TARAKAN, Fokusborneo.com – Gelombang kekeringan ekstrem yang dipicu oleh fenomena iklim global El Niño pada tahun 2026 tengah melanda berbagai belahan dunia.
Di kancah internasional, sungai-sungai besar di Eropa seperti Sungai Rhine mengalami penurunan debit air ke rekor terendah yang mengganggu sektor transportasi dan energi.
Situasi serupa juga terjadi di dalam negeri, di mana Bendungan Bili-Bili di Sulawesi Selatan menyusut ekstrem dan mengancam puluhan ribu pelanggan PDAM Makassar, serta Kota Samarinda yang harus menetapkan status layanan “Kondisi Kritis” akibat intrusi air laut di Sungai Mahakam.
Kendati hantaman krisis tersebut turut dirasakan di Kota Tarakan akibat berkurangnya curah hujan yang membuat pengisian embung dan bendungan tidak optimal, sistem pelayanan air minum di kota ini dinilai masih mampu bertahan dengan baik.
Direktur Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan, S.Pd., M.M., M.H., menjelaskan dampak El Niño tahun ini sangat luar biasa hingga memaksa banyak daerah di Indonesia memangkas operasional instalasi pengolahan air secara drastis.
“Kondisi global akibat El Niño tahun 2026 ini sangat ekstrem, bahkan sejumlah daerah di Indonesia mengalami krisis berat hingga harus memangkas operasional IPA secara drastis. Di Tarakan sendiri, dari total instalasi yang ada, memang ada 3 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang terdampak, yaitu IPA Persemaian, IPA Kp. Satu, dan IPA Kp. Bugis. Namun, 3 unit IPA lainnya yaitu IPA Juata Laut, IPA Bengawan, dan IPA Indulung tetap beroperasi secara normal untuk menjaga suplai ke masyarakat,” ungkap Iwan Setiawan menguraikan situasi layanan di lapangan, Sabtu (31/10/26).
Berdasarkan data operasional PDAM Tirta Alam Tarakan, penurunan suplai air baku paling signifikan tercatat di Embung dan Sungai Persemaian yang saat ini dalam kondisi kering total (suplai off).
Selain itu, Bendungan Binalatung di Kampung Satu mengalami penurunan level air hingga -174 cm dengan suplai yang menyusut dari normal 180 liter per detik menjadi 60 liter per detik.
Meskipun demikian, pasokan dari Embung Rawasari, Sungai Sesanip, Embung Indulung, Embung Bengawan, serta Sungai Semunti masih mengalir dalam kondisi yang relatif aman dan normal.
Untuk mengantisipasi kemarau panjang ini, PDAM Tirta Alam Tarakan langsung bergerak cepat menerapkan sejumlah langkah strategis.
Manajemen melakukan optimalisasi pada sumber air baku yang masih tersisa, memfungsikan pompa cadangan di Embung Indulung guna mendongkrak suplai air bersih menuju IPA Kampung Satu, serta mengatur sistem pengaliran air yang disesuaikan dengan kapasitas produksi harian.
Selain itu, bantuan distribusi air bersih juga disalurkan menggunakan mobil tangki langsung ke titik-titik permukiman warga dan fasilitas publik yang membutuhkan.
Melalui kesiapan infrastruktur dan mitigasi terukur tersebut, pihak PDAM Tirta Alam Tarakan optimis dapat terus menjaga stabilitas layanan air bersih bagi masyarakat.
Manajemen juga terus mengimbau warga Kota Tarakan agar senantiasa bijak dan berhemat dalam menggunakan air bersih selama musim kemarau El Niño berlangsung.(**)















Discussion about this post