TANA TIDUNG, Fokusborneo.com – Pelaksanaan Tulak Bala Bulan Safar 2026 di Tana Tidung menjadi momentum bagi pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan bulan Safar dengan kesialan. Wakil Bupati Tana Tidung Sabri meminta tradisi tersebut tetap ditempatkan dalam koridor agama dan budaya.
Sabri mengatakan tradisi Tulak Bala sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tidung dan diwariskan dari generasi ke generasi. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai doa, silaturahmi, gotong royong dan kebersamaan.
“Jadi perlu kita pahami bersama, bulan Safar itu bukan bulan kesialan. Tidak ada hari atau bulan yang membawa kesialan bagi manusia. Semua itu berada dalam kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Jadi Tulak Bala ini kita maknai sebagai ikhtiar, doa, sedekah, silaturahmi dan juga pelestarian budaya, tetapi tetap berpegang pada ajaran agama,” kata Sabri saat kegiatan Tulak Bala Bulan Safar 2026 di Tideng Pale, Rabu (12/8/2026).
Ia mengatakan doa dalam kegiatan tersebut diarahkan untuk memohon keselamatan masyarakat dan daerah. Harapannya, masyarakat Tana Tidung senantiasa diberikan kesehatan, ketenteraman dan keberkahan.
“Yang kita harapkan dari kegiatan ini tentu masyarakat Tana Tidung selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Kita juga berdoa agar daerah kita dijauhkan dari bencana, penyakit, konflik maupun berbagai marabahaya. Mudah-mudahan masyarakat kita, baik petani, nelayan, pelaku usaha, guru, tenaga kesehatan, aparatur pemerintah dan seluruh masyarakat diberikan kelancaran dalam menjalankan aktivitas,” ujarnya.
Sabri juga menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, generasi muda saat ini semakin mudah mengenal berbagai budaya dari luar sehingga pengenalan terhadap adat dan sejarah daerah perlu terus dilakukan.
“Anak-anak kita sekarang semakin dekat dengan teknologi dan semakin terbuka dengan berbagai budaya dari luar. Itu tidak masalah, mereka boleh menjadi generasi yang modern dan maju. Tapi jangan sampai mereka mengenal dunia begitu luas kemudian lupa dengan jati dirinya, lupa dengan adat, sejarah dan budaya Tana Tidung,” katanya.
Ia meminta keluarga dan masyarakat ikut mengenalkan tradisi daerah kepada generasi muda. Sabri menilai pembangunan tidak cukup hanya meninggalkan infrastruktur, tetapi juga harus disertai warisan identitas budaya.
“Menurut saya, warisan terbesar yang kita berikan kepada anak cucu bukan hanya pembangunan. Identitas juga penting. Karena itu tradisi seperti ini jangan berhenti di generasi kita. Kita kenalkan kepada anak-anak, kita wariskan nilai-nilai baik yang ada di dalamnya, sehingga budaya ini tetap hidup,” tuturnya.
Pada momentum tersebut, Sabri juga mengajak masyarakat menjaga persatuan. Perbedaan pandangan maupun pilihan politik, menurutnya, tidak seharusnya menghilangkan hubungan sebagai masyarakat Tana Tidung.
“Kita boleh berbeda pendapat, kita boleh berbeda pilihan. Tetapi kita tetap satu keluarga besar, keluarga besar Bumi Upun Taka. Jadi mari kita saling menghormati, saling membantu dan saling menguatkan. Jangan sampai perbedaan membuat kita terpecah,” ujarnya.
Sabri menegaskan pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pemerintah tidak dapat menjalankan seluruh agenda pembangunan tanpa dukungan masyarakat.
“Pembangunan Tana Tidung ini tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Kita membutuhkan kebersamaan seluruh masyarakat. Kalau kita bersatu, kalau kita saling mendukung, berbagai tantangan yang ada bisa kita hadapi bersama dan pembangunan daerah juga akan lebih mudah kita jalankan,” pungkasnya. (*/hr)















Discussion about this post