Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Opini · 19 Okt 2021 13:57 WITA ·

DS Vokalis Kaltara (1)


Doddy Irvan Imawan (Pai) Perbesar

Doddy Irvan Imawan (Pai)

Perawakannya sedang. Sorot matanya tajam. Nada suaranya tegas, khas orang Batak. Dia adalah Deddy Yevry Hanteru Sitorus (DS). Anggota DPR RI, Dapil Kalimantan Utara. Tak terasa sudah 2 tahun, Ia berkantor di Senayan. Bagaimana perjalanan kariernya? Siapa mentornya? Apa saja yang sudah dia kerjakan? Bagaimana Ia berjuang untuk pembangunan Kaltara? Berikut kisahnya.

Oleh: Doddy Irvan (pai)

DS memang beda. Sejak terpilih menjadi anggota DPR pemilu lalu, Ia terkenal vokal. Tak banyak, wakil rakyat yang memilih jalan heroik seperti dirinya. Mayoritas malah berjalan dikesunyian. Cendrung pasif.

Makanya jangan heran, warga Kaltara sering menyaksikan wajah DS di tv-tv nasional dalam acara talkshow. Bukan sekadar bicara Kaltara, tapi Indonesia. DS kerap diminta partainya PDIP, untuk berdebat. Bahkan, di Pilpres lalu, DS kerap tampil mewakili kubu Jokowi-Ma’ruf Amien menghadapi kubu Prabowo-Sandi.
Nah, dalam sesi debat inilah karakter aslinya keluar.

Tak jarang, lawan debatnya dibuatnya keteteran. Bukan hanya suaranya yang lantang, tapi materi bicaranya daging semua.

“Kalau sudah bicara kepentingan rakyat, kemana pun gue jabanin,” kata pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara itu.

Sikap DS ini bukan tuntutan skenario seperti dalam sinetron.Tapi terbentuk karena dia matang sebagai aktivis laingkungan di tanah leluhurnya, Sumatera Utara. Lihat saja, PT Indorayon Pulp & Paper, dia lawan. Tahun 1992 DS sudah membuat pusing Indorayon. Bersama rekan-rekannya, dia memobilisasi rakyat untuk memprotes pencemaran pabrik kertas itu.

Indorayon ini bukan perusahaan kaleng-kaleng. Perusahaan raksasa ini milik Soekanto Tanoto. Konglomerat yang dikenal dekat dengan penguasa orde baru.

“Kalau hanya diintrogasi aparat, apalagi teror, gue udah kenyang bro. Itu yang membuat gue menjadi Deddy seperti hari ini. Kebawa sampai sekarang. Gue tuh, kadang susah ngerem kalau bicara kepentingan rakyat,” tegas ayah tiga anak ini mengenang masa lalunya.

Puncaknya tahun 1997, DS memobilisasi demo besar-besaran memperotes Indorayon. Setelah merasa cukup sudah berjuang bersama rakyat Sumut, dia pindah ke Jakarta. Pergerakannya tetap berada dipusaran aktivis lingkungan. DS dekat dengan ratu lingkungan hidup Indonesia Emmy Hafid. Makanya DS tak bisa menyembunyikan kesedihannya ketika mendengar kabar mentornya itu meninggal dunia beberapa waktu lalu. DS sampai menulis obituari mengenang Emmy Hafid di akun Facebook miliknya. DS merasa begitu kehilangan. Ia menganggap pentolan Walhi itu sebagai kakak dan gurunya.

“Mbak Emmy banyak mengajarkan gue soal makna perjuangan. Mementingkan urusan rakyat dibandingkan diri sendiri,” kenangnya.
DS bukan seperti Didi Petet dalam film Kabayan Saba Kota, yang celingak-celinguk setelah sampai di ibu kota. Walau dari daerah, dia cepat beradaptasi ditengah hiruk pikuk Jakarta yang mulai memanas jelang reformasi. Lawannya pun berubah, bukan Indorayon lagi. Tapi Soeharto. Presiden Indonesia yang sudah berkuasa 32 tahun.

Pasca reformasi, DS makin aktif disejumlah LSM dan NGO Internasional. Seperti Koalisi Anti Utang (KAU), South East Council for Food Security and Fair Trade (SEACON). Asian NGO Coalition on Rural Develompment and Agrarian Reforn (ANGOC) dan beberapa organisasi lainnya.

DS ternyata tidak hanya aktif di LSM. Dia juga memperdalam ilmu di sekolah formal. Ijazah S1 yang sudah dia kantongi
dari Universitas Simalungun, dilanjautkan ke Inggris. Tahun 2006 DS menempuh S2 Political Commucation Advocacy & Campaigining, Kingston University.

Sebagai aktivis, DS termasuk paket lengkap. Berpengalaman di lapangan dan memiliki ilmu formal di bangku kuliah. Ini sudah lebih dari cukup sebagai pintu masuk ke partai politik, sebagai jenjang karier seorang aktivis.
DS memilih bergabung di PDIP. Partai wong cilik ini dekat dengan idiologi yang diyakininya. Karier politiknya lumayan moncer. Bak jalan tol. Sebagai New Kids On The Block, DS bisa menembus jajaran elite kandang banteng.

Dimulai dari menangani berbagai pilkada sebagai utusan DPP, kinerjanya dianggap luar biasa. Terutama memenangkan Pilkada pertama Kaltara. Diawal kampanye, pasangan yang diusung PDIP Irianto Lambrie-Udin Hianggio hasil surveinya masih selisih dua digit dari Jusuf SK-Marthen Billa. Sebagai jenderal lapangan DS bersama tim PDIP dan relawan melakukan strategi dor to dor. Hasilnya berbalik. Irianto-Udin Hianggio akhirnya terpilih menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur di provinsi ke 34 itu.

Tentu, seperti biasa setiap keberhasilan pasti ada reward. Nah, DS pun mendapat tugas menjadi caleg DPR RI di Dapil Kaltara. Kok Kaltara? Mengapa bukan di Sumatera Utara, kampungnya.
“Mungkin partai melihat jejak gue di Kaltara bagus. Dan peluang menangnya besar,” kilahnya.
Ternyata benar. DS merebut satu kursi di dapil Kaltara. Bahkan meraih suara terbesar. Pujian mengalir. DS bak kuda hitam ditengah hutan belantara yang sedang berjingkrak. Tapi tak sedikit pula yang mencibirnya. Apalagi, dia satu-satunya caleg –mungkin di Indonesia– yang kampanye pakai helikopter.

“Rezeki anak soleh. Lagi susah eh… Ada aja yang minjamin heli,” katanya berseloroh.
Tidak terasa, Oktober ini sudah memasuki tahun ketiga kiprahnya di Komisi 6 DPR RI. Bagaimana kinerjanya di Senayan? Apa saja yang sudah Ia perjuangkan? Dan langkah politik apa yang tengah Ia siapkan? (pai/bersambung)

Artikel ini telah dibaca 85 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tidak Semua Bisa Dibeli Dengan Uang

28 November 2021 - 11:27 WITA

dr Jusuf SK & Udin Hianggio (1)

13 November 2021 - 17:12 WITA

JSK Sang Revolusioner

12 November 2021 - 14:24 WITA

WhatsApp DS

25 Oktober 2021 - 09:30 WITA

PhD (3)

22 Oktober 2021 - 09:28 WITA

PhD (2)

21 Oktober 2021 - 09:03 WITA

Trending di Opini