BALIKPAPAN, Fokusborneo.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas pasar melalui pemanfaatan kanal digital. Upaya tersebut diwujudkan lewat Workshop Onboarding DIGDAYA UMKM 2026 yang digelar di Balikpapan.
Program ini menjadi bagian dari komitmen BI dalam memperkuat peran UMKM sebagai penggerak ekonomi daerah. Selain menyerap tenaga kerja, sektor ini juga memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, termasuk membuka peluang ekspor.
Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengarah ke platform digital, pelaku UMKM dituntut mampu beradaptasi. Perkembangan marketplace hingga pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) turut menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru.
Robi Ariadi menilai, transformasi digital masih menjadi kendala bagi sebagian UMKM. Mulai dari keterbatasan pemasaran online, kualitas konten yang belum optimal, hingga minimnya pemahaman terhadap pemanfaatan teknologi dan data. Di sisi lain, persaingan di platform digital kian ketat, ditambah dinamika kebijakan marketplace yang dapat memengaruhi biaya usaha.
“Penguatan kapasitas digital menjadi kunci agar UMKM mampu bertahan dan berkembang. Tidak hanya dari sisi pemasaran, tetapi juga efisiensi usaha dan perluasan akses pasar,” ujarnya.
Melalui Program DIGDAYA (Digitalisasi untuk Peningkatan Daya Saing) UMKM 2026, BI Balikpapan menghadirkan pembinaan yang dirancang berkelanjutan. Kegiatan diawali dengan workshop selama tiga hari pada 20–22 Mei 2026 di Kantor BI Balikpapan.
Program ini diikuti 44 UMKM terpilih dari 160 peserta yang sebelumnya melalui proses seleksi bersama berbagai mitra, di antaranya Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), pemerintah daerah, perbankan, dan korporasi pembina UMKM. Peserta berasal dari berbagai sektor, seperti makanan dan minuman olahan, fesyen, hingga kerajinan.
Selama pelatihan, peserta dibekali materi praktis, mulai dari optimalisasi media sosial, pengelolaan toko di marketplace, strategi penjualan digital, pemanfaatan AI, hingga penguatan legalitas usaha dan literasi keuangan. Kegiatan juga dilengkapi dengan sesi praktik dan penyusunan rencana pengembangan usaha agar dapat langsung diterapkan.
Program ini tidak berhenti pada pelatihan. Peserta akan mendapatkan pendampingan intensif melalui sesi daring dan coaching individu hingga Juni 2026, kemudian dilanjutkan dengan monitoring berkala sampai Oktober 2026.
Melalui DIGDAYA UMKM 2026, BI Balikpapan menargetkan peningkatan kapasitas digital pelaku usaha, terbentuknya toko online aktif, serta optimalisasi penggunaan pembayaran digital seperti QRIS. Selain itu, diharapkan terjadi peningkatan kualitas branding dan perluasan pasar yang berdampak pada pertumbuhan transaksi.
Ke depan, BI Balikpapan akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong UMKM semakin adaptif dan berdaya saing, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.(**)















Discussion about this post