BALIKPAPAN, Fokusborneo.com — Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Balikpapan terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya pada subsektor wastra (fesyen) dan makanan-minuman (mamin) olahan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop peningkatan kualitas dan daya saing produk guna mendorong UMKM naik kelas, unggul, dan kompetitif.
Kegiatan workshop desain produk wastra dilaksanakan pada 6–8 Februari 2026 di Hotel Novotel Balikpapan. Workshop ini diikuti 18 pelaku UMKM mitra, UMKM unggulan binaan pemerintah daerah, serta binaan korporasi besar di wilayah kerja KPwBI Balikpapan. Selain itu, kegiatan juga melibatkan 18 desainer muda, termasuk finalis Akademi Kreatif Muda Nusantara 2024–2025 dari tiga SMK jurusan tata busana. Seluruh peserta telah melalui proses kurasi awal oleh tenaga ahli dan Bank Indonesia sehingga kegiatan ini menyasar pelaku usaha yang memiliki potensi kuat untuk berkembang.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, yang juga menjabat sebagai Deputi Direktur, menegaskan bahwa penguatan daya saing produk wastra lokal merupakan langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas akses pasar berbasis budaya daerah.
“Produk wastra lokal tidak hanya harus mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga perlu naik kelas melalui desain yang inovatif, identitas yang kuat, serta kualitas unggul agar berpeluang menembus pasar nasional hingga global,” ujar Robi Ariadi.
Selain wastra, Bank Indonesia Balikpapan juga menyelenggarakan workshop bagi 47 pelaku UMKM mamin olahan pada 11–12 Februari 2026. Peserta berasal dari Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser yang merupakan UMKM mitra Bank Indonesia, binaan pemerintah daerah, serta binaan korporasi besar yang telah melalui proses kurasi.
Penguatan produk mamin olahan dinilai sangat strategis seiring meningkatnya tuntutan konsumen terhadap kualitas produk, kemasan yang menarik, penggunaan bahan alami, serta narasi dan identitas produk yang khas. Langkah ini sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Workshop wastra terbagi dalam dua kelas, yakni desain fesyen ready to wear dan desain batik. Materi yang diberikan mencakup kurasi produk, penguatan konsep desain, integrasi unsur budaya lokal, hingga pendampingan branding dan arah pengembangan usaha. Kehadiran narasumber dari industri fesyen nasional memberikan wawasan mengenai tren terkini, inovasi desain, serta standar kualitas sesuai kebutuhan pasar.
Keunggulan workshop ini terletak pada sesi kurasi langsung melalui presentasi hasil desain peserta yang dilanjutkan dengan diskusi mendalam. Melalui mekanisme ini, peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai diferensiasi desain, pemilihan material, serta penguatan storytelling produk.
Sementara itu, workshop mamin olahan dirancang sebagai program peningkatan kapasitas terstruktur sekaligus menjadi proses kurasi awal calon peserta Program Industri Kreatif Syariah (IKRA). Materi yang disampaikan meliputi inovasi produk, penguatan cerita lokal, pemilihan bahan baku, pembangunan merek yang kredibel, strategi diferensiasi, penguatan kemasan, pengelolaan biaya, hingga akses pasar digital, offline, dan ekspor.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Para pelaku UMKM mamin mengaku mendapatkan wawasan baru mengenai pentingnya inovasi dan penguatan merek, sementara peserta wastra memperoleh insight terkait peningkatan kualitas desain serta integrasi nilai budaya dalam produk.
Sebagai tindak lanjut, peserta dengan produk mamin dan desain wastra terbaik akan mengikuti kurasi lanjutan menuju ekosistem IKRA.
Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan berkomitmen memperluas pemberdayaan UMKM pada produk strategis seperti pangan olahan, ekonomi kreatif, dan pengembangan produk berbasis potensi lokal. Sinergi dengan pemerintah daerah, korporasi, asosiasi UMKM, lembaga pembiayaan, serta komunitas bisnis akan terus diperkuat guna menciptakan ekosistem UMKM yang sehat, inovatif, dan berdaya saing.
Melalui kolaborasi tersebut, UMKM di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser diharapkan mampu tumbuh menjadi pelaku usaha unggulan yang berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.(**)















Discussion about this post