TARAKAN, Fokusborneo.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) memberikan apresiasi tertinggi serta dukungan penuh terhadap pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Tahun 2026.
Sinergi strategis antara Bank Indonesia (BI) dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) ini, dinilai menjadi instrumen vital dalam menegakkan kedaulatan kedaulatan negara, khususnya dari aspek ekonomi di gerbang perbatasan utara NKRI.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Kaltara Zainal A Paliwang yang dalam hal ini diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Setda Provinsi Kaltara, H. Safi’i, S.T., M.A.P., saat memberikan sambutan pelepasan ekspedisi.
Keberangkatan tim ekspedisi kali ini, menggunakan kapal perang TNI AL, KRI Ajak-653.
Dalam sambutannya, H. Safi’i menegaskan misi yang diemban ERB 2026 tidak boleh dipandang sebelah mata hanya sebagai sekadar agenda teknis tahunan pemenuhan kebutuhan uang tunai.
Lebih mendalam, kehadiran mata uang Rupiah yang berkualitas tinggi dan merata di beranda depan negara merupakan cerminan langsung martabat dan kedaulatan mutlak Indonesia.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, saya menyampaikan apresiasi dan menyambut baik terselenggaranya kegiatan yang sangat strategis ini. Ekspedisi Rupiah Berdaulat bukan sekadar agenda distribusi uang Rupiah layak edar, tetapi juga merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T),” ujar H. Safi’i.
H. Safi’i menjabarkan secara terperinci amanat luhur dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, di mana Bank Indonesia diwajibkan menjamin pengelolaan uang kertas maupun logam dari tahapan perencanaan hingga penarikan dan pemusnahan di seluruh yurisdiksi nasional.
Di wilayah geostrategis seperti Kaltara yang berbatasan langsung secara darat maupun laut dengan negara tetangga, keberadaan Rupiah memegang urgensi ganda.
Sebagai benteng pertahanan sekaligus hub ekonomi lintas batas, penggunaan mata uang nasional menjadi wajib tanpa kompromi demi mencegah terjadinya infiltrasi mata uang asing dalam transaksi sehari-hari masyarakat lokal.
”Rupiah bukan sekadar alat transaksi ekonomi, melainkan simbol persatuan, identitas, serta marwah kebangsaan kita semua. Menjaga eksistensinya sama dengan menjaga harga diri bangsa di hadapan dunia internasional,” tegas Asisten II tersebut.
Agenda kolaboratif akbar yang dijadwalkan berlangsung selama sepekan penuh, mulai tanggal 14 hingga 20 Juli 2026 ini, ditargetkan menyambangi lima titik kepulauan perbatasan di wilayah Kaltara.
Kelima destinasi tersebut meliputi Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan berakhir di Pulau Derawan.
H. Safi’i mewakili Pemprov Kaltara berharap pengawalan ketat dan ketangguhan personel TNI AL sipil beserta bankir Bank Indonesia di atas dek KRI Ajak-653 dapat menuntaskan misi kemanusiaan dan kedaulatan ini tanpa hambatan operasional.
”Semoga pelaksanaan ekspedisi mulia ini berjalan aman, lancar, dan sukses, memberikan manfaat berkelanjutan bagi ketahanan ekonomi masyarakat di Bumi Paguntaka,” pungkasnya.(*/mt)













Discussion about this post