TARAKAN, Fokusborneo.com – Penanganan bara api batubara di bawah jalan raya Pantai Amal Lama, tepatnya di depan Gedung Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Borneo Tarakan (UBT), masih terus berlanjut hingga Senin (31/8/26).
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Tarakan telah mengerahkan alat berat untuk melakukan pemotongan dan penggalian tanah guna memutus sebaran api.
Penggalian telah dilakukan dengan kedalaman sekitar 8 meter, lebar 8 meter, dan panjang galian mencapai 20 hingga 30 meter ke arah pantai maupun arah UBT. Langkah tersebut berhasil melokalisir perambatan api di permukaan atas.
Namun, lapisan batubara di kedalaman bawah tanah ditemukan masih membara dan menjalar hingga membentuk rongga yang tak terjangkau alat berat.
Pihak Dinas PU Tarakan menyampaikan bahwa kondisi di lapangan membutuhkan penanganan lebih lanjut dan melibatkan instansi ahli.
“Jadi dari kita sudah kita lakukan penggalian di sana, baik ke arah Pantai Amal maupun ke arah UBT, itu lebih kurang dalamnya sekitar 8 meteran. Sudah kita lokalisir supaya tidak merambat di permukaan. Cuman batubara itu ternyata masuk ke dalam tanah lagi ke bawah dan bikin rongga, itu yang kita tidak bisa jangkau dengan alat berat kita,” ujar Kepala Dinas PUPR Kota Tarakan, Fandariansyah.
Ia menambahkan target kedalaman galian awal menyesuaikan kemampuan alat berat yang dimiliki.
”Kedalaman ini di luar prediksi karena kita belum dapat data yang pasti. Saran awal disuruh buka dan kupas, sudah kita kupas sepanjang sekemampuan alat berat kita sekitar 8 meter. Ternyata batubaranya masih lebih dalam lagi,” tambahnya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Dinas PUPR berkoordinasi dengan BPBD serta berencana merangkul pihak-pihak yang memiliki alat deteksi khusus subsurface.
“Kita perlu koordinasi dengan teman-teman BPBD, Pertamina, Medco, maupun Sucofindo yang mempunyai kemampuan untuk mendeteksi keberadaan batubara di bawah tanah agar penanganannya tepat. Kalau Dinas PU kan bisanya cuma gali-gali saja, untuk mengetahui di dalam perut bumi kita tidak ada kemampuan alatnya,” jelasnya.
Saat ini, upaya penanganan darurat terus dilakukan secara kolaboratif Tim gabungan dari BPBD, Perumda Tirta Alam (PDAM), Kolakar, TNI-Polri dan unsur lainnya terus melakukan penyiraman di titik lokasi galian.
Arus kendaraan telah dialihkan ke jalan alternatif TMMD berlebar 8–10 meter. Jalan berstruktur agregat tersebut sudah dapat dilalui oleh sepeda motor, mobil, hingga kendaraan berat seperti bus dan truk.
Pembiayaan penanganan darurat ini, menggunakan dana APBD untuk menjamin kelancaran penanganan di lapangan.
”Yang penting mati dulu baranya, hajat hidup orang banyak di sana bisa berjalan dan masyarakat bisa melintas seperti biasa. Yang penting kita kerjakan dulu,” pungkasnya.(*/mt)














Discussion about this post