.
Urvana mengungkapkan, pesan sang suami menjadi pegangan selama menjalani masa adaptasi. Ia diminta tidak membawa ekspektasi yang terlalu tinggi, melainkan fokus menyesuaikan diri dengan kondisi satuan dan masyarakat setempat.
“‘Bun, jangan berekspektasi tinggi. Ini bukan batalyon, ini Kodim. Kita jalani saja dan menyesuaikan diri.’ Pesan itu yang selalu saya ingat. Menurut saya memang benar, setiap tempat memiliki tantangan dan kelebihannya masing-masing,” ungkapnya.
Di tengah kesibukan organisasi, perempuan lulusan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi itu tetap menyempatkan diri melakukan hobi yang paling disukainya, yakni berolahraga. Baginya, olahraga menjadi cara sederhana untuk menjaga kebugaran sekaligus menghilangkan penat.
“Kalau sedang banyak pikiran atau merasa lelah, saya pasti olahraga. Tidak harus olahraga tertentu, yang penting bergerak dan berkeringat. Setelah itu rasanya lebih tenang dan pikiran kembali segar,” ujarnya.
Selain olahraga, ia juga gemar bepergian dan mengenal tempat-tempat baru. Hobi tersebut membuat proses adaptasinya di berbagai daerah terasa lebih mudah, termasuk saat pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Tana Tidung.
Alih-alih merasa terbebani karena berada jauh dari kota besar, Urvana justru menikmati kesempatan mengenal budaya masyarakat setempat. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah menyaksikan pertunjukan seni budaya daerah.
“Waktu pertama melihat pertunjukan budaya di sini saya benar-benar kagum. Saya sampai berpikir, budaya di Tana Tidung ini sebenarnya luar biasa, hanya mungkin belum banyak dikenal orang. Potensinya besar dan menurut saya layak diperkenalkan lebih luas,” tuturnya.
Rasa ingin tahunya terhadap budaya lokal juga diwujudkan dengan mencoba berbagai kuliner khas daerah. Salah satunya tembiluk, dikenal sebagai salah satu kuliner khas masyarakat pesisir yang memanfaatkan hasil ekosistem mangrove secara turun-temurun.
Makanan yang bagi sebagian orang mungkin terasa unik. Namun, ia mengaku tidak kesulitan menikmati hidangan tersebut.
“Sudah empat kali saya makan tembiluk. Banyak orang mungkin membayangkan bentuknya dulu, tetapi menurut saya rasanya enak. Apalagi kalau dipadukan dengan bumbu seperti rujak, jadi mudah dinikmati,” katanya sambil tersenyum.
Di balik cerita tentang hobi dan proses adaptasi, Urvana menyadari kehidupan sebagai istri prajurit memiliki konsekuensi yang harus diterima. Perpindahan tugas, meninggalkan lingkungan yang sudah nyaman, hingga memulai kehidupan baru merupakan bagian dari pengabdian.
“Sebagai istri tentara memang harus siap. Yang didahulukan adalah tugas negara. Kami sebagai keluarga hanya bisa mendukung dan mendampingi. Di mana pun bertugas, kami berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan menikmati setiap prosesnya,” ucapnya.
Perjalanan itu berawal dari sebuah pertemuan sederhana di gereja. Saat itu, Urvana bekerja di Perhutani Magelang, sedangkan sang suami berdinas di Palembang. Hubungan mereka berjalan singkat. Delapan bulan berpacaran, keduanya memutuskan menikah dan sejak itu menjalani kehidupan yang akrab dengan perpindahan penugasan.
Kini, Tana Tidung menjadi halaman baru dalam perjalanan keluarga kecil tersebut. Bagi Urvana, setiap daerah selalu menyimpan cerita dan pelajaran yang berbeda.
“Indonesia ini sangat luas, bukan hanya Jawa. Justru dengan berpindah-pindah kami bisa mengenal banyak budaya, bertemu banyak orang, dan belajar menghargai keberagaman. Itu yang membuat setiap penugasan selalu punya makna tersendiri,” tutupnya.














Discussion about this post