TARAKAN, Fokusborneo.com – Di era modern saat ini, dompet tebal tak lagi jadi jaminan kelancaran bertransaksi. Pemandangan warga yang cukup mengarahkan ponsel pintar ke selembar kode QR saat membeli jajanan pasar, es cendol, hingga belanjaan dapur kini semakin akrab di mata kita.
Fenomena ini membuktikan bahwa budaya transaksi tanpa uang tunai (non-tunai) di Kalimantan Utara (Kaltara) bukan lagi sekadar gaya hidup warga perkotaan, melainkan sudah menjelma menjadi kebutuhan harian masyarakat luas.
Melalui akselerasi peran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang terus meluas hingga ke daerah perbatasan dan pedesaan, Kaltara tengah memperlihatkan lompatan digital yang inklusif, di mana kemudahan teknologi kini dapat dirasakan langsung oleh semua kalangan, khususnya para pelaku usaha mikro dan kecil.
Pernahkah Anda pergi ke pasar atau warung makan, lalu saat ingin membayar ternyata lupa membawa dompet? Dulu, situasi seperti ini pasti bikin panik. Tapi sekarang, cukup mengeluarkan ponsel pintar, mengarahkan kamera ke lembaran stiker persegi, lalu “Ting!”, transaksi selesai tanpa repot mencari uang pas atau menunggu uang kembalian.
Suasana inilah yang semakin jamak kita temui di sudut-sudut kota hingga wilayah pedesaan di Kaltara. Gaya hidup bertransaksi tanpa uang tunai (non-tunai) kini bukan lagi konsumsi masyarakat kota besar semata, melainkan sudah menjadi bagian dari kebiasaan harian warga Kaltara.
Berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara hingga Triwulan I 2026, jumlah warga Kaltara yang aktif menggunakan QRIS sudah mencapai 137.513 pengguna. Angka ini melonjak dari 131.252 pengguna pada akhir tahun 2025 lalu. Artinya, hanya dalam waktu tiga bulan, ada 6.261 orang baru yang mulai beralih menggunakan QRIS.
Kenaikan sebesar 4,77% ini mempertegas bahwa masyarakat Kaltara makin nyaman dengan cara bayar yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Usaha Mikro Paling Rajin Pakai QRIS
Satu hal yang sangat menggembirakan dari perkembangan QRIS di Kaltara adalah pemanfaatannya oleh pedagang kecil. Per Maret 2026, total merchant (toko/penjual) QRIS di Kaltara telah mencapai 116.472 merchant (bertambah 3.646 toko baru sejak awal tahun).
Siapa saja mereka? Mayoritas mutlak, yaitu 77,27%, berasal dari kategori Usaha Mikro (UMI). Sementara itu, Usaha Kecil (UKE) menyumbang 19,20%, Usaha Menengah (UME) sebesar 1,67%, dan sisanya (1,85%) merupakan usaha besar serta layanan publik.
Ini membuktikan bahwa QRIS bukanlah milik toko-toko mewah atau kafe kekinian saja. Stiker QRIS kini bertengger rapi di meja pedagang es cendol, pedagang sayur keliling, gerobak bakso, hingga warung kelontong di pelosok perbatasan.
Bayangkan ada 100 pedagang di Kaltara yang menyediakan pembayaran QRIS. Dari 100 pedagang tersebut, 77 orang di antaranya adalah pedagang kecil/mikro (seperti penjual pentol, warung kelontong, pedagang pasar), 19 orang adalah pemilik toko/distributor kecil, dan hanya 4 orang yang berbentuk supermarket besar atau instansi resmi. Ini membuktikan QRIS sungguh-sungguh jadi “pahlawan” digitalisasi bagi rakyat kecil.
Peta Sebaran: Tarakan Ramai, Perbatasan Mulai Mengeliat
Jika melihat sebarannya, Kota Tarakan masih menjadi pusat utama penggunaan QRIS dengan porsi 40,56% (sekitar 47.239 merchant). Hal ini wajar mengingat Tarakan adalah pusat denyut ekonomi dan perdagangan Kaltara. Kabupaten Bulungan dan Nunukan menyusul di posisi berikutnya dengan porsi masing-masing 24,16% dan 23,98%.
Bagaimana dengan Kabupaten Malinau dan Tana Tidung? Porsi keduanya memang masih lebih kecil, yakni masing-masing 8,41% dan 2,89%. Namun, jumlah pedagang yang memasang QRIS di kedua wilayah ini terus bertambah.
Ini menandakan bahwa edukasi dan sosialisasi yang dilakukan KPwBI Kaltara bersama para pemangku kepentingan telah berhasil menjangkau hingga ke wilayah pedalaman dan perbatasan negara.
Jika seluruh pasar digital di Kaltara kita ibaratkan sebagai satu loyang kue pai besar:
• Hampir separuh kue (40%) dipotong untuk Kota Tarakan.
• Separuh sisanya dibagi rata untuk Bulungan (24%) dan Nunukan (24%).
• Piring kecil sisanya diisi oleh Malinau (8%) dan Tana Tidung (3%) yang saat ini peminatnya terus bertambah.
Perkembangan QRIS di Kalimantan Utara bukan sekadar tren gaya-gayaan. Namun bentuk nyata pergerakan ekonomi rakyat yang makin efisien. Ketika pedagang sayur di Nunukan atau Malinau bisa menerima pembayaran digital dengan mudah sama seperti toko di kota besar, di situlah letak kemajuan ekonomi yang merata dan inklusif.
Semakin banyak warga yang paham dan nyaman bertransaksi digital, semakin kuat pula ketahanan ekonomi Kaltara di masa depan.
Pada akhirnya, pesatnya adopsi QRIS di Kaltara bukan sekadar cerita tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang keadilan dan efisiensi ekonomi bagi seluruh warga.
Ketika seorang pedagang sayur di Nunukan atau Malinau memiliki kemudahan transaksi yang setara dengan minimarket di kota besar, di situlah letak inklusi keuangan yang sesungguhnya. Meskipun tantangan infrastruktur seperti kestabilan jaringan internet di wilayah perbatasan masih perlu terus dibenahi, komitmen dan kolaborasi KPwBI Kaltara bersama stakeholders terkait memberikan angin segar bagi masa depan ekonomi daerah.
Dengan terus teredukasinya masyarakat dan terhubungnya sektor usaha mikro ke dalam ekosistem digital, Kaltara tak hanya siap menghadapi era modernisasi, tetapi juga memperkokoh fondasi ekonominya dari akar rumput.
Oleh:
Dr. Ana Sriekaningsih.,S.E.,S.Th.,M.M
Direktur Politeknik Bisnis Kaltara
Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI














Discussion about this post