Menu

Mode Gelap
Capaian WTP Harus Berkorelasi dengan Pembangunan Daerah Gubernur Bantu Pembangunan Masjid Al Ikhlas Polairud Polda Kaltara Gubernur Santuni Pemilik Taman Pendidikan Alquran (TPA) Pantai Amal yang Terbakar Percepat Herd Immunity, Kodim Tarakan Gelar Serbuan Vaksin Untuk Pelajar Sinergikan Pemerintah Pusat dan Daerah, Pemprov Gelar Rakor GWPP

Opini · 25 Okt 2021 09:30 WITA ·

WhatsApp DS


Penulis : Doddy Irvan (Pai) Perbesar

Penulis : Doddy Irvan (Pai)

Di seri 3, kisah Deddy Yevry Hanteru Sitorus (DS), hanya sedikit cerita tentang kuliahnya di Inggris. Lantas aktivitasnya setelah pulang ke Indonesia. Anggota DPR RI itu ingin bercerita, perjuangannya cukup berat dan berdarah-darah.

Oleh: Doddy Irvan (pai)

Setelah membaca PhD 3, DS mengirim WA ke saya. Isinya panjang sekali. Saya pikir DS tersinggung dengan tulisan itu. Atau dia marah –ke teman saya– karena menuduhnya, kalau Ia bisa kuliah S2 Political Commucation Advocacy & Campaigining, Kingston University, karena diongkosi orang tajir.

Ternyata tidak. Pria kelahiran Simalungun, Sumatera Utara itu, berdarah-darah untuk memperoleh beasiswa agar bisa kuliah di negeri Ratu Elizabeth.

Begini saja. Saya akan turunkan utuh isi WA DS. Agar Anda bisa membacanya sendiri:

Ha ha ha, gue mendapat beasiswa Chevening Scholarship dari Kementerian Luar Negeri Inggris. Dari hampir 7000 pendaftar yang diterima hanya 38 orang. Itu beasiswa yang sangat bonafide, setara dengan beasiswa AMINEF dari Amerika.

Ini linknya: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Chevening_Scholarship

Yang dapat beasiswa itu orang-orang terbaik dari seluruh penjuru dunia. Termasuk di Indonesia.

Waktu itu gue dan istri (Suriyani) dapat beasiswa (ke Inggris). Tapi akhirnya hanya gue yang berangkat. Karena istri sedang hamil. Akhirnya istri ambil gelar MBA dari UGM, setelah gue pulang ke Indonesia

Bolehlah kau tulis itu. Bahwa selama kuliah di Inggris gue juga nyambi bekerja di kantor Parlemen Menteri Perumahan Inggris, Yvette Cooper, MP.

Keterampilan debat gue belajar dari mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Setiap hari jumat gue selalu menyaksikan langsung di Webminister sesi debat PM Inggris dengan Parlemen. Acaranya PM’s Question Time. Itu kewajiban PM menghadap parlemen dan ditanyai anggota dewan Inggris.

Dia selalu berdebat dengan logika yang tajam dan berbekal data yang dicatat dalam bukunya yang sangat besar. Itu yg mengilhami gue dalam debat-debat di TV. Selalu tajam dan berbasis data.

Gue juga jadi asisten Professor. Brian Bivatti, think tank Partai Buruh Inggris. Seorang aktivis HAM dan ahli mediasi konflik.

Pembimbing gue itu namanya Alastair Campbell, Spin Doctor Tony Blair yang sangat terkenal.

Selama kuliah gue juga sering dapat kerjaan sampingan sebagai pemantau pemilu PBB untuk Afrika. Bersama beberapa mantan Perdana Menteri seperti mantan PM Kanada, Selandia Baru dll.

(DS harusnya melanjutkan program Doktoral di London tapi memilih pulang ke Indonesia) Program beasiswa Doktor juga gue tinggalkan. Karena gue kangen bakso dan anak-anak gue. Ditambah lagi mau masuk pemilu 2009 dan gue ingin terlibat. Sebab gue ambil master komunikasi politik dan kampanye.

Lu mau tau, begitu sampai di Indonesia, gue langsung ke tempat bakso langganan: Bakso Bang Kardi.

(Pulang ke Indonesia) Gue sudah bekerja di berbagai lembaga Internasional sebelum terjun ke politik. Seperti NDI, merupakan LSM Amerika yang mengajari orang Indonesia cara memantau pemilu, survey/polling politik, quick count atau hitung cepat setelah Soeharto tumbang.

Gue kenyang pengalaman Internasional. Dari gerakan lingkungan, masyarakat adat, perdagangan Internasional.

Terakhir, gue bekerja di UNDP yang melakukan berbagai pendidikan politik pemilu (voters education), pendidikan dan pelatihan aktivis partai politik, dll.

Setelah keluar dari UNDP, gue membuka perusahaan konsultan. Klien gue kebanyakan BUMN besar dan perusahaan multinasional. Jasa yang gue berikan itu project develompent, business consultation, lobby, feasibility studies, dll.

Gue juga bekerja untuk perusahaan lobby internasional dari Amerika (NHS) dan Inggris (Exclusive Analysis).

Baru berhenti setelah gue jadi anggota DPR. Gajinya Dollar dan Pounsterling bro. Banyak intelektual, mantan Dirjen dan beberapa mantan menteri yang bekerja bersama gue sebagai konsultan.

Lalu gue jadi Staf Khusus Menteri BUMN (Rini Soemarno) dan jadi Komisaris di 3 BUMN besar. Waskita Karya, Pelindo 3 dan Holding Perkebunan Nusantara/PTPN III. Semua itu gue tinggalkan karena ditugaskan jadi caleg di Kaltara.

Gaji bulanan gue mencapai 400 juta Rupiah. Semuanya gue korbankan ketika disuruh jadi caleg. Juga kontrak gue dengan NHS dan Exclusive Analysis. Jadi gue itu membuang duit karena jadi anggota DPR. Bukan nyari duit.

Makanya 2009 gue keluar dari UNDP dan bikin perusahaan konsultan (politik) lalu masuk tim sukses Mega-Prabowo.

Itu isi WA DS. Cukup panjang. Mungkin sudah lama Ia pendam. Dia hanya ingin membagi cerita, yang khalayak Kaltara belum banyak mengetahuinya. Tak mungkin kisah ini dia umbar untuk sekadar menyombongkan diri. DS “terpaksa” cerita, ketika ada orang meragukan kualitasnya.

Lama DS dicitrakan, sebatas “petugas partai” karbitan yang “disusupkan” PDIP ke Kaltara.

Ternyata sebagai politisi, DS cukup berkualitas. Kaltara harusnya beruntung, dia bisa diandalkan menjadi ujung tombak pembangunan Kaltara.

Jalan hidupnya, bisa menjadi contoh. Bagaimana orang yang tumbuh dari keluarga sederhana, dapat berkiprah di level nasional dan Internasional. (pai)

Artikel ini telah dibaca 72 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tidak Semua Bisa Dibeli Dengan Uang

28 November 2021 - 11:27 WITA

dr Jusuf SK & Udin Hianggio (1)

13 November 2021 - 17:12 WITA

JSK Sang Revolusioner

12 November 2021 - 14:24 WITA

PhD (3)

22 Oktober 2021 - 09:28 WITA

PhD (2)

21 Oktober 2021 - 09:03 WITA

DS Vokalis Kaltara (1)

19 Oktober 2021 - 13:57 WITA

Trending di Opini