BALIKPAPAN, Fokusborneo com – Program Warga Siaga Sehat atau WASIAT yang dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan memperoleh penghargaan dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 di Swiss-Belhotel Solo, Kamis (6/8/2026) malam.
Program tersebut meraih predikat Silver pada kategori Health Quality Improvement. ISRA 2026 mengusung tema “Catalyzing Collective Change for Scalable Impact” dan memberikan 99 penghargaan kepada 89 perusahaan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyampaikan empat isu yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Solo, yaitu pengelolaan sampah, transformasi pendidikan negeri, kesehatan mental melalui Posyandu Plus, serta pengurangan pengangguran melalui program Rumah Siap Kerja.
Dibalik penghargaan tersebut, WASIAT membawa cerita tentang transformasi Posyandu di Kelurahan Baru Ilir, Kota Balikpapan, dan Desa Girimukti, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Program ini berangkat dari hasil pemetaan sosial yang menunjukkan bahwa pelayanan Posyandu masih banyak berfokus pada penimbangan balita dan pemeriksaan kesehatan dasar. Kapasitas kader dalam edukasi promotif dan preventif masih perlu diperkuat, pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi belum optimal, sedangkan menu Pemberian Makanan Tambahan atau PMT masih terbatas.
Melalui WASIAT Sejahtera 51 di Kelurahan Baru Ilir dan WASIAT Dewi Shinta di Desa Girimukti, RU Balikpapan mengembangkan Posyandu menjadi pusat penguatan kesehatan keluarga berbasis komunitas.
Program ini mengintegrasikan peningkatan kapasitas kader, urban farming, hidroponik, budidaya ikan air tawar, pengelolaan sampah organik, Tanaman Obat Keluarga atau TOGA, diversifikasi PMT, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, serta pengembangan UMKM perempuan.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang, mengatakan bahwa masyarakat ditempatkan sebagai penggerak utama program.
“WASIAT tidak dibangun dengan menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima bantuan. Para kader dan kelompok perempuan terlibat dalam mengidentifikasi kebutuhan, menjalankan kegiatan, hingga mengevaluasi program. Perusahaan hadir untuk mendampingi, memperkuat kapasitas, dan menghubungkan masyarakat dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Dodi.
Seluruh kegiatan WASIAT dibangun dalam satu sistem yang saling mendukung. Hasil pertanian dan perikanan dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga, bahan produk UMKM, serta menu PMT. Sampah organik diolah menjadi pupuk untuk urban farming dan kebun TOGA, sedangkan sebagian keuntungan usaha kelompok digunakan kembali untuk mendukung kegiatan kesehatan.
Program telah mendukung renovasi dua Posyandu beserta penambahan sarana pendukungnya. Edukasi gizi yang sebelumnya belum berjalan rutin kini dilaksanakan minimal sekali setiap bulan.
Menu PMT juga menjadi lebih beragam dengan memanfaatkan hasil produksi kelompok, antara lain nugget dan dendeng ikan lele. WASIAT Sejahtera 51 memberikan PMT setiap minggu kepada 32 anak yang terindikasi stunting, sedangkan WASIAT Dewi Shinta menjangkau 14 anak di sekitar wilayah program. Pembiayaan kegiatan tersebut mulai didukung dari kas kelompok yang bersumber dari keuntungan UMKM dan hasil budidaya ikan.
Dampak lain terlihat dari berkembangnya transfer pengetahuan antarwarga. Jangkauan penerima manfaat meningkat dari 94 orang menjadi 985 orang.
WASIAT Sejahtera 51 telah menghasilkan sembilan produk olahan dengan omzet sekitar Rp4,4 juta per bulan, sedangkan WASIAT Dewi Shinta mengembangkan lima produk dengan omzet sekitar Rp2,6 juta per bulan. Pemanfaatan hasil produksi sendiri juga mampu menghemat sekitar 25–30 persen biaya bahan baku PMT dan produk UMKM.
Di Kelurahan Baru Ilir, masyarakat mengembangkan vertical garden pada area sekitar 394 meter persegi. Sementara itu, di Desa Girimukti, kelompok mengelola 12 meja pembesaran dan dua meja pembibitan hidroponik untuk mendukung kebutuhan pangan keluarga dan kegiatan usaha.
WASIAT juga mengintegrasikan aspek kesehatan dan lingkungan. WASIAT Sejahtera 51 mengelola sekitar 33,67 ton sampah organik per tahun melalui 37 unit Komposter Panca Wisma. Pupuk yang dihasilkan digunakan kembali untuk urban farming dan kebun TOGA serta berkontribusi menurunkan penggunaan pupuk kimia sekitar 1.924 kilogram per tahun.
Menurut Dodi, penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus memperkuat keberlanjutan program.
“Penghargaan ini merupakan apresiasi atas kerja bersama para kader, kelompok perempuan, masyarakat, pemerintah, Puskesmas, akademisi, dan seluruh pihak yang terlibat. Namun ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kader semakin percaya diri, keluarga memperoleh pangan yang lebih bergizi, dan kegiatan kesehatan dapat terus berjalan dengan kekuatan masyarakat sendiri,” tambah Dodi.
Melalui WASIAT, Posyandu tidak lagi hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan dasar, tetapi tumbuh menjadi ruang belajar, ruang produksi, dan pusat pemberdayaan masyarakat. Program ini sekaligus mendukung pencapaian SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.(**)













Discussion about this post