TARAKAN, Fokusborneo.com – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga kedaulatan NKRI melalui ketersediaan uang rupiah yang layak edar di seluruh pelosok negeri.
Melalui program tahunan sinergis bersama TNI Angkatan Laut (AL), kembali dilepas keberangkatan program Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026.
Dalam ekspedisi kali ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) sekaligus Kepala Koordinator Wilayah BI Kalimantan, Haris Munandar, menekankan pentingnya kehadiran uang rupiah yang berkualitas di daerah terdepan, terpencil, dan terluar (3T).
Guna memenuhi kebutuhan tersebut, Bank Indonesia secara khusus memboyong modal uang tunai siap edar dalam jumlah besar.
”Oleh karena itu, di Ekspedisi Rupiah Berdaulat kali ini, kita membawa uang tukaran sebesar Rp6 miliar,” ujar Haris Munandar saat memberikan keterangan pers usai pembukaan ERB 2026 di Dermaga Mako Koderal XIII Tarakan, Selasa (14/7/26).
Haris menjelaskan dana sebesar Rp6 miliar yang dibawa dalam pelayaran ekspedisi ini terdiri dari berbagai pecahan, mulai dari nominal kecil hingga besar.
Distribusi pecahan uang ini disiapkan secara matang untuk memfasilitasi segala bentuk kebutuhan transaksi masyarakat lokal sehari-hari di wilayah tujuan.
”Rp6 miliar itu ada pecahan-pecahan kecil, pecahan yang agak besar. Nanti di samping keperluan penukaran uang lusuh atau uang robek, apabila ada kebutuhan uang yang lebih kecil misalnya untuk ke pasar atau untuk anak-anak ke sekolah, itu juga bisa dilakukan,” tambahnya.
Haris mengungkapkan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia, kondisi perputaran uang di daerah-daerah 3T menunjukkan urgensi penukaran yang cukup tinggi.
Tercatat sekitar 80% uang yang beredar di wilayah tersebut kondisinya sudah masuk dalam kategori lusuh dan sudah waktunya ditarik untuk diganti dengan uang baru yang layak edar (UTLE).
Meski sebagian uang lusuh tersebut secara hukum masih bisa digunakan sebagai alat pembayaran, Bank Indonesia memilih menjemput bola demi kenyamanan transaksi masyarakat.
ERB 2026 ini diproyeksikan untuk menyasar lima pulau tujuan strategis, antara lain Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, hingga Pulau Derawan.
Bank Indonesia berharap, dengan ketersediaan modal penukaran sebesar Rp6 miliar tersebut, proses penarikan uang lusuh dan penyediaan uang baru dapat terserap secara optimal tanpa adanya batasan yang kaku di lapangan.
”Tidak ada batasan. Sepanjang itu masih bisa tersedia, kita akan senang sekali. Kalau bisa habis, habis. Karena itu artinya optimal, apa yang kita bawa berhasil bisa tersampaikan ke masyarakat dan teman-teman di daerah,” tegas Haris.
Selain melakukan penukaran fisik uang lusuh menjadi layak edar, misi utama lain dari Ekspedisi Rupiah Berdaulat ini adalah memberikan edukasi serta literasi mengenai gerakan “Cinta, Bangga, Paham Rupiah”.
Masyarakat di wilayah perbatasan dan pulau terluar akan dibekali pemahaman cara mengenali keaslian uang rupiah melalui metode dilihat, diraba, dan diterawang guna mengantisipasi peredaran uang palsu.(*/mt)














Discussion about this post