TARAKAN – Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas dan melumpuhkan ruang udara Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (31/8/2026). Fenomena alam yang memperburuk kualitas udara dan merusak jarak pandang (visibility) ini merupakan dampak akumulasi asap kiriman dari berbagai titik karhutla di daratan Pulau Kalimantan.
Berdasarkan analisis pemantauan Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, gumpalan asap tebal yang menyelimuti Kota Tarakan dipicu oleh pergerakan angin bertekanan kuat yang bergerak dari arah selatan menuju utara. Pergerakan angin ini membawa kabut asap hasil pembakaran lahan dari beberapa provinsi tetangga.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata, Fahruddin Rahmat, SE, menyampaikan bahwa sebagian besar titik panas (hotspot) pemicu utama kabut asap ini berada di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta Kalimantan Timur. Sementara untuk wilayah Kalimantan Utara sendiri, laporan BMKG menunjukkan sebaran titik api relatif terbatas.
“Menurut laporan BMKG Stasiun Meteorologi Juwata, titik api terbanyak ada di Kalteng, Kalsel, dan Kaltim. Untuk Kaltara sendiri sebenarnya hanya ada satu titik terpantau, yakni di kawasan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan.
Namun karena arah angin bertiup dari selatan ke utara, seluruh asap tersebut terkumpul dan terdorong masuk menutupi wilayah Kota Tarakan,” ujar Fahruddin, Senin (31/8/2026).
Eskalasi dampak asap ini meningkat tajam dalam dua hari terakhir. Fahruddin menyebutkan bahwa kondisi karhutla sebenarnya telah terdeteksi sejak 10 Agustus 2026, tetapi jarak pandang saat itu masih stabil di angka 4 hingga 5 kilometer. Pemburukan drastis baru terjadi sejak Minggu (30/8/2026) dan memuncak pada Senin sore ini.
Pada Minggu kemarin, jarak pandang sempat menyusut hingga 1.000 meter pada pukul 14.00 WITA sebelum akhirnya membaik pada malam hari. Namun pada Senin (31/8/2026), situasi kembali memburuk secara signifikan pada jam yang sama, di mana jarak pandang anjlok hingga mencapai titik terendah yakni 500 meter pada pukul 14.30 WITA.
Penurunan jarak pandang hingga ke kisaran 500 meter tersebut tak hanya melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Juwata yang menyebabkan dua penerbangan komersial terpaksa dialihkan pendaratannya ke Balikpapan, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas harian masyarakat di darat serta mengancam kesehatan pernapasan warga Kota Tarakan.
Ketidakpastian durasi hilangnya kabut asap ini menjadi perhatian serius banyak pihak. Fahruddin menegaskan bahwa penanganan karhutla kini telah menjadi perhatian lintas kementerian di tingkat nasional maupun daerah. Pemerintah terus berupaya melakukan pemadaman di titik-titik api agar sebaran asap tidak berlarut-larut.
Di tengah situasi cuaca ekstrem ini, pengelola Bandara Juwata mengimbau seluruh lapisan masyarakat Kota Tarakan untuk lebih waspada saat menjalankan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan alat pelindung diri menjadi langkah mitigasi mandiri yang sangat disarankan untuk mengurangi dampak buruk paparan kabut asap.
“Kami mengimbau kepada masyarakat Kota Tarakan yang terpaksa beraktivitas di luar rumah agar tetap menjaga kesehatan diri. Gunakanlah masker untuk melindungi saluran pernapasan dan gunakan kacamata agar terhindar dari iritasi mata akibat paparan asap karhutla ini,” pungkas Fahruddin.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa penurunan jarak pandang terjadi secara signifikan sejak siang hari.
”Pada pukul 13.00 hingga 14.00 WITA, jarak pandang tercatat berada di angka 1.000 meter. Namun, memasuki pukul 14.30 WITA hingga saat ini, jarak pandang semakin memburuk dan tersisa 500 meter,” terangnya. (**)












Discussion about this post